SEMARANG – Program bantuan umrah dan perjalanan religi yang diberikan Pemerintah Kota Semarang kepada sejumlah elemen masyarakat mendapat apresiasi dari Susilo selaku Ketua Umum DPP RPK-RI (Rakyat Pemberantas Korupsi Republik Indonesia), kepada awak media Sabtu 3 Oktober 2026.
Susilo menilai program tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat sekaligus penghargaan kepada mereka yang selama ini berperan dalam pelayanan sosial dan kehidupan keagamaan di Kota Semarang.
Menurutnya, program perjalanan religi tidak hanya menjadi bantuan dalam bentuk fasilitas perjalanan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap para marbot, tokoh agama, pengurus tempat ibadah, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), awak media, serta pelayan masyarakat lainnya.
“Kesempatan menunaikan ibadah umrah dan perjalanan religi ini merupakan bentuk penghargaan yang tinggi bagi umat beragama di Kota Semarang. Program seperti ini patut diapresiasi,” kata Susilo, Sabtu 3 Oktober 2026.
Ia mengatakan, dari sisi pelaksanaan, dirinya melihat adanya proses administrasi yang dilakukan secara tertib, termasuk dalam penyaluran bantuan hingga kepada pihak biro perjalanan umrah.
“Yang saya lihat, prosedur administrasi bantuan hingga kepada pihak biro umrah cukup transparan dan dilakukan melalui mekanisme yang tertib,” ujarnya.
Susilo juga menyoroti respons para penerima manfaat, khususnya para marbot yang mendapat kesempatan menjalankan ibadah ke Tanah Suci.
Menurut dia, sejumlah penerima manfaat terlihat bahagia dan terharu ketika mendapatkan kesempatan tersebut.
“Banyak wajah para marbot yang terlihat begitu bahagia dan terharu karena bisa mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci,” katanya.
Susilo menjelaskan, program perjalanan religi tersebut diberikan kepada masyarakat dari sejumlah latar belakang agama. Peserta Muslim mendapat kesempatan menjalankan ibadah umrah ke Makkah dan Madinah, sementara peserta Kristen dan Katolik mengikuti perjalanan religi ke Turki. Adapun peserta Hindu dan Buddha mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan religi ke India.
Ia menilai, pola tersebut menunjukkan bahwa program wisata religi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat penghormatan terhadap kehidupan beragama dan kerukunan masyarakat di Kota Semarang.
“Semangatnya bukan hanya soal perjalanan wisata religi, tetapi juga bagaimana pemerintah memberikan ruang penghargaan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang agama,” tuturnya.
Terkait adanya kritik mengenai penggunaan anggaran untuk program tersebut, Susilo mengatakan para penerima manfaat telah mengikuti mekanisme administrasi yang ditetapkan.
“Kalau ada kritik yang mempertanyakan anggaran, mungkin tidak harus Pemkot yang menjelaskan semuanya. Kami di sini sebagai penerima manfaat mengikuti mekanisme administrasi yang tertib dan akuntabel,” katanya.
Susilo berharap penggunaan anggaran pemerintah daerah ke depan semakin banyak diarahkan pada program yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Saya lebih menyukai apabila anggaran APBD Pemkot Semarang dalam penggunaannya, sebagian besar diarahkan untuk program-program yang langsung menyentuh masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai, program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk kehadiran pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Susilo berharap program yang melibatkan masyarakat lintas agama tersebut dapat terus mendorong persatuan, mempererat hubungan antarumat beragama, serta menjaga suasana Kota Semarang tetap aman dan kondusif.**