Home Blog Page 60

Ngobrol Bareng Ahmad Luthfi, Masyarakat Karanganyar Curhat Soal Lingkungan Hingga Pendidikan

KARANGANYAR (lensasemarang.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menggelar silaturahmi dengan puluhan warga bertajuk Ngobrol Bareng Pak Luthfi (Ngopfi), di Pendopo RM Said, Kabupaten Karanganyar, Senin (10/3/2025).

Pada acara itu hadir berbagai kelompok elemen masyarakat, mulai organisasi masyarakat, tokoh agama, pegiat lingkungan, lurah, camat, bupati, wakil bupati, dan Forkopimda setempat.

Dalam acara tersebut, Luthfi tampak mendengar, mencatat, dan menjawab persoalan-persoalan yang disampaikan secara bergantian oleh elemen masyarakat setempat.

Sejumlah aspirasi warga yang disampaikan pada malam itu diantaranya soal akses pendidikan, efisiensi anggaran yang berdampak pada okupansi hotel, eksploitasi lahan di Gunung Lawu, pertanian, serta masalah sosial lain.

Salah satu masukan dari perwakilan Dewan Pendidikan Karanganyar yang menyampaikan kendala terkait kurangnya sebaran satuan pendidikan di Kecamatan Tasikmadu dan Jaten Kabupaten Karanganyar.

Masyarakat setempat berharap, problem yang sudah cukup lama terjadi di daerah ini segera diselesaikan dengan keberadaan satuan pendidikan baru.

Menanggapi hal itu, Ahmad Luthfi mengapresiasi masukan tersebut. Ia akan segera menindaklanjuti dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jateng serta Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

“Kita akan (membuat kebijakan) untuk menyelesaikan permasalahan. Kita bahas bersama-sama, sehingga kita punya konsep yang betul-betul bisa dinikmati langsung untuk mengangkat wilayah Jawa Tengah,” ujar mantan Kapolda Jateng ini. 

Sebagai informasi, kegiatan Gubernur Jateng melakukan silaturahmi dan dialog dengan warga di Kabupaten Karanganyar ini merupakan daerah keempat, setelah sebelumnya digelar di Jepara, Kudus, dan Kendal. 

Silaturahmi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Ahmad Luthfi berkeliling ke-35 kabupaten/kota pada awal kepemimpinannya sebagai Gubernur Jawa Tengah. 

Tujuannya untuk menyerap apirasi, menggali potensi, dan menemukan permasalahan kemasyarakatan untuk kemudian diintegrasikan menjadi sebuah kebijakan.

Dampingi Wamentan, Wali kota Semarang Agustina Gelar Operasi Pasar

SEMARANG (lensasemarang.com) -Pemerintah Kota Semarang bersama Kementerian Pertanian menggelar operasi pasar guna menjaga kestabilan harga dan memastikan ketersediaan stok bahan pokok menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2025.

Operasi pasar ini diinisiasi oleh PT. Pos Indonesia dengan menghadirkan 1.050 gerai di berbagai daerah, termasuk 22 gerai di Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Agustina menyatakan optimisme bahwa langkah ini akan efektif guna menjaga kestabilan harga di pasaran.

“Pengendalian harga ini salah satunya adalah dengan memotong rantai distribusi. Salah satunya dengan membuka gerai di kantor pos. Di Kota Semarang ada 22 gerai Agri Pos,” ujarnya saat mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin dalam tinjauan Operasi Pasar Bahan Pangan Pokok, di Kantor Pos Johar, Semarang, pada Senin (10/3/2025).

Agustina menambahkan bahwa pihaknya akan terus berupaya mengendalikan harga dan memastikan stok pangan cukup hingga bulan depan. 

“Insyaallah stok cukup sampai dengan bulan depan. Dan kita akan pantau terus supaya stok itu digunakan merata. Tidak ada yang menumpuk di satu titik,” katanya.

Agustina turut menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan guna menjaga kestabilan harga.

“Sehingga warga nggak usah nyetok berlebih. Ini lho untuk kebutuhan hari ini, uangnya kalau ada lebih ya ditabung atau untuk kebutuhan lain,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa operasi pasar ini merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam mengatasi lonjakan harga bahan pokok.

