Home Blog Page 33

MilkLife Soccer Challenge Semarang, SDN Klepu 03 Hattrick Juara KU-10, SDN Sendangmulyo 04 Naik Podium KU-12

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pada laga pamungkas MilkLife Soccer Challenge Semarang Seri 1 2025 – 2026yang berlangsung di Stadion Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang Jawa Tengah, Minggu (10/8/2025), di kelompok umur (KU) 10 SDN Klepu 03 mampu mencetak hattrick juara usai menekuk SD Nasima dengan skor 4-0, sedangkan (KU) 12, SDN Sendangmulyo 04 akhirnya naik podium setelah mampu tampil impresif dan mengalahkan SDN Karangsono 2 Mranggen.

Tim SDN Sendangmulyo 04 yang komandoi oleh Kaisa Fatikha Ar-ridho langsung membangun serangan yang agresif di zona berbahaya tim SDN Karangsono 2 Mranggen sejak kickoff babak pertama.

SDN Sendangmulyo 04 berhasil memecahkan skor di menit ke-8 berkat bola yang diassist Alice Vinorea Putri mampu dieksekusi sempurna oleh Janeeta Alodya dengan kaki kanan. 

Satu menit kemudian, Alice menambah keunggulan lewat sepakan manis yang melewati celah penjagaan tim SD Karangsono 2 Mranggen.

Unggul dua poin tak membuat penggawa SDN Sendangmulyo 04 terlena. Mereka terus mencoba membobol pertahanan Soraya Alfi Anggraini dkk. Di akhir babak pertama Janeeta mencetak brace usai menggiring bola dengan mulus melewati penjagaan di zona bahaya SDN Karangsono 2 Mranggen.

Tanpa ragu, Janeeta menceploskan bola ke sisi kiri gawang tanpa bisa ditepis kiper Aurellya Septa Rayana. Kedudukan 3-0 menutup babak pertama.

Memasuki 15 menit kedua, tim SDN Sendangmulyo 04 tak mengendurkan intensitas serangan dengan terus membuat peluang. Sayangnya di awal babak kedua, peluang-peluang tersebut belum bisa dikonversi menjadi gol.

Seperti di menit ke-17, Queennara Anashadiva gagal melakukan direct shooting ke gawang lawan lantaran terpeleset. Begitu pula dengan kesempatan freekick yang ditendang Janeeta di menit 20 belum bisa mencapai kotak terlarang.

Kebuntuan kembali terpecah berkat kerjasama apik trio striker Queennara-Janeeta-Alice yang mengelabui penjagaan dengan bola-bola pendek. Tiga gol tambahan di menit ke-22, menit ke-23 dan menit ke-28 mempertebal keunggulan tim SDN Sendangmulyo 04 hingga akhir babak kedua dengan skor 6-0.

“Aku senang sekali hari ini tim kami kompak, ada chemistry trio striker tadi di depan gawang. Jadi kami bertiga bisa cetak gol semua. Pertahanan juga bagus membantu kita untuk menyerang jadi kita bisa merebut gelar juara lagi. Terima kasih teman-teman atas kerja keras pada seri 1 ini,” kata Janeeta yang juga meraih gelar Top Scorer KU 12 dengan total 21 gol.

Sebelumnya, pada MilkLife Soccer Challenge Semarang 2025 yang berlangsung pada bulan Februari lalu, tim asuhan Ananda Ginanjar Bagasworo tersebut hanya mampu meraih posisi runner up. Alhasil keberhasilan mereka menjuarai MilkLife Soccer Challenge Semarang Seri 1 2025 – 2026 menjadi kebanggaan dan pemantik motivasi untuk terus berprestasi.

“Pertandingan final hari ini sangat luar biasa, apalagi dari fase grup mereka konsisten dengan semangat juangnya, cetak gol juga banyak. Itu rezeki para siswi bisa juara pada seri 1 ini. Kita ikut empat kali MilkLife Soccer Challenge tentu mereka berproses ditambah dengan latihan di SSB. Rutin latihan dan kompak jadi kunci comeback kami,” ucap Coach Bagas, sapaan akrabnya.

Sementara itu, di partai pamungkas KU 10, penggawa SDN Klepu 03 tampil percaya diri menghadapi SD Nasima. Sejak wasit Heri Sulistyo meniup peluit kickoff babak pertama Shakila Azalia Ardani dan kawan-kawan langsung melakukan penetrasi serangan ke wilayah pertahanan SD Nasima.

Kegigihan SDN Klepu 03 menjebol pertahanan lawan membuahkan hasil usai memanfaatkan kelengahan kiper SD Nasima Afiqah Nabila Shafiyya Rahman di menit ke-5.

Sepakan kaki kanan Shakila sukses membuat bola bersarang di gawang lawan. Unggul 1-0 membakar semangat SDN Klepu 03 untuk mempertebal keunggulan. Di akhir babak pertama, Shakila mencetak brace lewat skema tendangan bebas yang membuat papan skor berubah 2-0.

