Home Blog Page 63

Terpilih Jadi Ketua Kosgoro Kota Semarang, Mararas Apuwara Siap Cetak Kader Baru Golkar

SEMARANG (lensasemarang.com) – Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Kota Semarang telah menggelar Musyawarah Daerah (Musda) IV pada Selasa (25/2/2025) dan terpilih secara aklamasi Mararas Apuwara sebagai Ketua PDK Kosgoro 1957 Kota Semarang Periode 2025-2030.

Musda tersebut turut dihadiri dan dibuka oleh Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, Ketua PDK Kosgoro 1957 Jawa Tengah M Saleh, Ketua DPD Partai Golkar Kota Semarang, Erry Sadewo, dan sejumlah perwakilan ormas.

Ketua terpilih Kosgoro 1957 Kota Semarang, Mararas Apuwara dalam sambutannya menyampaikan, Kosgoro Kota Semarang adalah wadah untuk berbagai kalangan dalam pengabdian di masyarakat.

“Kaderisasi Kosgoro 1957 Kota Semarang, difokuskan untuk masyarakat umum menjadi Kosgoro sehingga diharapkan, Kosgoro 1957 bisa optimal dalam mencetak kader-kader baru bagi Partai Golkar,” ujarnya.

Mararas yang juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menyampaikan bahwa dirinya siap untuk menjalankan kebijakan Kosgoro pusat dan tingkat provinsi demi kebesaran Kosgoro di masa depan.

“Tentunya, agar terwujud cita-cita bersama, kami juga menunggu intruksi agar selaras dengan program-program bersama nantinya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PDK Kosgoro Kota Semarang Periode 2020-2025, Agung Priyambodo mengatakan, Kosgoro adalah salah satu ormas pendiri Partai Golkar yang yang mempunyai semangat Tri Dharma Kosgoro yaitu Pengabdian Kerakyatan dan Solidaritas.

“Dalam kesempatan ini kami juga ingin menyampaikan, setelah 4 periode yakni Masa Bhakti 2008-2010 , 2010-2015 , 2015-2020 dan 2020-2025, selama saya memimpin didampingi Sekretaris Sutrisno seharusnya habis masa bhakti ke 4 ini selesai pada bulan Juli, karena saya merasakan harus ada estafet  dan pengkaderan untuk dipercepat,” ungkapnya dalam sambutan.

Agung menyebut Mararas Apuwara adalah kader Kosgoro yang menjabat sebagai pimpinan Kecamatan Kosgoro 1957 di Kecamatan Candisari masa bakti 2021- 2026 dan terpilih menjadi Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Semarang masa bakti 2024 -2029, sudah selayaknya dirinya harus memberikan estafet kepemimpinan PDK Kosgoro 1957 Kota Semarang.

“Alhamdulillah dengan musyawarah mufakat pada Musda IV ini seluruh peserta musda yang dihadiri PDK Kosgoro 1957 Jawa Tengah , pengurus Kota Semarang , Barisan Muda Kosgoro Kota Semarang dan 16 Pimpinan Kecamatan Kosgoro sekota Semarang secara aklamasi dan calon tunggal memilih Mararas Apuwara sebagai Ketua dan tetap didampingi Sekretaris Sutrisno SKm,” bebernya.

Lebih lanjut Agung menambahkan, pihaknya berharap dengan adanya estafet kepemimpinan ini, tentunya dengan semangat muda dan semangat Tri Dharma Kosgoro, akan lebih inovatif menjalankan konsolidasi organisasi, kaderisasi dan keanggotaan serta kegiatan- kegiatan pengabdian kerakyatan dan solidaritas yang dirasakan bersama masyarakat Kota Semarang.

Jelang Ramadan-Nyepi, Kapolrestabes Semarang Ajak Tokoh Masyarakat Gajahmungkur Tingkatkan Keamanan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M. Syahduddi melakukan kunjungan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat di wilayah hukum Polsek Gajahmungkur, dengan fokus pada upaya antisipasi pengamanan menjelang Ramadan dan Nyepi. 

