Home Blog Page 46

Wali Kota Semarang Bangga Warga Semarang Masih Rawat Tradisi Sedekah Bumi

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina menyampaikan rasa bangga dan apresiasi khususnya kepada warga Kelurahan Gedawang dan Kecamatan Banyumanik yang masih setia melestarikan tradisi Sedekah Bumi atau Apitan.

Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Gelar Budaya Apitan yang digelar pada Sabtu (10/5/2025) malam di Lapangan Gedawang.

Menurut Agustina, Apitan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud syukur atas nikmat Tuhan sekaligus sarana mempererat kebersamaan antar warga.

“Tradisi apitan atau sedekah bumi bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah cermin dari jati diri kita. Ini adalah momen sakral untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas hasil bumi, atas rezeki, atas kebersamaan, dan atas segala nikmat yang kita terima,” ujarnya.

Ia menegaskan, pelestarian budaya juga harus menjadi bagian penting dari pembangunan kota.

“Semarang bukan hanya tentang gedung tinggi, jalan tol, atau infrastruktur, tapi juga tentang ruang-ruang seperti ini, di mana nilai-nilai luhur dijaga, ditumbuhkan, dan diwariskan,” katanya.

Sehingga pihaknya berpesan kepada generasi muda agar mereka menjadi pelaku aktif dalam menjaga adat istiadat lokal.

“Kepada anak-anak muda Gedawang, Karang Taruna, generasi muda, kalian adalah penerus adat ini. Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pelaku. Jadilah penjaga. Saya yakin kalian bisa,” katanya.

Rangkaian acara Apitan dimulai dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari kerja bakti warga membersihkan lingkungan, dilanjutkan doa bersama di makam leluhur Eyang Giyanti Puro.

Acara berlanjut dengan pengajian umum, santunan kepada dhuafa dan anak yatim, hingga karnaval budaya dan lomba gunungan serta tumpeng antar-RW. Ribuan warga turut meramaikan kirab 10 gunungan hasil bumi yang kemudian diperebutkan sebagai simbol rasa syukur.

Gelar Budaya Apitan sendiri ditutup dengan pentas Campur Sari dan Wayang Kulit sebagai wujud nyata pelestarian budaya Kota Semarang di tengah perkembangan zaman.

Melalui Suadesa Festival 2025 Di Borobudur, PGN Perkuat Komitmen Transisi Energi Bersih

MAGELANG (lensasemarang.com) – Subholding Gas Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong transisi energi bersih dan kemandirian desa melalui penyelenggaraan Suadesa Festival 2025.

Kegiatan yang digelar pada 10-11 Mei 2025 di Gasblock PGN Karangrejo, Magelang, ini bukan hanya menjadi ajang promosi potensi lokal, tetapi juga perwujudan nyata dari program Desa Energi Berdikari (DEB) yang diusung Pertamina.

Desa Karangrejo sendiri merupakan salah satu desa binaan PGN yang mulai menunjukkan transformasi progresif melalui energi ramah lingkungan dan sinergi lintas sektor.

Melalui program CSR PGN, Festival Suadesa 2025 diharapkan mampu menggerakkan perekonomian desa dengan mempromosikan UMKM dan menggali potensi lokal seperti destinasi wisata, kesenian dan budaya setempat.

Adapun festival ini bukan hanya menjadi ajang promosi potensi lokal, tetapi juga perwujudan nyata dari Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang diusung Pertamina. Dalam program ini, Pertamina berperan dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan di desa-desa Indonesia.

VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero) Rudi Ariffianto mengatakan bahwa Program DEB mengedepankan penggunaan sumber energi yang berkelanjutan untuk mendukung kemandirian energi masyarakat.

Pertamina sendiri telah mendirikan lebih dari 200 Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia, dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah.

“Hingga 2025, sudah lebih dari 200 desa telah bergabung dalam program DEB, menghasilkan penurunan emisi karbon hingga 729.493 ton CO₂ ekuivalen. Capaian ini mendukung target Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 dan menjadi bukti nyata penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasi Pertamina,” ungkap Rudi di sela Festival Suadesa, Minggu (11/5/2025).

Suadesa Festival 2025, lanjutnya, menjadi bukti bahwa desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, tetapi subjek utama yang memimpin perubahan.

Kolaborasi antara energi, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang tercermin dalam festival ini menghadirkan model pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berdampak langsung pada masyarakat.