Usai turun minum, tim asuhan Althariq Bagus Istianto semakin agresif melancarkan serangan. Dominasi permainan yang ditampilkan SDN Klepu 03 hingga akhir babak kedua, mampu menambah dua pundi gol lagi lewat sepakan Shakila. SDN Klepu 03 memastikan kemenangan ketiga mereka dengan skor akhir 4-0.

“Kemenangan ini layak mereka dapatkan berkat hasil kerja keras dan latihan rutin. Tentu gelar juara ini tidak membuat kami terlena, tim kami akan terus berlatih memperbaiki diri hingga menjadi yang terbaik,” kata Coach Althariq.

Berikut daftar pemenang MilkLife Soccer Challenge Semarang Seri 1 2025 – 2026:

Kategori Usia 10

Champion : SDN Klepu 03

Runner-up : SD Nasima

Semifinalis : SDN Wonotingal dan MIN Kota Semarang

Top Scorer : Shakila Azalia Ardani – SDN Klepu 03 (37 gol)

Best Player : Asancaya Jasmine – SD Nasima

Best Goalkeeper : Wisma Mandhe Hita – SDN Klepu 03

Fairplay Team : SDN Kembangarum 2 Semarang

Kategori Usia 12

Champion : SDN Sendangmulyo 04

Runner-up : SDN Karangsono 2 Mranggen

Semifinalis : SDN Klepu 03 dan SDN Wonotingal

Top Scorer : Janeeta Alodya – SDN Sendangmulyo 04 (21 gol)

Best Player : Erlinda Julita Ragil Pratiwi – SDN Klepu 03

Best Goalkeeper : Khanza Mutia Nindyanti – SDN Wonotingal

Fairplay Team : SDN Karangayu 02

Fenomena S-Line, Konstruksi Seksualitas, dan Budaya Pop Korea di Media Sosial

Ditulis oleh Mahasiswa DIK Universitas Sahid, Edi Nurwahyu Julianto

Fenomena S-Line setelah muncul drama Korea terbaru garapan Ahn Joo Young berjudul S Line yang viral di media sosial. Kisah drama ini istilah S-Line bukan merujuk pada lekuk tubuh ideal, tapi menceritakan tentang garis merah misterius yang muncul di atas kepala orang-orang.

Garis merah itu menghubungkan penanda bahwa orang-orang yang pernah melakukan hubungan intim. Konsep ini semakin unik karena garis merah tersebut terhubung dengan pasangan yang pernah melakukan hubungan badan.

Sejak episode perdana, drama ini memantik rasa penasaran publik. Klip pendek, potongan adegan, hingga parodi drama ini membanjiri TikTok, Instagram Reels, dan Twitter/X. Dalam hitungan minggu, istilah S-Line menjelma menjadi simbol baru dalam diskusi seksualitas, baik di ranah hiburan maupun ruang publik digital.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kepopuleran S-Line terjadi di tengah meningkatnya dominasi budaya pop Korea (Hallyu) di dunia global. Menurut Korea Foundation (2024), jumlah penonton konten drama Korea di seluruh dunia meningkat lebih dari 20% dibanding tahun sebelumnya, dengan 70% di antaranya menonton melalui platform streaming dan media sosial.

Karakteristik K-drama yang memadukan fantasi, kisah emosional, dan simbol unik menjadi alasan mengapa konten semacam ini cepat viral. Dalam kasus S Line, simbol “garis merah” menjadi daya tarik visual sekaligus metafora yang kuat, sehingga mudah diadaptasi menjadi tren digital.

Namun, fenomena ini juga mengundang perdebatan: apakah popularitas S-Line mencerminkan kemajuan pembicaraan publik tentang seksualitas, atau justru menciptakan bentuk baru dari stereotip dan stigma? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihatnya melalui Teori Konstruksi Sosial atas Realitas dari Berger & Luckmann.

Teori ini menjelaskan bahwa apa yang kita anggap sebagai “realitas” adalah hasil kesepakatan sosial yang dibentuk melalui bahasa, interaksi, dan media. Konsep S-Line jelas merupakan realitas yang “diciptakan” oleh media hiburan, lalu diobjektifikasi dan diinternalisasi oleh publik melalui interaksi di media sosial.

Dalam konteks fenomena ini, eksternalisasi seorang penulis naskah dan sutradara yang memperkenalkan ide garis merah sebagai metafora hubungan intim. Melalui drama televisi, ide tersebut diekspresikan secara visual, lengkap dengan narasi emosional yang membuatnya terasa masuk akal di dunia cerita.

“Objektivasi terjadi ketika jutaan penonton menerima ide ini sebagai bagian dari pengalaman menonton mereka, bahkan memperluasnya ke ruang digital melalui meme, video pendek, atau filter “garis merah” di aplikasi media sosial,” kata dia

Akhirnya, internalisasi terjadi ketika masyarakat mulai menggunakan istilah S-Line dalam percakapan sehari-hari, baik dengan konteks humor maupun sebagai simbol penilaian terhadap hubungan seseorang.