“Di seluruh Indonesia, Kantor Pos total cabangnya ada 4.800, dan sampai dengan hari ini sudah membuka 1.050 titik gerai untuk operasi pasar,” katanya.

Sudaryono mengungkapkan bahwa harga beberapa komoditas pangan masih ditemukan melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) seperti beras medium yang seharusnya Rp12.500 per kilogram, namun masih ada yang menjual lebih mahal.

Begitu pula dengan minyak goreng MinyaKita yang seharusnya Rp15.700 per liter, tetapi masih ditemukan di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per liter.

“Maka yang kami lakukan adalah mendayagunakan 4.800 cabang Kantor Pos di seluruh Indonesia menjadi gerai sembako dengan harga yang lebih terjangkau. Misalnya, beras di gerai Kantor Pos dijual Rp12.000 per kg dan minyak goreng MinyaKita Rp14.700 per liter, lebih murah dari HET,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Pos Indonesia Faizal Rochmad Djoemadi mengatakan gerai PT Pos Indonesia yang dinamakan Agri Pos menyediakan kebutuhan pokok dalam operasi pasar tersebut, dengan pembelian yang dibatasi.

“Jadi, satu KTP (Kartu Tanda Penduduk) hanya boleh membeli maksimal 2 kg gula, 2 liter minyak goreng, dan 10 kg beras,” katanya di sela mendampingi tinjauan Wamentan.

Ia menyebutkan ada 1.050 gerai Agri Pos di seluruh Indonesia, kemudian 265 gerai di Jawa Tengah dan DIY, dan khusus di Kota Semarang ada 22 gerai. PT Pos Indonesia sendiri menggandeng sejumlah stakeholder seperti Bulog, ID Food, PT RNI, hingga PTPN untuk memasok kebutuhan pangan dengan harga yang lebih murah.

Gubernur Jateng Pastikan Pelayanan Publik dan Kesehatan di Desa Berjalan Baik

KARANGANYAR (lensasemarang.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan pelayanan kesehatan dan pelayanan publik di sejumlah desa di wilayahnya berjalan dengan baik. 

Hal itu disampaikan saat Ia mengunjungi Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo dan Desa Alastuwo, Kecamatan Kebakramat, Kabupaten Karanganyar, Senin (10/3/2025).

Pada kunjungan pertamanya, Luthfi meninjau pelaksanaan Program Spesialis Keliling (Speling) karena Desa Bulurejo menjadi salah satu desa yang menjadi sasaran pelaksanaan program berbasis kesehatan tersebut.

Salah seorang warga Desa Bulurejo, Sri Mulyani mengaku, antusias terhadap program tersebut sebab dirinya ingin bertemu dokter spesialis kejiwaan.

“Programnya sudah bagus, bisa ketemu dokter spesialis, jadi konsultasi masalah kesehatan,” ujarnya.

Di tempat tersebut, tersedia berbagai macam pelayanan kesehatan. Mulai dari deteksi kanker serviks, pemeriksaan bagi ibu hamil, hingga tracing TBC. Dokter spesialis pun dengan sabar dan ramah melayani satu persatu masyarakat. Bahkan tidak sedikit yang membawa rekam medisnya.

Sementara pada kunjungannya di Desa Alastuwo, Kecamatan Kebakramat, Luthfi meninjau pelayanan kependudukan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Identitas Anak (KIA). Di desa tersebut, pelayanan kesahatannya berjalan dengan baik. 

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga menyerahkan sejumlah program bantuan jaminan sosial. Diantaranya penyaluran modal usaha kepada dua kelompok usaha bersama (Kube) dengan masing-masing senilai Rp20 juta. Sehingga totalnya Rp40 juta.

Kemudian Kartu Jateng Sejahtera (KJS) dengan total sebesar Rp1.984.680.000, yang dialokasikan untuk 447 penerima manfaat di Kabupaten Karanganyar.

Berikutnya bantuan logistik Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), di masing-masing desa sebanyak satu ton beras untuk 100 keluarga, dengan 10 kg beras per keluarga.

Luthfi mengatakan, ingin mendekatkan pelayanan publik di tengah-tengah masyarakat. Sehingga bisa lebih mempermudah warga. 

“Semuanya pelayanan (publik maupun kesehatan) kita dekatkan, basisnya di desa,” kata Luthfi.