“PGN menjalankan prinsip sosial dan kemasyarakatan melalui program-program CSR. Suadesa Festival menjadi salah satu wujud perhatian PGN dalam rangka memajukan ekonomi desa dengan menggali potensi-potensi lokal,” tambah Rudi.

Terlebih Desa Karangrejo memiliki banyak potensi besar dalam sektor UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif. 

“Semoga, Suadesa Festival memberikan manfaat bagi Desa Karangrejo untuk terus berkembang dan dapat menjadi festival desa tahunan yang selalu dinantikan di tahun-tahun mendatang,” katanya.

Sekretaris Perusahaan PGN Fajriyah Usman, menambahkan, Suadesa Festival 2025 adalah wujud nyata komitmen PGN dalam mendorong transisi energi bersih yang berpihak pada masyarakat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa desa bisa menjadi pusat inovasi energi sekaligus penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan,” tegas Fajriyah.

Suadesa Festival 2025, oleh PGN dirancang untuk menunjukkan bagaimana energi bersih dapat menjadi penggerak utama ekonomi desa. PGN memperkenalkan moda transportasi gas berbentuk Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan silinder yang dikenal dengan brand Gaslink C-Cyl.

Gaslink C-Cyl ini memenuhi kebutuhan energi bersih para pelaku UMKM kuliner di area festival. Langkah ini mempertegas posisi PGN sebagai pelopor pemanfaatan energi gas bumi dalam mendukung usaha rakyat secara langsung dan berkelanjutan.

Terdapat 40 tenant UMKM Desa Karangrejo dan Desa Wringin Putih Borobudur yang terbagi menjadi UMKM Kuliner dan UMKM Craft yang turut serta dalam festival ini melalui Pasar Suadesa.

Para UMKM tersebut menyajikan produk beragam seperti makanan tradisional, jajanan pasar, dan berbagai kerajinan dan berbagai aksesoris bertemakan Borobudur.

Balkondes PGN dan Desa Karangrejo juga merupakan bentuk nyata ekosistem pemanfaatan gas bumi dan energi hijau solar panel yang dimanfaatkan untuk menggerakkan penginapan, UMKM, dapur, listrik dan kebutuhan hospitality Balkondes, masyarakat maupun Gasblock.

“Kombinasi antara energi matahari dan gas bumi ini mencerminkan model ekosistem energi hibrida yang efisien, bersih, dan bisa direplikasi di desa-desa lain di seluruh Indonesia,” tambah Fajriyah.

Di sisi lain, Suadesa Festival 2025 ini menjadi wajah dari komitmen desa terhadap gaya hidup berkelanjutan dengan menerapkan kebijakan bebas kantong plastik. Pengunjung juga diimbau membawa tas belanja berbahan non-plastik sebagai langkah nyata dalam mengurangi limbah plastik dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

Inisiatif ini selaras dengan nilai-nilai keberlanjutan yang dikampanyekan PGN dalam seluruh kegiatan CSR-nya. Melalui program Desa Energi Berdikari, Pertamina dan PGN telah mendorong pemanfaatan energi terbarukan di tingkat desa sebagai pilar kemandirian energi masyarakat.

Program ini tak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur energi bersih, tetapi juga menanamkan pemahaman kepada masyarakat melalui edukasi dan pelatihan berkelanjutan.

Pemkot Semarang Terus Kawal Pengusulan KH. Sholeh Darat Sebagai Pahlawan Nasional

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk terus mengawal proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi KH. Sholeh Darat.

Hal ini disampaikannya dalam Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH. Sholeh Darat, Sabtu (10/5/2025) yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Haul KH. Sholeh Darat di Kota Semarang.

“Atas nama Pemerintah Kota Semarang, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia haul dan seluruh pihak yang telah menggagas seminar nasional ini. Ini adalah tonggak penting untuk menyuarakan pengakuan negara terhadap jasa besar KH. Sholeh Darat,” ujar Agustina.

Pihaknya merasa sangat tersanjung mendapat amanah dari para sahabat NU untuk meneruskan proses pengusulan gelar tersebut.

“Berkas yang kami terima sudah sangat lengkap. Seminar ini menjadi penguat bagi kami untuk segera menindaklanjuti dengan surat resmi pengusulan kepada pemerintah pusat,” tegasnya.

