SEMARANG – Krisseptiana, berdiri terpatri di samping suaminya Hendrar Pribadi usai menghadiri ujian tertutup doktor ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Diponegoro. Wajah terlihat bahagia ketika perjuangannya menyelesaikan disertasi menjadi pencapaian karena berhasil melewati berbagai ujian hidup penuh tantangan.
Perempuan yang juga Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah itu mengaku tidak menyangka bahkan di tengah kesibukan keluarga, kondisi kesehatan yang menurun, hingga rasa ragu pada diri sendiri bisa dilewati dengan ketulusan hati.
Bahkan dia dalam disertasinya, Mbak Tia mengangkat tema “Pengembangan Manajemen Penanganan Stunting di Kota Semarang: Studi tentang Kinerja Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Semarang.”
Proses penyusunan disertasi penuh tantangan. Di tengah padatnya agenda, ia harus aktif berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk rekan-rekan sesama mahasiswa S3.
Menurut Mbak Tia, tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri, terutama ketika rasa lelah dan malas mulai muncul di tengah proses penyelesaian studi. Namun, ia memilih tetap menjaga niat dan tidak terus menunda pekerjaan rumah.
“Yang membuat saya bangga bukan hanya soal lulus, tetapi karena bisa melewati semuanya. Tantangannya justru ada pada diri sendiri. Kadang ada rasa malas, apalagi ketika kondisi kesehatan kurang baik. Tapi saya berpikir yang penting tetap diobati dan tetap punya niat menyelesaikan. Kalau ditunda terus, ya tidak akan selesai,” kata dia.
Proses penyusunan disertasinya berlangsung sekitar satu hingga satu setengah tahun. Menurutnya, waktu tersebut dapat dilalui karena sejak awal ia telah menentukan topik penelitian dan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang berkaitan dengan tema disertasi.
“Kurang lebih satu sampai satu setengah tahun, karena sejak awal kami sudah diarahkan menentukan topik yang nantinya menjadi disertasi. Jadi tugas yang dikerjakan juga sudah berkaitan dengan tema tersebut,” ujarnya.
Perjuangan itu akhirnya membawanya mengikuti ujian tertutup atau ujian akhir doktor pada Rabu, 6 Mei 2026.
Usai menuntaskan studinya, Mbak Tia mengaku merasakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Baginya, kelulusan menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membanggakan.
Semangatnya tumbuh ketika ia ingin terus memperbarui ilmu serta lingkungan perkuliahan yang positif menjadi penyemangat utama. Kehadiran teman-teman sekelas yang aktif dan suportif membuatnya semakin termotivasi menjalani studi doktoral.
“Saya semangat lagi, bertemu dengan teman-teman baru di kampus yang sangat semangat. Bahkan mereka juga sering mengajak diskusi. Misalnya ada tugas, kita bisa diskusi bareng. Itu perjalanan yang tidak mudah. Up and down pasti saya rasakan. Kadang ada rasa malas, bahkan sempat bertanya pada diri sendiri, kenapa ya saya mengambil S3,” ujar Mbak Tia di Semarang, Rabu (20/5/2026).
Lebih jauh, istri mantan Wali Kota Semarang itu menuturkan, keinginannya menyelesaikan pendidikan lahir dari tekad untuk memberi teladan kepada anak-anaknya.
Meski semangat belajar kerap naik turun di tengah padatnya aktivitas, Mbak Tia berusaha menjaga pola pikir positif dan terus memotivasi diri supaya bisa lanjut selesai.
Baginya, menuntaskan pendidikan bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga memiliki makna penting bagi keluarga.
“Ini bagian bentuk aktualisasi diri karena saya bisa belajar lagi dan menyelesaikannya. Kemudian, saya juga ingin memberikan contoh kepada anak-anak,” jelasnya.
Mungkin di usia 54 tahun ini terlihat tidak biasa. Sebab kebingungan di benaknya terasa ketika nantinya setelah lulus doktor di usia 54 tahun mau apa. “Tapi justru itulah alasannya, saya ingin terus mencari ilmu sebanyak-banyaknya,” ujarnya.
Mbak Tia juga mengaku mendapat inspirasi besar dari sosok Bu Isti, seorang guru posyandu dan PAUD yang berhasil menempuh pendidikan S2 di usia 60-an tahun. Kisah perjuangan tersebut kerap memotivasinya dan membuatnya semakin antusias membayangkan momen wisuda sebagai pencapaian yang bermakna.
Di balik semangat Mbak Tia hingga akhirnya mampu menyelesaikan disertasinya, ada peran besar sang suami, Hendi.
Menurutnya, Hendi selalu memberikan dukungan selama dirinya menempuh pendidikan S3. Saat Mbak Tia merasa kesulitan, Hendi tak pernah membiarkannya larut dalam keraguan. Ia terus menyemangati agar tetap belajar dan memanfaatkan materi maupun buku yang sudah tersedia.
Tak hanya itu, ketika Mbak Tia merasa cemas menghadapi ujian, Hendi mengingatkannya bahwa setiap argumentasi harus didasarkan pada data. Baginya, berbicara dan menyampaikan pendapat harus disertai landasan yang kuat.
Mbak Tia mengaku perjalanan tersebut terasa seru sekaligus menantang. Dukungan juga datang dari anak-anaknya yang turut senang melihat dirinya kembali belajar. Ia berharap semangat itu dapat menjadi teladan agar anak-anaknya yang masih muda terus memiliki kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri.
” Seru sih, seru. Anak-anak juga senang sih anak-anak. Support anak-anak lah supaya mereka yang masih muda, anak-anak saya gitu ya harus mau belajar,” katanya.
Bahkan, di tengah kepenatan Mbak Tia menghadapi perkuliahan maupun padatnya aktivitas, Hendi kerap mengajaknya melepas penat dengan berburu kuliner bersama.
Mbak Tia mengungkapkan, salah satu kesamaan dirinya dengan Hendi adalah sama-sama gemar menikmati aneka makanan. Namun, menurutnya, mereka bukan tipe yang selalu berburu tempat makan baru, melainkan lebih senang menikmati kuliner khas di setiap daerah yang dikunjungi.
Ia menuturkan, saat berada di suatu kota, mereka biasanya memilih makanan yang sudah dikenal lezat atau berdasarkan rekomendasi warga setempat. Jika cocok di lidah, tempat makan tersebut tak segan untuk kembali dikunjungi.
“Kalau di Pekalongan ya makan yang khas Pekalongan, di Pemalang juga begitu. Di Jakarta ya cari makanan khas seperti bubur ayam atau soto Betawi,” pungkasnya.