Media sosial berperan besar dalam mempercepat proses konstruksi ini. Algoritma TikTok dan Instagram dirancang untuk mengangkat konten yang memicu keterlibatan emosional. Tren S-Line memenuhi semua syarat itu: visual yang mencolok, narasi kontroversial, serta potensi humor yang luas. Menurut laporan DataReportal (2025), 70% konten yang trending di TikTok bulan Mei–Juni 2025 berasal dari adaptasi budaya populer Asia, dan drama Korea menduduki peringkat teratas.

Tren ini membuktikan bahwa media sosial bukan hanya kanal distribusi hiburan, tetapi juga ruang di mana realitas sosial—termasuk pandangan tentang seksualitas—dibentuk dan dinegosiasikan.

Bahasa dan simbol menjadi kunci dalam fenomena ini. Garis merah di atas kepala bukan sekadar efek visual, tetapi sebuah simbol komunikasi yang mudah diinterpretasikan: semakin banyak garis, semakin banyak pengalaman intim seseorang. Di media sosial, bahasa visual seperti ini dengan cepat menjadi “kode sosial” baru.

Bahkan banyak kreator konten menggunakan efek garis merah untuk bercanda tentang kehidupan percintaan mereka, atau bahan sindiran terhadap selebritas dan figur publik. Dalam pandangan Berger & Luckmann, ini adalah bentuk institusionalisasi makna, di mana simbol fiksi dari sebuah drama berubah menjadi bagian dari percakapan publik yang nyata.

“Dampak fenomena ini cukup kompleks. Dari sisi positif, S-Line membuka ruang diskusi tentang seksualitas yang selama ini dianggap tabu, terutama di masyarakat Asia yang cenderung konservatif,” ungkapnya.

Fenomena ini memungkinkan orang untuk berbicara tentang hubungan intim dengan cara yang ringan, kreatif, dan humoris. Bahkan pengguna media sosial, khususnya generasi Z, melihat tren ini sebagai bagian dari ekspresi kebebasan berekspresi dan keterbukaan dalam membicarakan hal-hal yang dulunya dianggap memalukan.

Di sisi lain, ada juga dampak negatif. S-Line bisa menjadi alat untuk menghakimi atau merendahkan orang lain. Misalnya, komentar-komentar bernada “slut-shaming” muncul di kolom komentar video yang menggunakan filter ini, seakan-akan jumlah garis merah menjadi indikator moralitas seseorang.

Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi sosial tentang seksualitas yang muncul dari budaya pop bisa memiliki efek samping berupa normalisasi stigma baru.

Beberapa pakar komunikasi digital memberikan pandangan kritis terhadap tren ini. Peneliti media di Yonsei University Prof. Kim Yoon-seo menilai bahwa fenomena seperti S-Line menunjukkan bagaimana media hiburan modern “mengkomodifikasi” seksualitas menjadi tontonan visual.

“Jadi apa yang seharusnya menjadi ruang privat kini diangkat menjadi tontonan publik. Media sosial mempercepat proses ini, mengubah sesuatu yang tabu menjadi hiburan massal,” ujarnya (Kim, 2024).

Pakar komunikasi digital dari Microsoft Reserch, Dr. Nancy Baym menekankan bahwa tren semacam ini adalah bagian dari attention economy, di mana konten yang memicu rasa ingin tahu dan kontroversi akan mendapatkan visibilitas tertinggi.

“Dalam ekonomi perhatian seperti ini, isu yang sensitif seperti seksualitas mudah sekali dipermainkan sebagai komoditas viral,” ungkap dia.

Studi Seoul National University (2025) menemukan bahwa lebih dari 40% pengguna TikTok di Korea Selatan mengunggah atau mengonsumsi konten terkait drama S Line, dan 55% di antaranya mengaku bahwa tren ini mempengaruhi cara mereka membicarakan topik seksualitas.

Data ini menunjukkan bahwa konstruksi sosial yang dihasilkan media hiburan tidak hanya sekadar tren sesaat, tetapi juga memiliki dampak pada pola komunikasi publik.

Pro-kontra mengenai fenomena S-Line semakin mengemuka ketika influencer dan selebritas ikut mempopulerkannya. Sebagian pihak melihat hal ini sebagai bentuk kreativitas budaya pop, sementara sebagian lainnya menganggapnya merusak norma budaya.

Lembaga sensor di beberapa negara Asia Tenggara bahkan sudah mulai mempertimbangkan apakah konten S-Line di media sosial melanggar norma kesusilaan. Namun, di era digital yang serba terbuka, pengaturan semacam ini sering kali tidak efektif, karena tren viral sangat sulit dibendung.

Melihat fenomena ini dari perspektif komunikasi, kita bisa bertanya: Apakah viralitas S-Line adalah bentuk kebebasan budaya, atau tanda bahwa privasi seksual semakin tereduksi menjadi komoditas visual?

Teori konstruksi sosial Berger & Luckmann mengingatkan kita bahwa makna yang kita terima tidak pernah netral; ia selalu lahir dari proses sosial yang penuh kepentingan, baik ekonomi, budaya, maupun politik.