“KH. Sholeh Darat bukan sekadar ulama. Beliau adalah penjaga peradaban, guru dari para pahlawan nasional. Sudah sangat pantas beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional,” lanjut Agustina.

Ia berharap, proses ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan serta diperkuat oleh kajian para ahli sejarah. 

“Semoga ini menjadi bagian dari visi besar kami menjadikan Semarang sebagai destinasi wisata religi, khususnya di kawasan makam KH. Sholeh Darat dan masjid peninggalan pesantren beliau,” pungkasnya.

KH. Sholeh Darat dikenal sebagai ulama besar, intelektual pejuang, dan pendidik pembebas. Ia mengabdikan hidupnya untuk membangun peradaban melalui ilmu.

Dalam karya-karyanya, khususnya tafsir Faidurrahman, beliau menerjemahkan ajaran Islam dalam bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Hal itu menjadi bentuk perjuangan intelektual untuk membebaskan umat dari kebodohan dan memperkuat identitas keislaman masyarakat pribumi di tengah penjajahan.

Lebih dari itu, KH. Sholeh Darat juga dikenal sebagai pendidik tokoh-tokoh besar bangsa. Dari pesantrennya di Kampung Darat, Semarang, beliau mendidik KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan menginspirasi R.A. Kartini melalui tafsir Al-Qur’an yang ditulisnya.

Perjumpaan beliau dengan RA Kartini melahirkan karya yang monumental dan mencerahkan, serta menjadi bagian penting dalam sejarah pemikiran Islam dan nasionalisme di Indonesia.

Halalbihalal, Mas Wawan Ajak Alumni Doktor Ilmu Hukum Untag Majukan Almamater

SEMARANG (lensasemarang.com) – Ikatan Alumni (IKA) Doktor Ilmu Hukum dan Himpunan Mahasiswa S3 Ilmu Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang menggelar acara Halalbihalal di Hotel Grand Candi, Kota Semarang, Sabtu (10/5/2025). 

Hadir dalam acara tersebut, Rektor Untag Semarang, Prof. Dr. Suparno, M.Si., jajaran civitas akademika Program Doktor Ilmu Hukum, dan para tamu undangan.

Ady Setiawan selalu Ketua Ikatan Alumni (IKA) Program Doktor Ilmu Hukum Untag Semarang menyampaikan, Menuju Indonesia Emas, saatnya memulai dari institusi pendidikan.

Menurutnya, semangat inilah yang hendak dibangun para civitas akademika yang selama ini memegang gelar doktoral Ilmu Hukum Untag Semarang.

Ia mengatakan sangat penting sekali peran ilmu yang diberikan selama ini dari dunia perguruan tinggi. Selama aktif di dunia kontraktor maupun berkecimpung di BUMD PDAM, kurang lebih lima tahun ini, peran ilmu menurutnya, sangat berarti sekali.

“Saatnya kita kembali ke almamater perguruan tinggi.Agar kita selalu ingat tanpa kehadiran Untag Semarang, kita tidak bisa hebat seperti sekarang, beraktivitas sedemikian luar biasa seperti selama ini,” kata Mas Wawan, sapaan akrabnya, saat sambutan.

Lebih jauh, dalam kesempatan tersebut Mas Wawan kembali menekan semangat ‘guyub rukun ojo pedhot oyot’ untuk merekatkan para alumni.

“Ini terinspirasi dari kedekatan yang kuat seperti yang ada pada para santri pondok pesantren. Maka kami akan membangun jalinan komunikasi antar alumni dengan sistem virtual. Setiap setahun sekali untuk bertemu.Didalamnya akan menampung pelatihan spesialisasi yang dibutuhkan dan tidak bertabrakan dengan kampus. Tak menutup kemungkinan memiliki dana abadi untuk kepentingan pendidikan,” kata Mas Wawan, yang juga menjabat sebagai Dirut PDAM Indramayu ini.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Untag Semarang, Prof. Dr. Suparno, M.Si. menyebut, saat ini sudah ada sekitar 45.920 alumni tersebar di seluruh penjuru dunia. Pihaknya berharap mereka para alumni akan banyak berkiprah untuk kejayaan almamater.

“Dengan keberadaan ini, kelak kedepan akan lebih membangun manusia-manusia berakhlak, memiliki mental dan bermoral,” ujarnya.