Gubernur Jateng Dorong Peningkatan Layanan RSUD Moewardi Surakarta

SURAKARTA (lensasemarang.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong peningkatan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi, Kota Surakarta karena pengguna layanan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jateng terus meningkat. 

“Per hari hampir 2.000 pasien, (rujukan) dari Jawa Timur dan Jateng, semuanya (perawatan di) Moewardi. Ini harus kita tingkatkan,” kata Luthfi saat mengunjungi RSUD Dr. Moewardi, Kota Surakarta, Senin (10/3/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Ia juga memimpin rapat bersama direksi rumah sakit membahas tentang pengembangan pelayanan dan peningkatan fasilitas. 

“Saya sudah koordinasi dengan Kementerian Sosial dan Walikota Surakarta, ada beberapa tempat yang nanti bisa dikolaborasikan. Sehingga (RSUD) Moewardi ini tidak hanya ikon kebanggaan rumah sakit Jawa Tengah, tapi juga kebanggaan secara nasional,” ujar mantan Kapolda Jateng ini. 

Beberapa fasilitas yang perlu ditingkatkan, lanjut Luthfi, antara lain perluasan akses parkir. Hal ini menjadi kendala lantaran luasan rumah sakit tersebut hanya 4,7 hektare.

Ia berharap, rumah sakit kelas A tersebut benar-benar memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi masyarakat. 

Dalam kunjungan tersebut, Luthfi didampingi Wali Kota Surakarta, Respati Ardianto, Kepala Dinas Kesehatan, Yunita Dyah Suminar, Plt Direktur RSUD Dr. Moewardi, dr. Heri Dwi Purnomo dan jajaran direksi rumah sakit setempat.

Sebagai informasi, rumah sakit Dr. Moewardi, memiliki spesialisasi pada pelayanan jantung dan kanker. Rumah sakit yang memiliki 930 tempat tidur ini juga memiliki laboratorium stem cell dan lainnya.

Jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap menunjukkan trend kenaikan. Pada 2022 jumlah pasien rawat jalan mencapai 383.579 orang, pada 2023 meningkat menjadi 451.949 orang, pun pada 2024 juga kembali meningkat menjadi 520.360 orang.

Pasien yang rawat inap juga mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022 jumlah pasien rawat inap mencapai 37.860 orang, pada 2023 meningkat menjadi 51.949 orang. pada 2024 juga kembali meningkat menjadi 59.646 orang.

Jadi Satu-satunya Siswa SIPSS Beragama Konghucu, Afat Diberi Kesempatan Beribadah Yang Luas

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pada Bulan Ramadhan tahun ini, 100 siswa Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana mulai menjalani pendidikan dan pengasuhan di Batalyon SIPSS Komplek Akademi Kepolisian, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Di antara sebagian besar siswanya yang Muslim, ada seorang siswa SIPSS yang beragama Konghucu.

Namanya Afat (23) lulusan S1 Pendidikan Agama Konghucu Sekolah Tinggi Agama Konghucu Indonesia (STIKIN) Purwokerto, Jateng.

Pria asli Depok, Jawa Barat itu sebelum lolos seleksi tingkat pusat SIPSS adalah Guru Agama Konghucu di SMPN 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

“Saya mulai kuliah tahun 2021, jadi lulusan pertama dan tercepat angkatan pertama di STIKIN Purwokerto. Oleh Kementerian Agama, saat itu Sekjen Prof. Nizar Ali, saya mendapatkan percepatan studi 6 semester saat kuliah karena ketika itu ada kebutuhan mendesak Guru Agama Konghucu yang harus linear (dengan kuliahnya),” kata Afat saat ditemui di Batalyon SIPSS, Komplek Akpol, Jumat (7/3/2024) malam.

Ketika diwawancara, rekan-rekan Afat yang muslim sedang menjalankan ibadah Shalat Tarawih di Musala Batalyon SIPSS.

Afat lulus dari STIKIN Purwokerto itu bersama 25 orang lain seangkatannya, rata-rata lulusannya menjadi guru, demikian juga Afat yang ketika itu mengabdi hingga ke Kepulauan Natuna menjadi Guru Agama Konghucu.

Afat juga ketika itu menjadi penyuluh agama non-PNS di Kabupaten Natuna. Selain itu, Afat juga rutin menulis di kanal website Pusat Bimbingan Pendidikan Konghucu Kementerian Agama RI.