Dalam kasus S-Line, kepentingan industri hiburan jelas terlihat. Drama ini tidak hanya meraih rating tinggi, tetapi juga menghasilkan gelombang promosi tak langsung melalui ribuan video viral.

Brand kosmetik, fashion, hingga aplikasi editing foto turut memanfaatkan tren ini untuk memasarkan produk mereka. Seksualitas, dalam hal ini, tidak hanya menjadi tema hiburan tetapi juga menjadi komoditas ekonomi digital.

“Untuk itu, penting bagi publik memiliki literasi media yang memadai. Kita perlu memahami bahwa fenomena seperti S-Line hanyalah representasi fiksi yang telah dikemas sedemikian rupa agar menarik perhatian,” ujarnya.

Menerima tren ini secara mentah-mentah tanpa kritik bisa berbahaya, karena kita secara tidak sadar ikut memperkuat konstruksi sosial yang mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai kita sendiri.

Di sisi lain, kita juga bisa memanfaatkan fenomena ini untuk memulai dialog yang lebih sehat tentang seksualitas, privasi, dan etika komunikasi digital. Alih-alih hanya menertawakan atau mengejek, kita bisa menggunakannya sebagai sarana edukasi: bagaimana cara menghargai privasi orang lain di era di mana kehidupan pribadi sering dijadikan konsumsi publik?

Penutupnya, fenomena S-Line adalah bukti nyata bahwa media sosial adalah medan komunikasi yang dinamis, di mana simbol dari dunia fiksi bisa dengan cepat menjadi realitas sosial. Teori konstruksi sosial membantu kita memahami bahwa tren semacam ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat pembentuk makna sosial yang memengaruhi cara kita memandang seksualitas, moralitas, dan relasi antarindividu.

Media sosial bukan hanya menyalurkan tren ini, tetapi juga menguatkannya melalui algoritma yang mendorong konten paling provokatif dan visual untuk muncul di beranda pengguna.

“Sudah saatnya kita, sebagai audiens digital, bersikap kritis. Kita harus mampu membedakan mana yang sekadar hiburan, mana yang bisa membentuk persepsi publik secara berbahaya. S-Line memang sekadar fiksi, tetapi resonansi sosialnya sangat nyata,” pungkasnya.

Ady Setiawan Sebut Pencairan Bantuan Operasional RT Jadi Momentum Bangun Demokrasi Aspirasi Warga Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pakar Kebijakan Publik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ady Setiawan, menyambut gembira terealisasinya janji kampanye pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dan Iswar Aminuddin terkait dengan Program Bantuan Dana Operasional sebesar Rp25 juta per Rukun Tetangga (RT).

Seperti diketahui, saat kampanye Pilkada 2024 di Kota Semarang, pasangan Agustin-Iswar mempunyai program unggulan yakni bantuan dana operasional RT sebesar Rp25 juta per tahun.

Menurut Ady Setiawan, dalam teori kepemimpinan publik dikenal dengan konsep reinventing goverment, dimana pemerintah mendorong masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan ide dalam operasional kebijakan pemerintah. 

“Pemkot Semarang dengan program Wali Kota Agustina Wilujeng, yang menganggarkan dana bantuan operasional RT, adalah bentuk dari dukungan Pemkot agar masyarakat melalui ruang warga dan aspirasi paling bawah dapat ikut ‘handarbeni’ kekompakan menjaga infrastruktur dan suprastruktur,” ujar pria yang akrab disapa Mas Wawan ini, saat ditemui awak media di Kota Semarang, Sabtu (9/8/2025). 

Oleh karena itu kata Mas Wawan, dirinya yang juga menjabat sebagai Ketua Relawan Semarang Gumuyu (Guyub, Maju, Yo Unggul) menyambut gembira tertunaikannya janji kampanye pasangan Agustin-Iswar terkait dana operasional Rp 25 juta tersebut.

Ia mengatakan, relawan Semarang Gumuyu, yang saat pemenangan pasangan Agustin-Iswar di Pilkada 2024 Kota Semarang mendapat tugas perbantuan fokus di 15 kelurahan, menyatakan siap dan tetap dengan setia mengawal serta mensosialisasikan program tersebut.

“Relawan Semarang Gumuyu dengan senang hati dan ikhlas telah mendukung dan mengawal serta rutin melakukan sosialisasi ke masyarakat perihal program bantuan operasional RT hingga sampai pada sosialisasi mekanisme pengajuan dan pencairannya, ” ungkap Mas Wawan.

Menanggapi adanya keluhan belum cairnya anggaran program tersebut, Mas Wawan menyatakan bahwa dalam pencairan anggaran pemerintah itu ada mekanisme dan pertanggung jawabannya.

“Tentu itu dalam dimensi hukum administrasi negara harus dicermati betul agar prinsip 3 B tercapai yaitu benar caranya, betul hukumnya dan baik tujuannya. Masyarakat sebaiknya dengan khidmad mengikuti mekanisme yang ada,” pungkasnya.