Temanggung Sepekan 9-13 Juli 2025: Perayaan Budaya, Musik, dan Potensi Lokal di Kaki Gunung Sumbing dan Sindoro

TEMANGGUNG (lensasemarang.com) – Kabupaten Temanggung bersiap menyambut salah satu festival terbesar tahun ini yakni Temanggung Sepekan 2025 yang akan digelar selama lima hari berturut-turut mulai 9-13 Juli 2025 di Kledung Park, sebuah destinasi yang memukau dengan pemandangan keindahan alam Gunung Sumbing dan Sindoro yang eksotis.

Mengusung semangat pelestarian budaya dan pemberdayaan potensi lokal, Temanggung Sepekan 2025 hadir sebagai ruang pertemuan antara seni, budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata dalam satu rangkaian acara yang meriah dan penuh makna.

Festival ini menghadirkan lima program utama berupa Sepekan Musik – Menampilkan pertunjukan dari sejumlah musisi tanah air lintas genre antara lain Kunto Aji, Ngatmombilung, Aftershine, Panji Sakti, Paksi Band, Batas Senja, Idgitaf, dan Raim Laode.

Sepekan Budaya – Pagelaran seni tradisional, pertunjukan dan kompetisi tari, pemutaran film, galeri lukisan, lomba anak-anak hingga talkshow budaya

Sepekan Kopi – Pameran dan edukasi tentang kopi Temanggung, termasuk coaching dan workshop, demo produk hingga kompetisi barista.

Sepekan Expo – Pameran UMKM dan multi produk unggulan yang akan dibagi dalam 5 zona yaitu: Tour & Travel, Home Living, Fashion, Craft, dan Book & Publisher.

Sepekan Rasa – Festival kuliner yang menghadirkan kekayaan rasa khas Temanggung dari UMKM lokal, mulai dari makanan tradisional hingga kreasi kekinian.

Event Temanggung Sepekan 2025 digagas oleh PT Satsenu Sinergi Indonesia (Satsenu) dan PT Angan Kreasi Semesta (Angkasa) sebagai promotor, dengan dukungan penuh dari pengelola Taman Wisata Kledung Park dan Pemerintah Kabupaten Temanggung.

Pada konferensi pers di Omah Kebon, Kabupaten Temanggung, Jumat (9/5/2025), Aryo Wibisono dari Angkasa menyatakan bahwa event ini diharapkan tidak hanya menggerakkan sektor pariwisata, tapi juga memberikan dampak positif bagi sektor-sektor lain di Kabupaten Temanggung.

“Dengan event ini, Temanggung akan lebih dikenal secara nasional dan internasional, memberikan multiplier effect bagi berbagai sektor,” ujar Aryo.

Sementara itu, Joko Triyanto dari Satsenu menjelaskan bahwa event ini lahir dari riset selama dua tahun terkait potensi besar Temanggung.

“Kami melihat kekayaan alam dengan Gunung Sumbing dan Sindoro, potensi sejarah seperti Situs Liyangan dan Jumprit, serta kekayaan budaya dan seni

yang kuat,” ujarnya.

Lokasi acara Kledung Park telah siap menjadi tuan rumah Temanggung Sepekan 2025.

“Sarana prasarana dan dukungan teknis kami sudah siap. Kami akan berkolaborasi dengan pihak penyelenggara untuk memastikan kesuksesan acara,” ujar Bambang Ari Wijanarko selaku Direktur Kledung Park.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Tri Raharjo yang juga hadir di konferensi pers, menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara.

“Acara ini akan membantu meningkatkan branding Temanggung ke tingkat nasional. Semua pihak harus berkolaborasi untuk memajukan potensi budaya dan pariwisata,” katanya.

Pekan raya ini terbuka untuk umum dan dilaksanakan bertepatan dengan libur sekolah, menjadikannya destinasi liburan keluarga yang menyenangkan, edukatif, dan tak terlupakan.

Tiket masuk dibanderol Rp25.000 untuk weekdays dan Rp35.000 untuk weekend.

Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun media sosial resmi @temanggungsepekan atau situs www.temanggungsepekan.id.

PGN Dorong Energi Kemandirian Desa Melalui Suadesa Festival 2025

JAKARTA (lensasemarang.com) – Dalam rangka semarak HUT Ke-60 pada 13 Mei 2025, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) akan menyelenggarakan Suadesa Festival 2025 pada 10-11 Mei 2025 di Gasblock PGN Karangrejo, Kabupaten Magelang.

