SEMARANG – Sejumlah pemuda sedang menenggak minuman keras (miras) menjelang pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) 2024 di Semarang. Pesta miras memicu keributan hingga masyarakat menuntut pemungutan suara ulang.
Aparat kepolisian turun tangan menertibkan aktivitas pesta miras tersebut dalam simulasi kesiapan pengamanan Pemilu 2024 di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (3/2).
Di suatu Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dianggap berpotensi rawan konflik dijaga ketat aparat dari Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) dan Polrestabes Semarang.
Terdapat surat suara yang rusak di TPS tersebut yang memicu protes masyarakat. Kejadian tersebut dapat ditangani oleh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
Namun, dari peristiwa tersebut muncul isu bahwa banyak surat suara yang telah dicoblos sebelum pemungutan suara berlangsung. Reaksi protes terjadi dan menganggap surat suara sudah dicoblos tersebut menguntungkan pasangan calon (paslon) tertentu.
Keributan masyarakat makin menjadi menuntut pemungutan suara ulang dilakukan. Massa melakukan unjuk rasa dengan membakar ban di depan Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng.
Kekacauan yang sempat terjadi di hari pemungutan suara tersebut mengakibatkan para petinggi dievakuasi menggunakan helikopter.
Sejumlah kendaraan taktis (rantis) dikerahkan, gas air mata ditembakkan hingga akhirnya kerusuhan tersebut dapat diredam oleh aparat Kepolisian Republik Indonesia (Polri)
Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komisaris Jenderal (Komjen) Pol. Fadil Imran menyebut simulasi untuk memastikan personel dalam menghadapi Pemilu 2024.
“Kami melakukan pengecekan tidak lain dan tidak bukan agar kesiapan personil, kesiapan peralatan, kesiapan logistik, kesiapan operasional semua bisa tergelar menghadapi tahapan inti Pemilu 2024,” ujarnya.
Komjen Fadil menyatakan, simulasi pengamanan Operasi Mantab Brata kali ini juga dilakukan seluruh kepolisian daerah (polda) di Indonesia.
Menurutnya, rasa aman pemilih bebas dari kekhawatiran datang ke bilik suara untuk memilih pemimpin merupakan tanggung jawab kepolisian sebagai pelayan masyarakat.
“Maka rutin untuk menjaga Kamtibmas maupun apabila terjadi peningkatan eskalasi. Sehingga pembangunan ini bisa terus dilanjutkan siapa pun pemimpinnya nanti yang akan terpilih,” ujarnya.
Dalam Operasi Mantab Brata Polri terdapat poin utama yang dijalankan yaitu, menghadapi hoaks, baik konvensional maupun siber, dan nusantara cooling system targetnya yang juga melakukan reduksi terhadap berita-berita hoaks.
“Data terakhir yang saya saya pernah terima ketika akhir penutupan tahun ini memang volumenya secara kuantiti menurun, tetapi memang ada beberapa kasus-kasus yang perlu mendapat perhatian,” katanya.