Persaingan Ketat, Ribuan Siswi SD-MI Kota Semarang Ikuti Milklife Soccer Challenge Seri 1 2025-2026

SEMARANG (lensasemarang.com) – Sebanyak 1.213 siswi dari 64 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Semarang dan sekitarnya, yang terbagi ke dalam 48 tim KU 10 dan 64 tim KU mengikuti MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Semarang Seri 1 2025-2026.

MLSC Semarang Seri 1 2025-2026 berlangsung mulai 5-10 Agustus 2025 di Stadion Universitas Diponegoro Tembalang dan Lapangan Arhanud Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah.

Kota Semarang menjadi kota kedua dari rangkaian 10 kota penyelenggaraan turnamen sepak bola putri yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife ini, setelah Kudus pada periode yang sama.

Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge Semarang Aji Irawan menyebut kualitas peserta MilkLife Soccer Challenge Semarang Seri 1 2025-2026 lebih berkembang dibanding turnamen sebelumnya.

Menurut dia, para peserta berbenah dan menyiapkan diri untuk tampil maksimal di setiap pertandingan dan hal itu tentu tidak lepas dari peran guru olahraga di sekolah serta dukungan orang tua yang memasukkan putri mereka ke sekolah sepak bola (SSB) sehingga konsisten untuk terus mengasah kemampuan bermain bola.

“Melihat kemampuan yang ditunjukkan para peserta MLSC, tim talent scouting cukup kesulitan memilih pemain karena persaingannya cukup ketat. Kami menilai pemain dari mental, kedisiplinan, tanggung jawan, karakter, basic skill, kerjasama tim dan individu untuk bisa ikut dalam extra training,” katanya di hadapan awak media di Semarang, Sabtu (9/8/2025).

Berbeda dari perhelatan tahun sebelumnya yang digelar di delapan kota, MilkLife Soccer Challenge 2025-2026 bergulir di 10 kota yakni Kudus, Semarang, Surabaya, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, hingga Jakarta.

Di setiap kotanya, turnamen ini akan berlangsung sebanyak dua seri. Penambahan dua kota penyelenggaraan yakni Bekasi dan Malang, merupakan salah satu upaya untuk menjaring lebih banyak lagi bibit-bibit pesepakbola putri potensial di kota yang memiliki sejarah panjang dalam sepak bola.

Selain penambahan dua kota baru, perbedaan lainnya pada MilkLife Soccer Challenge 2025-2026 adalah dimensi lapangan KU 12 yang sebelumnya 24 x 40 meter menjadi 26 x 42 meter (KU 10 masih menggunakan ukuran lapangan sebelumnya), titik penalti menjadi 6 meter dari sebelumnya 5 meter, kick off dimulai dengan dua sentuhan, serta untuk pertandingan babak semifinal, final, dan atau 8 besar KU 10 menggunakan lapangan KU 12.

Peraturan yang dipakai pada MLSC merupakan peraturan khusus pertandingan yang disesuaikan dengan Peraturan Umum PSSI untuk pengembangan usia dini.

Tak hanya turnamen 7 vs 7, MilkLife Soccer Challenge 2025-2026 tetap menyelenggarakan Festival SenengSoccer untuk KU 8 yang bertujuan menumbuhkan rasa gembira dan menyukai permainan sepak bola dengan menyasar usia yang lebih dini (6-8 tahun).

Pada Semarang Seri 1 2025-2026, festival ini diikuti oleh 123 peserta dari 29 SD dan MI.

Selain itu, masih terdapat Skill Challenge yang meliputi lima uji ketangkasan mulai dari 1 on 1, penalty shoot, dribbling, passing control, dan shoot on target.

Sama seperti perhelatan tahun sebelumnya, muara setelah diselenggarakan dua seri di 10 kota akan bergulir MilkLife Soccer Challenge All Stars, yang mempertemukan talenta-talenta terbaik hasil kurasi sepanjang turnamen bergulir.

Jajaran Polres Semarang Kibarkan Bendera di Puncak Gunung Ungaran

KABUPATEN SEMARANG – Sebanyak 80 personel jajaran Polres Semarang mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Ungaran, Jumat (8/8).

Kegiatan yang dipimpin Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy mendaki gunung dengan jumlah 80 personel melambangkan usia kemerdekaan Indonesia tahun ini.

Pendakian dimulai dari pintu masuk jalur Prantunan pada pukul 05.45 WIB. Sebelum perjalanan dimulai, seluruh peserta melaksanakan apel singkat dan doa bersama untuk memohon kelancaran kegiatan. Cuaca yang mendukung dan semangat kebersamaan, mengiringi langkah para peserta hingga tiba di puncak Botak, dengan ketinggian 2050 Mdpl Gunung Ungaran pada pukul 08.20 WIB.

Sesampainya di puncak, prosesi pengibaran bendera Merah Putih dilakukan dengan khidmat, disertai penghormatan dan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana haru dan bangga terasa menyelimuti seluruh peserta, mengingat lokasi puncak gunung yang menjadi saksi tekad dan semangat menjaga persatuan serta nasionalisme.

Kapolres Semarang AKBP Ratna menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kekompakan, dan cinta tanah air di tengah anggota Polres Semarang.