Berjalannya waktu, Afat mendapat informasi pembukaan SIPSS di mana dibutuhkan jurusan yang dia tempuh saat kuliah. Afat mendaftar, mengikuti serangkaian seleksi baik tingkat daerah maupun pusat, hingga lolos SIPSS Gelombang I tahun 2025 ini.

“Seleksi awalnya mulai November 2024 di Pusat Misi Internasional Tangerang, kemudian dilanjutkan rangkaian seleksi lainnya,” ujarnya.

Afat memeluk Konghucu sejak kecil, keluarga inti dan keluarga besarnya penganut Konghucu.

Dirinya sendiri berangkat dari Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Depok, tempat ibadahnya Kong Miao Genta Kebajikan Makin, Depok, Jawa Barat.

Makin adalah hirarki di bawah tingkat Majelis Tinggi Agama Konghucu (Matakin) Indonesia dan Matakin tingkat Kota/Kabupaten.

Sejak kecil, Afat yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara ini, terus mempelajari Konghucu, termasuk rutin mengikuti sekolah minggu. Dia biasa beribadah di tempat ibadah agama Konghucu yang disebut Lithang, juga Kong Miao termasuk Kelenteng. Lithang, sebutnya merupakan ruang kesusilaan untuk melakukan kegiatan ritual sembahyang dan belajar.

Sementara Kong Miao digunakan untuk bersembahyang kepada Tuhan dan menghormati sosok besar dalam agama Konghucu yakni Nabi Khung Ce alias nabi penyempurna agama Konghucu. 

Sementara Kelenteng, disebutnya, sebagai tempat bersembahyang kepada Tuhan dan memuliakan Para Suci alias Shen Ming dalam agama Konghucu.

Saat mengikuti proses pendidikan ini, Afat mengaku tak mendapat kesulitan berarti ketika menjalankan ibadahnya. Meskipun, dia lebih banyak berdoa, dibandingkan sembahyang yang memerlukan tempat khusus hingga alat sembahyang lainnya seperti dupa, lilin dan sesaji persembahyangan.

“Pengasuh di sini, memberikan saya kesempatan seluas-luasnya untuk beribadah menurut keyakinan saya. Saya sendiri saat pendidikan dan pengasuhan ini, tetap bisa rutin berdoa, saya juga membawa kitab suci saya, Kitab Sishu atau kitab pokok untuk beribadah sebagai renungan refleksi ke dalam diri untuk mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” papar Afat yang berulang tahun tiap 25 Oktober itu.

Ditanya soal motivasinya menjadi anggota Polri, Afat berharap bisa lebih banyak melayani masyarakat, tak hanya pada pelayanan Konghucu.

Selain itu, dia juga melihat rekannya yakni Michael Josua yang beragama Konghucu sudah diterima di Akpol dan kini sudah berdinas. Selain itu, SIPSS 2024 juga ada rekannya bernama Dokter David dari kedokteran umum yang juga pemeluk Konghucu, sudah berdinas di Brimob Polda Papua.

“Saya melihat Polri ini menjunjung tinggi pluralitas dan mengabdi kepada masyarakat. Ini sesuai dengan yang saya pelajari di Konghucu, mempunyai jiwa yang suka berbagi,” katanya.

Agustina, Wali Kota Semarang Programkan Beasiswa di Sekolah Swasta

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pemerintah Kota Semarang menyiapkan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2025, salah satunya dengan menggandeng pihak sekolah swasta untuk menerima siswa yang kurang mampu dengan beasiswa.

Adanya kebijakan ini diambil terkait adanya temuan keterbatasan daya tampung sekolah negeri dibanding dengan jumlah kelulusan.

Agustina, Wali Kota Semarang meminta Dinas Pendidikan kota Semarang untuk mengatur skema jika ada siswa yang tidak bisa sekolah di sekolah negeri, bisa sekolah di sekolah swasta khusus bagi warga yang kurang mampu.

“Nanti misal SPPnya dibayar Pemkot, tapi kan kita gak bisa intervensi sekolah swasta. Saya minta ke kepala dinas untuk minta slot, biar bisa pakai beasiswa. Karena harus ada gotong royong dengan skema khusus ini,” terang Agustina di sela-sela acara Ngopi Bareng (Ngrobrol Penting Bersama Stakeholder Pendidikan Kota Semarang) di Grand Edge Hotel Semarang, Jumat (7/3/2025).