Festival ini merupakan perwujudan Program Desa Energi Berdikari Pertamina dimana Desa Karangrejo, Borobudur yang merupakaan desa binaan PT PGN Tbk.

Melalui program CSR PGN, Festival Suadesa 2025 diharapkan mampu menggerakkan perekonomian desa dengan mempromosikan UMKM dan menggali potensi lokal seperti destinasi wisata, kesenian dan budaya setempat.

“Suadesa Festival diharapkan dapat menjadi pesta rakyat untuk memantik ruang-ruang ekonomi baru, dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara maksimal. Selain itu, partisipasi masyarakat sekitar diharapkan dapat memperkuat ikatan sosial dengan PGN dan komunitas-komunitas budaya lokal yang terlibat,” ujar Sekretaris Perusahaan PGN Fajriyah Usman, Jumat (9/5/2025).

Keterlibatan masyarakat setempat menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan festival. Dengan harapan, hal ini dapat membentuk kemandirian untuk penyelenggaraan festival serupa di tahun-tahun mendatang.

“Kemandirian Desa artinya desa harus semangat untuk membiayai diri sendiri untuk berdikari dan mendapatkan hasil dari upaya yang diusahakan,” ujar M. Hely Rofikun, Kepala Desa Karangrejo, Borobudur.

Pasar Suadesa, dimana UMKM-UMKM lokal akan berkumpul menjajakan produk mereka, siap meriahkan Suadesa Festival 2025. Sejumlah 40 tenant UMKM Desa Karangrejo dan Desa Wringin Putih Borobudur yang terbagi menjadi UMKM Kuliner dan UMKM Craft akan menyajikan produk beragam seperti makanan tradisional, jajanan pasar, dan berbagai kerajinan kayu, pahat batu, anyaman, batik, aksesoris Borobudur, pecel, angkringan, jetkolet, jajanan pasar, jamu, dan lain-lain telah dipastikan berpartipasi.

“Suadesa menjadi wahana promosi Pemerintah Desa untuk destinasi wisata bagi Balkondes di Borobudur untuk lebih dikenal lebih luas,” imbuhnya.

Ajang ini juga merupakan salah satu medium untuk memperkenalkan komitmen PGN sebagai Subhokding Gas Pertamina tentang pemanfaatan energi ramah lingkungan termasuk moda transportasi gas berbentuk Cylinder CNG dengan brand produk Gaslink C-Cyl yang akan melayani kebutuhan gas untuk tenan kuliner yang membutuhkan. 

Balkondes PGN dan Desa Karangrejo juga merupakan bentuk nyata ekosistem pemanfaatam gas bumi dan energi hijau solar panel yang dimanfaatkan untuk menggerakkan penginapan, UMKM, dapur, listrik dan kebutuhan hospitality Balkondes, masyarakat maupun Gasblock.

Tidak hanya menampilkan produk UMKM lokal yang unik, Pasar Suadesa juga mengusung tema kepedulian lingkungan. Pasar Suadesa tidak menyediakan kantong plastik untuk belanja bagi pengunjung dan menyarankan pengunjung agar membawa tas belanja sendiri yang berbahan non plastik.

Hal ini sebagai langkah nyata untuk mengurangi sampah plastik dan menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Untuk menambah kemeriahan Suadewa Festival, terdapat panggung seni dan budaya untuk menampilkan berbagai bentuk seni serta budaya lokal. Komunitas dan seniman budaya yang terlibat memeriahkan panggung nantinya yaitu Shaggydog, Irta Amalia, Om Janema dan masih banyak lagi.

Acara yang tak kalah menarik dan sarat manfaat adalah Workshop Suadesa, dimana kegiatannya mengajarkan teknik dan tradisi menciptakan kerajinan khas desa diantaranya anyaman, tenun, ukiran dan keramik.

Bahan yang digunakan pun berasal dari material alami, sehingga lebih ramah lingkungan namun tetap sesuai dengan teknik tradisional yang diwariskan.

Produk yang diciptakan melalui workshop juga bagian dari sumber daya dan tradisi daerah, sehingga akan memberikan pembelajaran bagi peserta untuk ikut melestarikan warisan budaya tersebut di era modern.