“Dengan mengibarkan bendera di puncak Gunung Ungaran, kami ingin menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan harus terus berkibar di hati setiap insan Polri dan masyarakat, di manapun berada,” kata dia.

Kegiatan ini menjadi bagian rangkaian peringatan HUT ke-80 RI di lingkungan Polres Semarang, sekaligus momentum mempererat solidaritas antar personel melalui kegiatan positif yang penuh makna.

Ekspansi Ke Semarang, Ismaya Group Hadirkan Restoran Ikonik Di Kawasan Bersejarah

SEMARANG (lensasemarang.com) – Ismaya Group, perusahaan restoran dan gaya hidup terdepan di Indonesia melakukan ekspansi ke Kota Semarang, Jawa Tengah, melalui peluncuran kompleks multibrand terbaru Skola Courtyard & Restaurant dan Osteria GIA di jantung kawasan Kota Lama Semarang.

Senior Vice President Marketing Lifestyle Ismaya Anggun Melati menjelaskan, proyek ikonik ini terwujud melalui kolaborasi strategis antara Ismaya Group dan mitra lokal, PAVO Group.

Ismaya Group ingin menciptakan destinasi gaya hidup ikonik di Kota Semarang dalam satu tempat menikmati kuliner berkualitas, hiburan, dan pertemuan sosial. 

“Tempat ini dirancang untuk menjadi magnet bagi para pencinta kuliner, komunitas kreatif, dan para sosialita, yang ingin merasakan cita rasa dan suasana baru. Semuanya dalam pesona arsitektur bersejarah Kota Lama Semarang,” katanya di Semarang, Kamis(7/8/2025).

Menurut dia, Skola Courtyard & Restaurant memiliki konsep menghidupkan kembali gedung yang dahulu merupakan sekolah kolonial. Restoran ini akan menjadi ruang sosial penuh energi untuk menikmati cocktail, musik, dan momen-momen spesial. 

“Nama Skola sendiri merupakan penghormatan terhadap fungsi bangunan ini di masa lalu sebagai tempat belajar, yang kini berevolusi menjadi destinasi baru. Sebagai brand terbaru dari Ismaya Lifestyle, Skola memperkenalkan perspektif segar dan penuh semangat dalam portofolio grup secara keseluruhan,” ujarnya.

Kemudian, Osteria GIA yang berdampingan di alamat sama, membawa sentuhan khas Italia untuk dibawa ke Kota Semarang sehingga menghadirkan kehangatan, pesona, dan cita rasa otentik khas Italia ke jantung Kota Lama.

Market Expansion Director Ismaya Group Jessa Setiabudi menambahkan, Osteria GIA dikenal melalui sajian pasta, wood-fired pizza, dan kurasi wine Italia terbaik, sedangkan penciptaan menu dipimpin oleh Chef Tommaso Gonfiantini, Executive Chef Osteria GIA.

Sajian ini membawa warisan budaya dan keaslian Italia ke setiap hidangan, baik untuk makan malam santai di hari kerja maupun perayaan spesial. Osteria GIA menghadirkan pengalaman bersantap Italia yang hangat dan berkesan di tengah Kota Lama Semarang.

“Ismaya Group mengundang masyarakat untuk menjelajahi babak baru dalam gaya hidup Semarang. Setiap kunjungan menjadi momen yang tak terlupakan,” katanya didampingi Arfian Susetyo selaku One of the Founders of PAVO Group.

Seberangi Sungai Untuk Antar Obat Pasien, Puan Maharani Sebut Aksi Heroik Bidan Dona Lubis Patut Dihormati

SEMARANG (lensasemarang.com) – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti aksi heroik Dona Lubis, bidan dari Puskesmas Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, yang nekat menyeberangi sungai deras demi mengantarkan obat kepada pasien TBC. 

“Pengabdian itu tidak menjadi norma dalam sistem pelayanan publik yang ideal. Pengabdian seperti yang dilakukan Ibu Dona patut dihormati, tetapi kita harus jujur bahwa negara tidak boleh membiarkan para tenaga medis menggantikan tanggung jawab infrastruktur dasar yang belum hadir,” kata Puan, Rabu (6/8/2025).

Ia menilai keberanian individual tidak boleh menutupi celah atau kekurangan pelayanan negara kepada masyarakat, terutama dalam konteks layanan kesehatan di wilayah terpencil.

“Akses kesehatan yang setara dan aman adalah hak setiap warga negara, yang semestinya menjadi tanggung jawab negara,” ujarnya.

Ia menilai, tindakan Dona Lubis merupakan refleksi nyata bahwa masih banyak titik rawan di republik ini yang belum mendapatkan jaminan konektivitas dan layanan kesehatan memadai.

Puan pun mendorong pemerintah untuk semakin memaksimalkan pemerataan pembangunan di Tanah Air.

“Ketika satu jembatan rusak menyebabkan terputusnya akses ke fasilitas kesehatan, maka yang terganggu bukan hanya alur logistik, melainkan potensi hilangnya nyawa manusia,” kata Puan.

