SEMARANG – DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menggelar Silaturahim Kebangsaan Jilid V di Hotel Santika, Semarang, Sabtu (26/7). Hal ini sebagai langkah memperkuat harmoni sosial di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
Dengan mengangkat tema “Memperkuat Toleransi Inter dan Antar Umat Beragama untuk Mewujudkan Masyarakat Harmonis di Jawa Tengah”. Sebagai komitmen nyata dalam menjaga kebhinekaan dan persatuan bangsa.
Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Singgih Tri Sulistiyono, mengatakan pentingnya silaturahmi sebagai pilar kebangsaan. Forum ini sebagai bentuk ikhtiar kolektif merawat keberagaman Indonesia agar tidak berubah menjadi belantara konflik.
“Kemajemukan bukan beban, melainkan tanggung jawab bersama. Ia harus dijaga dengan empati dan ketulusan,” ungkapnya.
Dia mencontohkan bahwa keberagaman itu ibarat taman, bila dibiarkan maka akan menjadi hutan belantara yang liar.
“Maka dari itu, perlu dirawat, dijaga, dipagari agar indah,” ujarnya.
Untuk konsep silaturohim perlu dikembangkan dengan kesadaran kolektif.
“Kemajemukan itu bukan beban tapi tanggung jawab bersama yang harus dilakukan dengan empati dan ketulusan untuk kesediaan hidup bersama dalam perbedaan,” jelasnya.
Tahun ini, forum silaturahmi kebangsaan diikuti oleh 2.319 peserta, tersebar di 65 studio mini di kabupaten/kota se-Jawa Tengah, dengan 70 orang hadir langsung di studio utama.
Ketua DPP LDII, KH. Ir. Chriswanto Santoso, menambahkan bahwa isu kebangsaan harus terus menjadi perhatian utama. Dengan menyinggung tantangan zaman mulai dari isu global hingga penetrasi teknologi AI, ia menekankan bahwa program penguatan wawasan kebangsaan adalah prioritas utama LDII dari delapan program prioritas strategis lainnya.
“Program kebangsaan menempati posisi utama. Tiga poin penting dalam program tersebut adalah menumbuhkan cinta tanah air, memperkuat wawasan kebangsaan, serta mempererat persatuan bangsa,” kata dia.
Ia juga menegaskan bahwa Pancasila adalah anugerah yang mampu merangkai kemajemukan Indonesia secara harmonis.
Dalam konteks ini, sila ketiga menjadi bingkai utama dalam memperkuat persatuan. Sila pertama menjadi landasan, sila kedua dan keempat sebagai sebuah cara untuk mencapai tujuan, serta sila kelima sebagai tujuan akhir berupa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