“PGN menjalankan prinsip sosial dan kemasyarakatan melalui program-program CSR. Suadesa Festival menjadi salah satu wujud perhatian PGN dalam rangka memajukan ekonomi desa dengan menggali potensi-potensi lokal. Desa Karangrejo memiliki banyak potensi besar dalam sektor UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif. Semoga, Suadesa Festival memberikan manfaat bagi Desa Karangrejo untuk terus berkembang dan dapat menjadi festival desa tahunan yang selalu dinantikan di tahun-tahun mendatang,” tutup Fajriyah.

Berjodoh, Kijang Pink Ini Akhirnya Kembali Ke Pemilik Pertama

SEMARANG (lensasemarang.com) – Mobil Toyota Kijang Pink berpindah tangan dan kembali kepada pemiliknya setelah 14 tahun lamanya.

Yossie Yogaswara, pemilik Kijang Kapsul LGX tahun 1997 yang memodifikasi dengan cat pink xiralic ini memiliki ribuan kenangan dengan Kijang Pink. 

Mobil Kijang tua berwarna pink, yang ia cat ulang pada tahun 2009 dengan modifikasi simpel tersebut merupakan mobil kesayangannya, namun terpaksa dijual saat mengalami kesulitan ekonomi pada tahun 2011 silam. 

Berawal dari iseng mencari di media sosial dengan hastag Kijang Pink, muncul foto anak Solo yang ternyata sudah dijual ke orang Yogyakarta.

Pencarian mobil kesayangannya dilanjutkan ke tangan pemilik di daerah Yogyakarta.

Akhirnya pada awal bulan Januari 2025, Kijang Pink kembali ke pelukan pemilik pertamanya. Pada awal saat Yossie menjual mobil tersebut ia memberikan pesan, untuk tidak dijual ke orang lain. 

Yossie melakukan modifikasi mobil, tentunya masih dengan warna pink yang elegan. Eksterior pun juga ikut di modifikasi yaitu di sunroof yang sebelumnya menggunakan Webasto L, kini diubah dengan panoramic roof milik Whuling Almaz.

Masih dari sisi eksterior, agar tampak bertambah elegant, Yossie mengganti dengan Velg Brabus Monoblock 3 ring 18 dibalut dengan ban cukup tipis agar tampak lebih ceper.

Sementara spion khas Kijang yang besar, diganti milik Honda Jazz idsi agar nampak lebih runcing dan lampu sen samping pakai BMW. 

Interiornya pun juga tak kalah keren dengan Audio pakai android TV 10 inchi, dengan spion tengah yang bisa kamera depan belakang. Subwoofer pakai Fusion 12 inchi dua buah, power monoblock 1 dan Power buat ngangkat treeble twitter.

Mendagri Apresiasi Gubernur Ahmad Luthfi Gandeng 44 Perguruan Tinggi Bangun Daerah

SEMARANG (lensasemarang.com) – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengapresiai inisiatif Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membentuk Forum Rektor bersama 44 perguruan tinggi di wilayahnya dalam membangun daerah.

Kolaborasi strategis antara pemerintah daerah dan kampus ini merupakan langkah cerdas dalam mewujudkan kebijakan publik yang berbasis riset dan kebutuhan nyata.

“Itu good idea, good move. Kenapa? Supaya kalau kita bikin kebijakan, itu bukan sekadar feeling-feeling-an, tapi benar-benar berdasarkan studi,” kata Tito pada Silaturahmi dan Rapat Kerja Forum Majelis Wali Amanat (MWA) Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) se-Indonesia di Hotel Tentrem, Semarang, Jumat (9/5/2025).

Dalam acara tersebut, selain Mendagri turut hadir Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Brian Yuliarto, Wakil Menteri Keuangan RI Anggito Abimanyu, para pemimpin dan anggota MWA dari 24 PTN-BH Se Indonesia.

Tito menyebut langkah Ahmad Luthfi patut dicontoh daerah lain. Menurutnya, banyak kebijakan gagal karena tidak didukung kajian yang matang. 

“Jangan asal bangun. Studi dulu. Jangan sampai seperti kasus Lapindo. Kalau riset dilakukan sejak awal, banyak bencana bisa dicegah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tito menegaskan pentingnya peran kampus dalam membantu pemerintah merumuskan solusi atas masalah-masalah mendesak di daerah, seperti kemiskinan, stunting, dan banjir.

“Kalau hasil riset perguruan tinggi bisa jadi kebijakan, itu bukan cuma membantu pemerintah, tapi juga jadi kebanggaan bagi dunia akademik,” tegas Tito.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyampaikan, kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi sudah nyata berjalan. Salah satunya dengan Universitas Diponegoro (Undip), untuk pengembangan teknologi desalinasi air payau menjadi air tawar yang layak minum.