“Ini bukan hanya soal satu bidan atau satu pasien. Ini soal sistem. Soal keadilan pembangunan. Kita harus pastikan bahwa program-program infrastruktur dan kesehatan benar-benar menyentuh wilayah yang paling membutuhkan,” tambahnya.

Puan pun mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan langkah konkret, seperti penguatan anggaran pembangunan infrastruktur penghubung ke fasilitas kesehatan di daerah rawan dan 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

“Termasuk penyusunan peta risiko wilayah layanan kesehatan, untuk mengidentifikasi titik-titik kritis akses dan distribusi tenaga medis,” ujar Puan.

“Serta jaminan keselamatan dan perlindungan kerja bagi tenaga medis lapangan, dan sistem transportasi darurat yang bisa menjangkau lokasi sulit harus dituntaskan,” sambungnya.

Sekadar informasi, kisah mengharukan seorang bidan bernama Dona Lubis (46) dari Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat viral di media sosial usai videonya menyeberangi sungai deras demi mengobati pasien TBC di pedalaman tersebar luas.

Dalam video tersebut, Dona tampak berjuang menyeberangi aliran deras Sungai Batang Pasaman tanpa jembatan penghubung. Pasalnya, jembatan sepanjang 15 meter itu terputus sejak Jumat 1 Agustus 2025, sehingga membuat akses ke Kejorongan Sinuangon, Nagari Cubadak Barat, terputus total.

Meski demikian, kondisi tersebut tak menghalangi niat Dona untuk tetap mengunjungi pasiennya. Dona mengatakan bahwa itu bagian dari tugasnya sebagai tenaga kesehatan.

Kantor Pertanahan Se-Jateng Teken Grand Design Rencana Kerja Bertahap-Berkelanjutan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Kepala Kantor Pertanahan di seluruh kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah menandatangani Grand Design rencana kerja bertahap dan berkelanjutan di Kantor Badan Pertanahan Jateng, Kota Semarang, Rabu (6/8/2025).

“Saat ini kami melaksanakan penandatanganan Grand Desain yang artinya kita buat roadmap rencana kerja untuk bertahap dan berkelanjutan agar para Kepala Kantah tahu PR dan prioritas mana yang akan dikerjakan pada tahun depan,” kata Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Jateng Lampri usai prosesi penandatanganan.

Ia meminta semua kepala kantor pertanahan aktif dalam melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk melakukan pengurusan legalitas tanahnya guna mengantisipasi terjadinya sengketa di kemudian hari.

Lampri menjelaskan, data jumlah bidang tanah di Jateng adalah 23.671.231 bidang, dengan bidang yang sudah terdaftar 21.866.335 bidang (92%), sedangkan untuk bidang yang sudah terpetakan 19.670.621 bidang (83%).

Bidang yang sudah terdaftar dikurangi dengan jumlah yang terpetakan ini menjadi residu KW456.

KW456 adalah sertifikat yang dianggap rawan konflik dan pemiliknya diminta untuk melakukan pendaftaran ulang ke Kantor Pertanahan setempat.

“Karena tujuan dari pemetaan bidang KW456 ini adalah untuk mewujudkan pemetaan kepemilikan bidang tanah yang telah terlandingkan dengan tepat dan tertata dengan rapi sehingga dapat mewujudkan kabupaten/kota lengkap terdaftar yang lebih menjamin kepastian hukum serta NOP dan NIB terintegrasi penuh,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan, KW456 yang awalnya 3.305.655 Bidang sampai 6 Agustus 2025 sudah menjadi 2.195.714Bidang atau telah terjadi penurunan sejumlah 1.109.941 bidang dengan target akhir tahun 2025 sejumlah 1.200.000 bidang.

Menurut dia, hal Ini membutuhkan adanya komitmen bersama dalam penyelesaian KW456 akan menjadi lebih terukur dan cepat.

Adapun tiga kantah dengan KW456 paling banyak jumlahnya di Kabupaten Magelang sejumlah 203.510 bidang, Kabupaten Wonogiri sejumlah 149.961 bidang, dan Kabupaten Sragen 126.969 bidang. 

“Saya harap dapat dipercepat khususnya untuk kantah-kantah dengan KW456 yang masih banyak. Kami berharap dengan adanya Grand desain ini menjadikan komitmen Bapak/Ibu kakantah dalam penyelesaian KW456 demi mewujudkan kabupaten/Kota lengkap di Jawa Tengah,” katanya.

Saat ini, Kementerian ATR/BPN juga telah melakukan inovasi yang membuat masyarakat dimudahkan dengan layanan online sehingga akan turut serta mendukung target realisasi capaian Progam Pendftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Jateng.

“Sekarang pengurusan tanah bisa dengan online, penekanan saya semua tanah telah sertipikat maka akan membantu semuanya termasuk data penyebaran tanah dan pemanfaatannya dalam satu peta. Saat ini capaian PTSL kami sudah 72 persen dari target 200 ribu bidang tanah target akhir bulan Agustus nanti selesai,” ujarnya.

Banyak kantah yang sudah 100 persen, lanjut dia, tapi ada juga yang belum karena persiapan kurang bagus atau memang masyarakatnya yang animonya kurang.