Adapun program yang akan direaliasikan pada 100 harinya bekerja sebagai Wali Kota Semarang, lanjutnya adalah membuat iklim kondusif di SPMB tahun ini.

Menurut Agustina, kalau pemerintah hanya menghitung daya tampung sekolah negeri dibandingkan jumlah lulusan, dipastikan tidak akan cukup untuk menampung siswa yang ada di Kota Semarang.

“Harus melibatkan sekolah swasta, kalau dilihat daya tampung dan jumlah lulusan tentu tidak sebanding,” ujarnya.

Agustina meyakini bahwa ada solusi dari permasalahan tersebut. Menurutnya permasalahan utama orang tua enggan ke sekolah swasta karena biaya yang mahal.

Di sini, lanjut dia, harus ada peran pemerintah karena sekolah swasta juga menjadi mitra dalam penyelenggaraan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa.

“Saya yakin ada solusi, karena problemnya nggak mau di swasta karena kan mahal, nah sekolah swasta harus dijadikan mitra untuk menyelenggarakan pendidikan, salah satunya dengan beasiswa,” katanya.

Dinas Pendidikan, kata dia, akan melakukan perhitungan, serta pemetaan anggaran dan jumlah siswa kurang mampu yang nantinya bisa mendapatkan beasiswa di sekolah swasta.

Agustina memastikan jika anggaran yang dibutuhkan nanti tidak hanya diambil dari APBD Kota Semarang saja.

“Ini masih dihitung, kebutuhannya berapa, nanti tidak hanya dari APBD, tapi kita bisa nembung ke provinsi, pengusaha untuk CSR secara khusus yakni beasiswa,” katanya.

Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan, jika prioritasnya adalah masyarakat miskin atau tidak mampu, dirinya tidak ingin ada anak putus sekolah karena kesulitan biaya.

“Sekolah gratis yang sudah ada, kalau baik ya dilanjutkan, kalau kurang ya ditambal. Intinya nggak boleh ada anak yang tidak sekolah karena biaya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto menjelaskan jika dinas sudah merancang beberapa konsep untuk siswa yang kurang mampu namun tidak memiliki kesempatan di sekolah negeri.

“Ada petunjuk dari Bu Wali, kalau nggak bisa masuk di negeri dan kurang mampu, bisa ke sekolah swasta dengan skema atau fasilitasi beasiswa,” ujarnya.

Bambang mengaku sudah melakukan pemetaan jumlah anak yang akan mendapatkan bantuan. Nantinya skenario bantuan tidak hanya berbasis dari APBD tapi juga diambil dari bantuan CSR.

Dokter Arfin Putuskan Gabung Polri Usai Lihat Pengabdian Polisi di Papua Pegunungan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Dokter muda campuran Bugis dan Papua yang bernama Arfinsasi Putra (29) pernah punya pengalaman memberikan pelayanan kesehatan di wilayah Papua Pegunungan sehingga akses, fasilitas, dan layanan yang masih terbatas menjadi tantangan tersendiri.

Selain itu, dr. Arfin juga sempat menjalani program internship di Rumah Sakit Bhayangkara, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Februari 2022 hingga Februari 2023.

Berangkat dari pengalaman-pengalaman itu, dia ingin mengabdi sebagai dokter sekaligus anggota Polri di tanah Papua, tempat kelahirannya.

“Saya juga memang punya cita-cita jadi polisi, ketika internship di RS Bhayangkara Mataram saya jadi memahami peran dokter di lingkungan kepolisian,” kata Arfin yang lahir 14 September 1995 itu, ditemui di Komplek Akademi Kepolisian (Akpol), Kota Semarang, Jumat (7/3/2025).

Dia bercerita, setelah lulus S-1 Kedokteran Umum dari Universitas Cendrawasih, Jayapura, Provinsi Papua, dan internship di RS Bhayangkara Mataram, Provinsi NTB, Arfin bertugas sebagai dokter di Papua di RS Daerah Oksibil, Papua Pegunungan.

Disanalah semangatnya makin menjadi untuk mengabdi jadi insan bhayangkara.

Dia selanjutnya lolos seleksi Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS), yang merupakan jalur khusus bagi lulusan D4, S1 ataupun S2 untuk menjadi Perwira Pertama (Pama) Polri.