Pertemuan tersebut berlangsung di Pura Agung Girinatha, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu (26/2/2025) sebagai wadah dialog kolaboratif dan perencanaan strategis.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai perwakilan masyarakat, antara lain I Nengah Wirta Darmayana SH MH, Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Kota Semarang dan Wakil Ketua FKUB (Forkompincam) Gajahmungkur (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan), Ketua dan pengurus Karangtaruna dan Senkom Mitra Polri, perwakilan dari 3 pilar (Kepala Desa, Bhabinkamtibmas dan Babinsa), serta Ketua dan pengurus LPMK dan PJU Polrestabes Semarang.

Kombes Pol M. Syahduddi membuka pertemuan tersebut dengan menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua PHDI yang telah menyediakan tempat dan menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat yang senantiasa mendukung kesejahteraan warga Gajahmungkur.

Ia menekankan pentingnya mengantisipasi potensi tantangan keamanan selama musim liburan, khususnya meningkatnya kerentanan rumah kosong akibat perjalanan selama Ramadan.

“Kita perlu bersikap proaktif dalam mengatasi potensi peningkatan aktivitas dan kerentanan, seperti risiko pembobolan saat penghuni bepergian selama Ramadan,” kata Kapolrestabes.

Dirinya mengusulkan solusi inovatif yakni tempat penampungan sementara kendaraan di Polsek dan Koramil setempat bagi warga yang melakukan perjalanan di bulan Ramadan.

Kapolrestabes juga menegaskan pentingnya kerja sama semua pemangku kepentingan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Masukan dan saran akan kami terima dengan senang hati dan akan segera ditindaklanjuti,” tegas Kapolrestabes Semarang.

Ketua PHDI Kota Semarang I Nengah Wirta Darmayana menekankan pentingnya Pura Agung Girinatha sebagai tempat ibadah terbesar di Kota Semarang dan sebagai simbol kuat nilai-nilai Pancasila yang menekankan toleransi dan moderasi beragama di tengah masyarakat.

Ia menyebutkan sejumlah kegiatan mendatang, termasuk kunjungan ke jajaran Polrestabes Semarang pada 29 Maret 2025 dalam rangka persiapan Hari Nyepi, dan serangkaian bakti sosial yang bekerja sama dengan CSR, termasuk kegiatan donor darah dan kegiatan Melasti di Pantai Marina.

Ia juga meminta dukungan dari Polrestabes Semarang dalam memastikan kelancaran dan keamanan pelaksanaan ritual pra-Nyepi.

“Kami mengapresiasi dukungan Kepolisian Kota Besar Semarang dalam memastikan kelancaran pelaksanaan kegiatan pra-Nyepi,” katanya.

Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk menjaga ketertiban dan keamanan di wilayah Kecamatan Gajahmungkur. 

Acara tersebut menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan masyarakat.

Keterlibatan proaktif ini menggarisbawahi dedikasi Polri dalam membangun hubungan yang kuat dengan para pemimpin masyarakat dan memastikan lingkungan yang aman dan damai bagi semua warga selama perayaan Ramadan dan Nyepi mendatang.

Pemkot Semarang Siapkan Tiga Opsi Antisipasi Kecelakaan Di Silayur

SEMARANG (lensasemarang.com) – Merespons sejumlah kecelakaan di Jalan Prof Hamka atau kawasan Silayur, Ngaliyan, termasuk kecelakaan yang menimpa minibus L300 yang mengangkut belasan anak TK dan truk pada Rabu (26/2) pagi, Pemkot Semarang siapkan sejumlah opsi antisipasi agar kejadian tidak terulang.

Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin mengungkapkan, berdasar kajian Dinas Perhubungan, ada tiga opsi yang dinilai bisa menjadi solusi agar kecelakaan di Silayur bisa diminimalisasi dan tidak terulang.

“Solusinya jangka pendek, menengah dan panjang. Salah satunya opsi jangka panjang yakni dengan melakukan pelandaian di tanjakan atau turunan Silayur. Perencanannya sudah harus dilakukan tahun ini. Nanti kami koordinasikan dengan Dishub, DPU dan stakeholder terkait, soal opsi-opsi tersebut,” kata Iswar mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti, usai meninjau lokasi kecelakaan di Silayur.