“Makanya perlu dimasifkan sosialisasinya baik langsung atau lewat media sosial atau pemberitaan di media,” kata Lampri.

Dukung Transformasi Kesehatan Nasional, FIFGroup Resmikan Integrasi Layanan Primer Di Kota Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – PT Federal International Finance (FIFGroup) anak perusahaan PT Astra International Tbk dan bagian dari Astra Financial, kembali menegaskan komitmennya terhadap kesehatan masyarakat melalui peresmian Program Integrasi Layanan Primer (ILP) Binaan FIFGROUP yang dilaksanakan di Puskesmas Pembantu Sendangguwo, Kota Semarang, Selasa (5/8/2025).

Program ini merupakan bagian dari implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Acara dihadiri oleh Direktur FIFGROUP, Esther Sri Harjati, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam.

Dalam sambutannya, Esther Sri Harjati menyampaikan bahwa Program ILP ini sejalan dengan misi perusahaan untuk “Membawa Kehidupan Yang Lebih Baik Bagi Masyarakat”.

“FIFGROUP menyadari bahwa akses terhadap layanan kesehatan dasar adalah haksetiap warga negara. Kami percaya bahwa sinergi berbagai pihak sangat penting untuk membangun layanan kesehatan primer yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan,”kata Esther.

Dukung Transformasi Kesehatan Nasional

Menurut dia, Program ILP merupakan inisiatif strategis dari Kementerian Kesehatan RI dalam rangka transformasi sistem kesehatan nasional melalui pendekatan siklus hidup yang mencakup bayi, remaja, dewasa, hingga lansia.

Program ILP mendorong layanan kesehatan yang menjangkau hingga ke tingkat RT/RW sebagai bentuk dukungan, FIFGroup melalui pilar FIFGroup Sehat memberikan kontribusi nyata melalui aksi di Puskesmas Pembantu Sendangguwo yang meliputi penyaluran bantuan alat kesehatan untuk layanan primer, renovasi sarana dan prasarana puskesmas, pelatihan bagi 50 kader posyandu mencakup 25 keterampilan dasar.

Digitalisasi pemantauan kesehatan untuk meningkatkan respons dan efisiensi layanan Puskesmas Pembantu Sendangguwo menjadi lokasi ILP pertama yang dibina langsung oleh FIFGroup.

Melalui program ini, FIFGroup menargetkan dapat menjangkau hingga 18.000 masyarakat, dengan pelayanan yang lebih mudah diakses, terjangkau, dan berkualitas.

“Langkah yang diambil FIFGroup merupakan bentuk nyata kolaborasi lintas sektor yang patut diapresiasi dalam mendukung agenda nasional,” kata Imran Pambudi selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan sektor swasta seperti FIFGroup, saya berharap ILP dapat menjadi fondasi transformasi sistem layanan primer di Indonesia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam.

Dengan hadirnya ILP di Puskesmas Pembantu Sendangguwo, FIFGroup menegaskan peran aktifnya dalam mendukung penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif dan berkelanjutan.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi langkah strategis menuju sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan berpihak pada masyarakat.

Lestarikan Ekosistem Perairan Jratunseluna, PJT I Tebar 20 Ribu Benih Ikan Di Kabupaten Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – Perum Jasa Tirta I (PJT I) melalui Divisi Jasa ASA WS Jratunseluna bekerja sama dengan PT PLN Indonesia Power melaksanakan Sosialisasi Pelestarian Lingkungan sebagai upaya pelestarian lingkungan dan penguatan ekosistem perairan di wilayah Sungai Jratunseluna.

Selain sosialisasi, PJT I juga melakukan penebaran 20 ribu benih ikan yang digelar di KTH PLTA Timo, Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

“Melalui sosialisasi dan penebaran 20 ribu bibit ikan ini kami ingin kelestarian ekosistem di Wilayah Subgai Jratunseluna bisa tetap terjaga,” kata Kepala Divisi DJA WS Jratunseluna PJT I Didit Priyambodo saat dikonfirmasi Senin (4/8/2025).

Dirinya berharap melalui acara yang bertujuan sebagai upaya konservasi sungai tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. 

“Khususnya kawasan perairan yang menjadi sumber kehidupan dan penghidupan warga sekitar harus teyap dijaga bersama,” ujarnya.

Menurut dia, penebaran benih ikan menjadi bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem air dan pemulihan biodiversitas lokal.

Ia menyampaikan bahwa pelestarian ekosistem perairan merupakan bentuk investasi jangka panjang.

“Kami percaya bahwa menjaga ekosistem perairan adalah investasi masa depan, bukan hanya untuk menjaga keseimbangan alam, tetapi juga untuk mendukung keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Melalui aksi nyata seperti penebaran benih ikan dan pendekatan edukatif kepada masyarakat, PJT I menegaskan komitmennya sebagai BUMN pengelola sumber daya air.

“Kami tidak hanya berfokus pada aspek teknis (pengelolaan sumber daya air), tetapi juga keberlanjutan dan kemitraan sosial di wilayah kerja kami,” ujarnya.