“Saya memang mengikuti seleksi yang diperuntukkan bagi tenaga kesehatan,” kata Arfin.

Meskipun bukan orang asli Papua (OAP), namun Arfin lahir dan besar di sana.

Dirinya berharap, setelah mengikuti pendidikan dan pengasuhan SIPSS selama 4,5 bulan ini dan resmi jadi perwira Polri, bisa nantinya bertugas sebagai dokter polisi di Papua.

“Saya merasa sudah menjadi bagian dari Papua, saya ingin kembali ke sana (bertugas) untuk membantu di sektor kesehatan lewat jalur kepolisian,” ujarnya penuh semangat.

Berkah Ramadhan, Polrestabes Semarang Bagikan Ribuan Paket Takjil

SEMARANG (lensasemarang.com) – Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M Syahduddi bekerja sama dengan Mitra Kamtibmas (Pro 7) membagikan 1.500 paket takjil kepada para pelintas jalan di Kawasan Simpang Lima.

Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap keselamatan berlalu lintas.

Personel Polrestabes Semarang dari berbagai satuan di lingkungan Polrestabes Semarang hadir membantu penyaluran takjil ini sehingga kegiatan berjalan lancar dan tertib, baik pengendara kendaraan bermotor, pejalan kaki, maupun pengemudi becak disambut dengan paket takjil dan imbauan untuk mematuhi peraturan lalu lintas.

“Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian kami terhadap masyarakat, khususnya mereka yang berpuasa di bulan suci Ramadhan ini,” kata Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M Syahduddi.

Pihaknua berharap, gerakan kecil berbagi ini dapat membawa keceriaan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa, sekaligus menjadi pengingat untuk mengutamakan keselamatan di jalan raya.

Lokasi penyaluran yang strategis di depan posko lalu lintas Simpang Lima membuat petugas dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Takjil yang dibagikan ini menumbuhkan interaksi positif antara aparat penegak hukum dan masyarakat, sehingga semakin mempererat tali silaturahmi.

Di sisi lain, dirinya menyebut juga meningkatkan patroli keamanan untuk mencegah berbagai gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat selama Ramadhan seperti balapan liar, tawuran hingga perang sarung yang kerap terjadi di sejumlah titik di Kota Semarang.

“Kami akan terus melakukan patroli di pemukiman, dan lokasi-lokasi yang rawan terjadi gangguan keamanan. Kami juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar mengawasi anak-anak mereka agar tidak terlibat dalam aktivitas yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Selain manfaat praktis berupa penyediaan makanan bagi mereka yang berbuka puasa, kegiatan ini juga menjadi simbol persatuan dan bentuk toleransi umat beragama.Upaya bersama antara Polrestabes Semarang dan Mitra Kamtibmas (Pro 7) menyoroti pentingnya inisiatif kolaboratif masyarakat dalam mempromosikan keharmonisan dan kesejahteraan sosial.

Agustina-Iswar Luncurkan Program Kerja 100 Hari

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina meluncurkan Program Kerja 100 Hari pertama masa kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin.

Agustina mengatakan ada tiga sektor yang menjadi prioritas yaitu perbaikan infrastruktur, penanganan sampah, dan akses pelayanan kesehatan. Ketiga hal tersebut menurutnya merupakan tantangan guna memastikan peningkatan kualitas hidup masyarakat Kota Semarang.

Untuk awalan, dirinya memastikan percepatan penyelesaian pembangunan infrastuktur guna mendukung mobilitas penduduk dan mendorong seluruh jajarannya untuk bergerak cepat dalam menangani atau merespons keluhan masyarakat.

“Saya menekankan untuk menjadikan keluhan masyarakat terkait infrastruktur di media sosial, entah media sosial milik saya pribadi, Pemkot Semarang, atau yang masuk ke akun kepala OPD untuk segera ditindaklanjuti dan diselesaikan,” kata Agustina di sela-sela tinjauan perbaikan jalan sekitar Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Kota Semarang, Jumat (7/3/2025).

Agustina menyebutkan meski efisiensi anggaran menjadi perhatian utama pemerintah, pihaknya tetap menjalankan tugas dengan anggaran yang tersedia, tanpa mengurangi kualitas dan manfaat bagi masyarakat.

