Site icon Lensa Semarang

Cerita Bilqis Adlina Bisa Hafalkan 30 Juz Alquran Dalam Waktu 18 Bulan

SEMARANG – Quaneisha Bilqis Adlina, santriwati sekaligus siswi kelas 12 Madrasah Aliyah (MA) Al Burhan Hidayatullah Semarang tengah merasakan bahagia. Bagaimana tidak, perjuangan selama 18 bulan untuk bisa menghafalkan 30 Juzz Alquran akhirnya tercapai.

Ia mengaku tidak mudah untuk bisa menjadi hafidzah Alquran 30 Juzz karena rintangannya yang sangat luar biasa. Bilqis mengaku sempat mengalami rasa lelah hingga muncul keinginan untuk menyerah akibat tekanan selama proses menghafal.

“Selama proses menghafal saya pernah beberapa kali merasa putus asa dan ingin menyerah karena tekanan yang cukup berat. Tapi saya selalu mengingat motivasi dari guru, ustaz, ustazah, serta doa kedua orang tua yang membuat saya kembali semangat,” kata dia.

Bilqis juga membagikan kiat dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Menurutnya, hal terpenting adalah meluruskan niat dan memilih waktu yang tepat untuk menghafal.

“Hafalan harus benar-benar diniatkan karena Allah SWT, bukan karena urusan dunia atau pujian manusia. Kalau saya biasanya menghafal pukul 02.30 malam, setelah salat Isya, dan setelah Subuh karena waktu itu menurut saya paling nyaman,” jelasnya.

Di tengah kebiasaan sebagian anak muda yang banyak menghabiskan waktu dengan gawai, Bilqis memilih tetap menjaga hafalannya. Ia mengaku pernah ingin merasakan kebebasan seperti teman-temannya, namun kembali mengingat tanggung jawab sebagai penghafal Al-Qur’an.

“Tapi saya kembali ingat bahwa tanggung jawab saya lebih besar, yaitu menjaga hafalan ini sampai akhir hayat,” ungkapnya.

Perempuan yang akrab disapa Bilqis itu menjadi salah satu dari 30 santri yang mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz dalam sekali duduk melalui metode Tasmi’ Al-Qur’an.

Tasmi’ Al-Qur’an merupakan kegiatan memperdengarkan hafalan Al-Qur’an yang telah dimiliki santri di hadapan ustazah dan santri lainnya untuk disimak serta dikoreksi apabila ditemukan kesalahan dalam bacaan.

Bilqis bersama para santri lainnya menampilkan hafalan Al-Qur’an dalam acara Wisuda Akbar Tahfizh dan Tasmi’ Angkatan V MTs/MA Al Burhan Hidayatullah yang digelar di Aula Balai Diklat Keagamaan Semarang, Sabtu (20/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, para santri duduk berjajar dan secara bergantian mentasmi’kan hafalan satu juz Al-Qur’an. Para ustazah dan santri lainnya menyimak bacaan mereka untuk memastikan kelancaran serta ketepatan hafalan.

Bilqis mengungkapkan, dirinya mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga jenjang Madrasah Aliyah (MA) di Al Burhan Hidayatullah.

“Alhamdulillah selama enam tahun saya menuntut ilmu di Al Burhan memberikan banyak sekali manfaat untuk kehidupan saya. Untuk menyelesaikan hafalan beserta setorannya kurang lebih membutuhkan waktu satu setengah tahun,” jelasnya.

Bagi Bilqis, menjadi seorang hafizah bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia memiliki tujuan utama untuk meraih ridha Allah SWT serta memberikan kebahagiaan dan hadiah istimewa bagi kedua orang tuanya kelak.

Sebelumnya, Bilqis sempat mencoba sejumlah jalur masuk perguruan tinggi, termasuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Bibit Unggul Berprestasi (SBUB) Universitas Diponegoro (Undip), namun belum berhasil.

Atas dorongan kedua orang tuanya, ia kemudian mencoba mendaftar di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) hingga akhirnya diterima melalui jalur beasiswa penuh.

“Kedua orang tua saya menyarankan untuk mendaftar di Unimus. Alhamdulillah saya diterima dengan full beasiswa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala MA Al Burhan Hidayatullah Semarang, Eko Zainuri, menyampaikan bahwa Bilqis merupakan salah satu santri yang memiliki ketekunan tinggi dalam mempelajari ilmu agama, khususnya hafalan Al-Qur’an.

Ia menjelaskan, Al Burhan memiliki program Takhasus Al-Qur’an dan program reguler. Program Takhasus diperuntukkan bagi santri yang fokus mendalami tahfidz Al-Qur’an.

“Bilqis ini termasuk anak yang luar biasa. Di kita ada program Takhasus Al-Qur’an dan reguler. Yang takhasus memang anak-anak yang fokus pembelajarannya di tahfidzul Qur’an. Alhamdulillah banyak santri yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi melalui jalur tahfidz 30 juz,” kata Eko Zaenuri.

Konsep pendidikan di Al Burhan Hidayatullah mengedepankan kedisiplinan serta keterpaduan antara sistem madrasah dan pesantren. Para santri tidak hanya mendapatkan pembinaan hafalan saat jam sekolah, tetapi juga menjalani program terintegrasi sejak pagi hingga malam hari.

“Semua itu di bawah bimbingan pengasuh pesantren, Ustazah Rumayyah,” ujarnya.

Seluruh aktivitas santri telah tersusun dalam rutinitas harian, mulai dari kegiatan belajar, menghafal Al-Qur’an, hingga pembinaan di lingkungan pesantren. Bahkan waktu libur tetap dimanfaatkan untuk menjaga konsistensi hafalan.

“Program unggulan kami adalah Tasmi’. Sekali duduk ada yang bisa 5 juz, 10 juz, 15 juz, bahkan ada yang 30 juz sekali duduk. Ini menjadi program unggulan di pesantren kami, Al Burhan Hidayatullah Semarang,” katanya.

Sejumlah lulusan program tahfidz tersebut diketahui melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Mayoritas santri melanjutkan studi ke Universitas Diponegoro (Undip), selain melalui kerja sama dengan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).

Tidak hanya di Semarang, para alumni juga tersebar di berbagai perguruan tinggi favorit di luar daerah. Bahkan, beberapa santri berhasil melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar Mesir melalui jalur khusus penghafal Al-Qur’an 30 juz.

Exit mobile version