“Ini sudah kita jalankan di Pekalongan dan Sayung Demak. Kami bersama Undip mengolah air payau jadi air siap minum. Ini bisa jadi role model daerah pesisir lainnya. Intinya, kampus kami libatkan sejak hulu,” tegas Luthfi.

Melalui Forum Rektor, Ahmad Luthfi berharap sinergi antara Pemprov Jateng dan kalangan akademik dapat terus diperkuat, sehingga seluruh program pembangunan daerah benar-benar ditopang oleh data, kajian ilmiah, dan solusi aplikatif.

Wujudkan Pembangunan Inklusif, Wali Kota Semarang Buka Dialog Bersama BEM Undip

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina membangun ruang diskusi terbuka bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip) sebagai bagian dari agenda membangun dialog konstruktif dengan generasi muda.

Acara yang digelar pada Minggu (4/5/2025) juga menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan, aspirasi, dan masukan terhadap pembangunan Kota Semarang ke depan.

“Ini membuktikan bahwa Undip hadir bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai pelaku dalam narasi besar pembangunan bangsa,” ujar Agustina dalam sambutannya. Lebih lanjut, dirinya menyampaikan apresiasi atas peran aktif mahasiswa Undip dalam menyuarakan isu-isu keadilan, lingkungan, pendidikan, dan hak masyarakat dengan cara yang inspiratif.

Agustina juga mengutip pidato Rektor Undip pada pelantikan BEM beberapa waktu lalu yang menyebut “genetik Undip adalah juara”.

Hal inipun diamini Agustina yang menyebut statement itu bukan sekadar kutipan melainkan jati diri yang mencerminkan keberanian, religiusitas, serta semangat untuk melawan ketidakadilan dan berpartisipasi aktif.

Agustina yang juga alumni Undip juga berbagi kisah tentang masa mudanya sebagai aktivis mahasiswa dan banyak memberi manfaat, pengalaman baginya. 

Dari kampus Hayam Wuruk dan organisasi GMNI, ia belajar arti keberanian, kepekaan sosial, serta pentingnya dialektika dan pengambilan keputusan.

“Organisasi bukan sekadar rapat dan proposal, tapi jalan panjang yang penuh ketekunan dan ketabahan,” ungkapnya.

Dirinya juga ingin memastikan bahwa kebijakan kota ke depan benar-benar menjawab kebutuhan pemuda, termasuk mahasiswa.

Sebagai Wali Kota perempuan, ia juga menegaskan pentingnya kepemimpinan yang bukan hanya hadir, tetapi membentuk arah dan menciptakan perubahan.

Selain forum ini, Pemkot Semarang juga telah membuka ruang-ruang partisipasi melalui Musrenbang pemuda, Musrenbang disabilitas, Musrenbang perempuan, dan Musrenbang pariwisata sebagai bentuk komitmen mewujudkan pembangunan yang inklusif.

Dalam sesi diskusi, sejumlah isu strategis diangkat mahasiswa, termasuk pengembangan budaya dan pariwisata dari Analisa, mahasiswi FIB Undip. 

Menanggapi pertanyaan tersebut, Agustina menyampaikan komitmen mengembalikan kegiatan yang mengangkat narasi budaya lokal.

“Budaya adalah titik penting yang harus dikedepankan, harus ada simbol budaya apa yang kita angkat dan dikomunikasikan. Seperti dalam film Korea, kita juga harus serius mengangkat budaya secara detil dan terstruktur,” ujarnya.

Sementara mahasiswa FIB lainnya, Randy, menyoroti minimnya transportasi publik ke wilayah Tembalang. Menjawab itu, Wali Kota menyampaikan bahwa keterbatasan armada menjadi kendala utama.

“Sudah enam tahun belum ada pembelian bis baru. Semoga anggaran mencukupi atau bisa dicarikan mitra investor. Trayek ke Tembalang penting, dan perlu solusi sistemik dari titik-titik strategis seperti Patung Diponegoro,” jelasnya.

Isu lingkungan juga menjadi sorotan. Ganda, mahasiswa FMIPA, menyoroti pencemaran logam berat akibat aktivitas industri. Menanggapi hal ini, Wali Kota menjelaskan bahwa penanganan lingkungan menjadi prioritas RPJMD baru.