“Memang ada beberapa hal yang tidak tersedia, seperti biaya pemeliharaan yang kurang banyak. Justru itu, kami segera melakukan penyesuaian dan perubahan agar gangguan seperti jalan berlubang, jalan rusak, atau penutup-penutup jalan yang hilang bisa terselesaikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agustina menegaskan bahwa setiap proyek yang dijalankan akan tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. “Kami bertekad membantu masyarakat dengan cara-cara yang baik. Dan saya pastikan penggunaan anggarannya benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan memenuhi ketepatan standar akuntabilitas,” katanya.

Pernyataan Agustina ini menjadi jawaban atas pertanyaan mengenai pengurangan anggaran di beberapa sektor di Pemkot Semarang dan keterkaitannya dengan kebijakan pemerintah yang tengah dijalankannya.

“Tentu ada pos-pos yang dikurangi, seperti perjalanan dinas maupun makan minum kegiatan. Penyesuaian anggaran tetap diselaraskan dengan tiga hal, yakni visi misi pemerintah pusat, visi misi pemerintah provinsi, dan visi misi kami. Dan semuanya ini didedikasikan khusus untuk masyarakat,” ujarnya.

Selain infrastruktur, Agustina mengatakan target 100 hari pertamanya yang kedua, yakni Semarang Bersih guna mengurangi pembuangan sampah, Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Semarang akan menjadi agen percontohan pengelolaan pilah sampah dari rumah tempat tinggalnya masing-masing maupun di tingkat RT.

“Mulai sekarang, para pejabat eselon 2 dan eselon 3 harus disiplin dalam memilah dan mengelola sampah dari rumah. Kemudian, para istri pejabat harus menjadi bagian dari PKK sebab PKK merupakan garda terdepan proses pilah sampah di tingkat RT,” kata Agustina.

Dengan konsep pendekatan keteladanan ASN kepada masyarakat, Agustina berharap akan menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat tidak sekadar untuk menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga bisa menghasilkan sampah yang bernilai ekonomi.

“Kebersihan dan keindahan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Tanpa kebersamaan hal tersebut tidak akan terwujud,” tegasnya.

Agustina juga menambahkan kesehatan menjadi salah satu program prioritasnya. Dia pun menargetkan prioritas kenaikan cakupan Universal Health Coverage (UHC) untuk seluruh masyarakat Kota Semarang. Pihaknya mengakui masih perlu pembahasan lebih lanjut untuk mematangkan pemanfaatan program tersebut.

“Secepatnya akan kami sampaikan ke teman-teman media data resmi kebutuhan anggaran untuk UHC ini. Harapannya jelas bisa meng-cover lebih banyak lagi. Namun, tetap harus mempertimbangkan alokasi dan kebutuhan anggaran yang ada untuk infrastruktur, kesehatan, UMKM, hingga pendidikan, salah satunya beasiswa untuk anak sekolah yang SPP-nya nunggak di sekolah swasta,” ujarnya.

Seratus hari pertama bagi Agustina bersama Iswar Aminuddin, akan menjadi langkah awal dari perubahan besar untuk mendorong Kota Semarang menjadi pusat ekonomi yang maju, berkeadilan sosial, lestari, dan inklusi. Dengan semangat kerja sama dan kolaborasi, Agustina mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung dan mengawal setiap kebijakan guna mewujudkan Kota Semarang yang memberdayakan, nyaman, aman, dan berkelanjutan.

“Mohon doa restunya agar kami bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya dan demi kesejahteraan masyarakat Kota Semarang,” ujarnya.

Dokter Putri, Siswa SIPSS Asli Papua Ini Tertarik Jadi Polisi Setelah Bertugas Relawan Media Covid-19

SEMARANG (lensasemarang.com) – Dokter Marlina Putri Purnamasari Pekpekai (29) lolos seleksi Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Tahun 2025.

Putri, sapaannya, adalah orang asli Papua yang mendaftar SIPSS melalui Polda Papua.

Dokter Putri punya cerita tersendiri hingga memutuskan mendaftar sebagai anggota Polri lewat jalur SIPSS.

Selepas lulus Prodi Kedokteran Umum Profesi Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, akhir tahun 2019, dirinya menjalani program internship di Papua.

