Modalitas Politik Sebagai Faktor Elektabilitas Dalam Politik Lokal

Penulis: Inosensius L. Makus

SEMARANG (lensasemarang.com) – Konsep teori modalitas Bourdieu dalam praktek dinamika politik lokal menjadi sumber daya dalam memperoleh dukungan (Support), mendapatkan legitimacy dari rakyat, kepercayaan (trust), mobilisasi masa pendukung. Masyarakat yang terbentuk dan terintegrasi menjadi bagian pada salah satu kandidat politik dalam pilkada.

Latar belakang sosial-politik politik memberikan konteks yang sangat penting dalam memahami mekanisme kerja modalitas pasangan calon. Dalam konteks pemilihan Kepala Daerah, Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur sebagai wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik demografis yang khas, di mana heterogenitas masyarakat terutama keberadaan warga baru Timor-Timur membentuk identitas politik yang berbeda dibandingkan wilayah lain, keberadaan suatu komunitas warga baru dengan populasi banyak dapat menjadi entitas sosial yang memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat, sekaligus memiliki orientasi politik yang relatif solid dan mudah dimobilisasi oleh figur yang kerap merepresentasikan identitas kolektif (Yuliani & Ardianto, 2020).

Dalam konteks ini, keberadaan figur yang memiliki kedekatan historis, kultural, dan emosional dengan komunitas tersebut menjadikan kandidat pilkada memiliki modal budaya yang signifikan.

Modalitas politik dari filsuf Pierre Bourdieu dengan konsep modal budaya, modal ekonomi, modal sosial dan modal simbiotik, memiliki ruang dalam meningkatkan dan menciptakan elektabilitas dalam politik lokal khususnya pemilihan kepala daerah. 

Uraian mengenai: Modalitas ini tidak berdiri sendiri, melainkan kemudian dikonversi menjadi daya elektabilitas melalui pembentukan jaringan komunitas, hubungan informal, serta solidaritas kelompok yang terinstitusionalisasi dalam struktur sosial masyarakat.

Pada pilkada Kabupaten Belu tahun 2024, koalisi Partai Demokrat, Gerindra, Nasional Demokrat dan Perindo menjadi salah satu koalisi partai yang mengusung pasangan calon Willybrodus Lay dan Vicente H. Goncalves untuk bertarung dalam kontestasi pilkada Kabupaten Belu.

Keputusan politik dalam membentuk koalisi ini dapat ditarik sebuah jawaban bahwa keterlibatan unsur kultur dalam memilih pasangan sangat penting dalam membentuk kekuatan politik pendukung. Dalam konteks pilkada Belu tahun 2024, secara garis besar dikatakan bahwa Partai Gerindra identik dengan warga baru Timor-timur.

Fenomena ini terbentuk secara lahiriah yang tidak terlepas dari persoalan antara warga Timor-Timur dengan kedekatan bersama Prabowo Subianto ketika bertugas di Timor-Timur. Hubungan emosional yang dibangun, membentuk identitas yang tertanam dalam diri warga Timor-timur dan mengerucut pada orientasi politik warga Timor-timur. Sehingga Partai Gerindra dalam pandangan warga baru Timor-timur di Kabupaten Belu adalah bagian dari identitas mereka.  

Koalisi partai pengusung Willybrodus Lay-Vicente H. Goncalves menjadi sebuah tawaran politik yang berbeda dari kandidat paslon pilkada yang lainnya. Pada umumnya pilkada di Kabupaten Belu cenderung memilih pasangan wakil dari latar belakang warga lokal sendiri, hal ini nampak dalam masing-masing kandidat yang telah diuraikan sebelumnya bahwa memilih warga Belu menjadi sebuah pola modal yang dapat mengarahkan masa pendukung pada kandidat tersebut. 

Kendati demikian, pada pilkada Belu tahun 2024, melalui koalisi partai politik terdapat rekrutmen tokoh warga baru Timor-timur yang menjadi representasi dari komunitas besar warga yaitu warga baru Timor-timur.

Vicente H. Goncalves adalah jawaban dari modalitas sebuah tawaran politik yang berbeda akan tetapi memiliki sumber daya dalam mobilisasi masa.