“Benar IPAL belum cukup. Akan ada kajian besar untuk program aksi 2026, termasuk pengadaan alat ukur pencemaran dan inspeksi industri. Tahun ini juga terus ditambah area hijau melalui hutan kota,” tuturnya.

Dirinya menegaskan bahwa proses penganggaran membutuhkan waktu dan tahapan, namun aspirasi mahasiswa menjadi masukan berharga. “Tagline pembangunan lima tahun ke depan adalah perekonomian maju, berkeadilan sosial, dan lestari. Maka, semua suara—termasuk dari mahasiswa—harus menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan.”

Forum ini mencerminkan komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam membangun kota yang inklusif, terbuka terhadap dialog, dan berbasis aspirasi warga, khususnya generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan.

Wujudkan Semarang Bersih, Agustina Luncurkan Program Zero Waste

SEMARANG (lensasemarang.com) – Menguatkan komitmennya dalam upaya mewujudkan Semarang bersih, Wali Kota Semarang Agustina meluncurkan Program Zero Waste berbasis masyarakat yang bertujuan mendorong gerakan pilah olah sampah dari sumber pada Sabtu (3/5/2025).

Hutan Kota Krobokan menjadi lokasi yang dipilih sebagai lokasi percontohan karena letaknya strategis dan komunitasnya aktif.

“Seperti kata pepatah: Bumi bukan warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu. Supaya saat kita sudah tidak ada di bumi ini (meninggal) anak cucu kita masih bisa menikmati bumi sama seperti kita. Jadi kalau bumi itu rusak berarti kita yang merusak karena kita menerima dalam keadaan baik,” kata Agustina.

‘Satukan Langkah Selamatkan Bumi’ menjadi tema yang diusung dalam Program Zero Waste Hutan Kota Krobokan Berbasis Masyarakat. 

Kegiatan ini juga sejalan dengan salah satu program prioritas 100 hari Wali Kota Semarang yaitu Semarang Bersih.

“Kalau kita mau merubah sebuah budaya (menerapkan zero waste) maka tidak bisa dilakukan serta merta tetapi harus sedikit demi sedikit. Pola perilaku penanganan sampah dimulai dari titik yang paling kecil yaitu saya (diri sendiri), baru keluarga dan seterusnya,” ujarnya.

Peluncuran program zero waste ini mendapat tanggapan antusias dari warga Kelurahan Krobokan. Warga merasa senang atas penunjukan Hutan Kota Krobokan sebagai lokasi percontohan.

Selain edukasi pilah sampah, pada kesempatan tersebut juga dilakukan penanaman bibit pohon dan penyaluran bantuan CSR dari berbagai perusahaan.

“Kami minta hutan kota ini dijaga dengan penanaman supaya hutan kota ini menjadi suatu berkah. Boleh dibuat (venue) kegiatan, dan harus, tapi dirawat bersama-sama jangan mengandalkan tenaga dari pemerintah kota karena ternyata secara anggaran itu sulit. Bersama-sama kita selesaikan, kita bersihkan hutan kota di Kelurahan Krobokan ini,” terang Agustina.

Adapun bantuan CSR yang disalurkan antara lain 2 unit becak sampah dari Hotel Grand Edge, 25 unit tong sampah pilah dua dari United Tractors, 50 unit tong sampah portable dari PT Bumi Palapa, 10 unit tong sampah portable dari PT Hino Cemaco, dan penyerahan masing-masing 2 unit dropbox B3 dari 8 perusahaan lainnya (seperti PT Arah Environmental Indonesia, PT Wastec International, dll).

“Terima kasih khususnya kepada Ibu wali kota Semarang yang sudah mendukung kegiatan zero waste di Kelurahan Krobokan dengan menanam pohon dan bantuan CSR, baik itu becak sampah maupun pengadaan tempat-tempat sampah sehingga membuat warga Krobogan menjadi semangat untuk mewujudkan zero waste ini,” ujar Wardoyo selaku Ketua LPMK Kelurahan Krobokan.

“Dalam program zero waste ini kami me-manage sampah dari rumah masing-masing sehingga jumlah sampah yang dibuang akan semakin diperkecil. Jadi di tempat pembuangan tidak (cepat) meluap-luap. Semoga Ibu wali kota terus mendukung program zero waste ini,” kara Tutus Irawan Ketua RT 12 Kelurahan Krobokan.