Lokasinya di Rumah Sakit Angkatan Laut di Merauke dan Puskesmas Karang Indah Merauke.

Selesai program itu, dia mendapat pesan dari kawannya sesama dokter. “Saya posisi ketika itu sedang pengurusan STR (Surat Tanda Registrasi) di Jakarta, senior saya bilang lewat WA, kami masih kurang orang sebagai relawan tenaga medis Covid-19 di Wisma Atlet (Jakarta), apakah mau bergabung atau tidak?” kata Dokter Putri saat ditemui di Kompleks Akademi Kepolisian Kota Semarang, Jumat (7/3/2025).

Mendapat tawaran itu, tanpa banyak pertimbangan, ia mengiyakan bergabung karena menurutnya, kondisi ketika itu tenaga medis sangat dibutuhkan untuk menangani pasien yang jumlahnya begitu banyak.

Sebagai dokter, tenaga medis, hatinya tergugah menolong sesama. Putri menghabiskan waktu sekira enam bulan menjadi relawan di Wisma Atlet Jakarta yang ketika itu digunakan sebagai RS Darurat penanganan pasien Covid-19.

Seharinya, bekerja shif, rata-rata 9 jam namun seringkali juga mencapai 12 jam per hari.

“Selama itu (per shif) pakai baju Covid itu (APD) tanpa bisa kami buka. Itu hectic banget, apalagi kalau jaga di bagian critical, satu dokter umum ambil 3 lantai (bertanggung jawab) satu lantai isinya bisa puluhan pasien, dari yang ringan sampai berat,” sambung Putri yang berulangtahun tiap tanggal 18 Oktober itu.

Tugas sehari-hari di sana berinteraksi dengan para pasien menanyakan kondisi dan keluhannya. Suatu waktu, ada pasien kategori ringan yang tiba-tiba drop, nafasnya memberat. Posisinya di lantai atas.

“Itu pasien di atas lantai 10 lah kira-kira, sementara IGD di tower bawah. Nah untuk menurunkan pasien, saya lari pakai baju APD itu ada kali 4 lantai saya lari, sampai atas terengah-engah, tapi saya lebih pikir pasien saya jadi tetap saya jalani,” cerita anak pertama dari 4 bersaudara itu.

Sebab memang bangunannya didesain sebagai wisma penginapan, bukan diperuntukan untuk perawatan medis, Putri menyadari betul berbagai kendalanya.

“Seperti mobilisasi pasien agak susah kan,” ungkapnya.

Selesai jadi relawan di Wisma Atlet Jakarta, Putri kembali jadi relawan medis di organisasi non-profit bernama Yayasan Tunas Bhakti Nusantara. Bersama teman-teman dokternya, Putri mendapat tugas sebagai relawan vaksinasi di Polres Metro Bekasi.

“Saat itu namanya Vaksin Merdeka,” kata Putri.

Sehari-hari, bersama dokter dari Urminkes Polres Metro Bekasi dan tim, Putri bertugas melakukan pengawasan vaksinasi yang sedang berjalan. Dari situlah, dia mulai banyak berinteraksi dengan polisi, termasuk para kapolsek hingga kapolres setempat.

Putri melihat ada ketertarikan tersendiri di mana seorang dokter yang juga sebagai anggota Polri melakukan tugas pengabdiannya. Berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus juga mengabdikan diri di profesi kesehatannya.

“Dari situ saya tertarik, ternyata tupoksi polisi nggak hanya atur lalu-lintas, nangkep penjahat, tapi ternyata banyak banget. Ini soal vaksinasi juga harusnya tenaga kesehatan tapi Polri yang turun tangan. Ini jadi motivasi saya, tidak hanya ketemu pasien tetapi juga lebih sering berinteraksi dengan masyarakat (dokter polisi),” ujarnya.

Putri bersyukur bisa lolos seleksi dan menjalani pendidikan SIPSS Gelombang I tahun 2025 ini yang resmi dibuka Kamis (6/3/2025). Dia ingin ketika selesai menjalani pendidikan dan jadi perwira Polri, bisa bertugas kembali di Papua yang merupakan tanah kelahirannya.

“Dari segi kesehatan Papua masih kurang lah, tenaganya memang banyak tapi pemeratannya yang belum sama. Ini jadi semangat saya untuk mengabdi di tanah kelahiran saya di Papua,” katanya.