Menjadi penting karena mampu mengintegrasikan seluruh bentuk modalitas tersebut ke dalam sebuah analisis yang utuh dan sistematis. Urgensi topik ini tidak hanya bersandar pada fenomena kemenangan pasangan Lay–Goncalves itu sendiri, tetapi juga pada perlunya pemahaman teoritis mengenai bagaimana modal-modal politik bekerja secara kontekstual dalam ruang sosial tertentu.

Dengan menggunakan teori modal Bourdieu, dapat ini mengisi celah dalam kajian politik lokal Indonesia, terutama dalam menghubungkan teori modalitas dengan dinamika Pilkada yang sejauh ini lebih banyak dianalisis dari perspektif perilaku pemilih, strategi kampanye, atau konflik elite (Ramadhan & Ridwan, 2020).

Dalam dinamika politik lokal, eletabilitas dari modalitas dapat dideskripsikan melalui modal budaya. Kasus pilkada Kabupaten Belu, modal budaya tercermin dalam kesamaan latar belakang sebagai bagian dari warga baru Timor-timur dan persamaan senasib perjuangan yang kemudian mengarah pada legitimasi, mewakili kelompok masyarakat yang besar dalam kontestasi pilkada Belu tahun 2024. 

Vicente adalah representasi modal budaya warga baru Timor-timur di Kabupaten Belu, potensi inilah yang menjadi sebuah tawaran politik berbeda yang dimiliki antara pasangan

​Modal simbolik juga menjadi dimensi yang sangat relevan dalam kemenangan pasangan kandidat di kontestasi pilkada. Melalui rekam jejak kandidat yang dikenal masyarakat, kandidat memiliki legitimasi simbolik yang kuat, terutama terkait citra kepemimpinan, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuan menyelesaikan persoalan daerah selama masa jabatan sebelumnya.

Pasangan ini memperoleh keuntungan dari “recognition” dan reputasi aspek yang dalam teori Bourdieu termasuk dalam “symbolic capital” yang mampu meningkatkan dominasi sosial dalam sebuah “field” politik lokal (Bourdieu, 1986; Sari et al., 2018).

Pendekatan seperti ini telah digunakan untuk menjelaskan bagaimana kandidat dari kelompok minoritas dapat memenangkan Pilkada, melalui konversi modal sosial, budaya, dan simbolik ke dalam dukungan elektoral (Yuliani & Ardianto, 2020).

​Pilkada Kabupaten Belu tahun 2024 menjadi awal bagi keterlibatan warga baru Timor-timur dalam pilkada, kondisi inilah menjadi modalitas pembeda yang menempatkan pasangan Willy-Vicente mampu mengarahkan dan memobilisasi masa dengan sumber daya modal sosial dan modal budaya yang tercermin dalam Figur Vicente H. Goncalves.

Deskripsi dari modalitas meningkatkan elektabilitas dapat didilihat pada pilkada Kabupaten Belu tahun 2024, dengan perolehan suara sebagai berikut: 1.Willy-Vicente:46.173 suara, 2. Agus-Yulianus: 34.132 suara, 3. Servas-Pius 4.388 suara, 4. Roni- Theodorus 16.062 suara. 

Perbandingan dari perolehan suara dalam pilkada di Kabupaten Belu, menjadi gambaran bahwa modalitas sebagai salah satu strategi dalam peningkatan elektabilitas politik lokal.

Bertolak dari teori modalitas Bourdieu, mengacu pada berbagai jenis modal yang dimiliki individu untuk memperoleh kekuasaan dalam suatu arena sosial politik (Bourdieu,1983:20) maka menjadi rujukan bagi setiap partai politik dan aktor politik dalam menentukan pasangan calon.

Dinamika politik dalam pilkada adalah membaca situasi politik, potensi-potensi yang mampu menciptakan modalitas dalam kontestasi pemilihan umum. Figur kandidat mengkolaborasikan modalitas dari keunggulan masing-masing figur dalam koalisi partai yang ideal dengan memperhatikan potensi.

Koalisi partai dan penetapan calon kandidat dengan melihat representasi dari modal sosial, modal budaya mengarahkan keterlibatan legitimasi masyarakat dalam kontestasi dan keunggulan modalitas dari pasangan kandidat lainnya dalam dinamika politik lokal.

Berita Terkait