Site icon Lensa Semarang

Jelang Tahun Politik 2024, Ganjar Banyak Perbedaan Perlu Sikap Toleransi

Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menjelang tahun politik, situasi akan hangat bila banyak perbedaan namun bukan untuk disamakan, yang bisa adalah dipersatukan. Dalam Pemilu kunci untuk mendinginkan adalah butuh sikap toleransi masyarakat.

“Pelangi itu indah karena warnanya banyak dan berbeda-berbeda. Namun kalau hanya satu warna itu tidak menarik. Jadi kalau ada perbedaan dalam pesta politik adalah ujian yang harus dihadapi. Jika bisa melewati ujian tersebut merupakan penghormatan tertinggi untuk masyarakat,” kata Ganjar Pranowo dalam acara Silaturahim Kebangsaan Jilid III yang diinsiasi oleh DPW LDII Jawa Tengah, Minggu (30/7).

Dalam sambutannya menyatakan pentingnya silaturahim dalam membangun bangsa. Para pendiri bangsa, termasuk para tokoh politisi, ulama, dan tokoh masyarakat dari berbagai profesi, menyatukan langkah dalam membangun Indonesia yang sejahtera dan maju.

“Sehingga masyarakat menginginkan Indonesia yang sejahtera, toleransi, saling menghargai, hak asasi dan bonus demografi Indonesia 2045,” ungkapnya.

Sikap toleransi, saling menghargai, dan menghormati hak asasi manusia adalah nilai-nilai dasar yang terus ditekankan dalam rangka mencapai cita-cita bersama.

“Kita ada bonus demografi pada tahun 2045 menjadi target yang diharapkan dapat tercapai melalui upaya bersama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” tuturnya.

Dalam visi Indonesia Emas 2045, anak-anak Indonesia yang akan menjadi generasi pemimpin di masa mendatang perlu disiapkan dengan baik. “Persiapan tersebut mencakup dua aspek penting, yaitu pendidikan yang layak dan ruang untuk diskusi serta berdialog,” jelasnya.

Butuh ruang untuk diskusi dan berdialog juga menjadi hal yang tak kalah penting. Melalui dialog dan kolaborasi, generasi muda dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, menghargai perbedaan pendapat, dan mencari solusi terbaik dalam menghadapi berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa.

“Ruang untuk berdialog juga menjadi sarana bagi mereka untuk berbagi gagasan, mendengarkan berbagai sudut pandang, dan memahami kompleksitas isu-isu yang dihadapi,” pungkasnya.

Exit mobile version