Membangun jalur pengaman sebelumnya juga pernah dicanangkan oleh Pemkot Semarang sebagai solusi. Namun hal tersebut dianggap kurang efisien karena hanya ditujukan bagi kendaraan dengan rem blong. Karenanya, melandaikan jalan dinilai lebih efektif untuk mengantisipasi kecelakaan.

Sekretaris Dinas Perhubungan Danang Kurniawan menambahkan, pihaknya sudah melakukan analisa untuk mengantisipasi kecelakaan di Silayur terulang.

Senada dengan Wakil Wali Kota Iswar, opsi tersebut mencakup jangka pendek, menengah dan panjang.

Jangka pendek, yakni dengan pengaturan jam operasional kendaraan berat yang melintas di kawasan Ngaliyan. Solusi ini sudah diterapkan dengan menyiapkan petugas gabungan dari Dishub dan kepolisian untuk penjagaan dan patroli di jam-jam sibuk.

Selain itu, rambu larangan angkutan berat melintas di pagi hingga sore hari, khususnya di jam padat, juga sudah dipasang. Termasuk, melakukan sosialisasi ke perusahaan dan pabrik di kawasan Ngaliyan maupun Mijen, serta bersama kepolisian melakukan penindakan hukum terhadap truk yang melanggar

“Dulu aturannya kendaraan berat dilarang melintas pada pagi dan sore, mulai jam 6.00-9.00 WIB dan 15.00-19.00 WIB. Sekarang diubah, truk boleh melintas di jam 23.00-05.00 WIB pagi,” ujarnya.

Solusi jangka menengah, dengan menyiapkan jalur penyelamat. Hanya saja solusi ini hanya untuk yang turunan. Sementara banyak kejadian truk tak kuat menanjang dan rentan menimbulkan kecelakaan.

“Dan solusi jangka panjangnya adalah dengan melakukan pelandaian. Ini bisa menjadi solusi, baik untuk lajur yang naik maupun menurun. Analisa opsi-opsi ini sudah kami kirim ke KNKT pada November lalu untuk dilakukan kajian di lapangan,” jelas Danang.

Pemkot Semarang Alihkan Arus Lalu Lintas Saat Gelar Kirab Dugder

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pemerintah Kota Semarang menerapkan skema pengalihan arus lalu lintas seiring dengan pergelaran Kirab Budaya Dugderan tahun 2025 yang rencananya akan digelar Jumat (28/2/2025).

Kegiatan ini menjadi tradisi tahunan yang selalu ditunggu oleh masyarakat menyambut bulan Ramadhan, termasuk pada Ramadhan 1446 Hijriah.

Rencananya, prosesi Kirab Budaya Dudgderan 2025 akan berlangsung mulai pukul 13.00 WIB selepas ibadah shalat Jumat dari halaman Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Kusnandir, di Semarang, Rabu (26/2/2025) menjelaskan bahwa salah satu jalan yang ditutup adalah Jalan Pemuda depan Mal Paragon hingga Lawang Sewu.

“Selain pengalihan lalu lintas Jalan Pemuda, juga akan dilakukan pengalihan arus Jalan Imam Bonjol-Tugu Muda menjadi dua arah, pengalihan arus Jalan Pierre Tendean ke Jalan Imam Bonjol,” kata Kusnandir.

Untuk arus lalu lintas dari arah Kota Lama menuju Jalan Pemuda, kata dia, akan dialihkan menuju Jalan Kolonel Sugiyono atau Jalan Imam Bonjol.

Tak hanya pengguna jalan, Kusnandir juga mengimbau masyarakat yang akan menyaksikan gelaran dan kirab prosesi Dugder untuk bisa memarkirkan kendaraan di tempat-tempat yang sudah disediakan penyelenggara.

“Masyarakat yang akan menyaksikan prosesi kirab Dugder agar tertib mengikuti arus lalin dan tidak memarkirkan kendaraan di bahu jalan karena akan mengurangi volume ruas jalan,” ujarnya.

Secara detil, rute Kirab Budaya Dugderan 2025 ini bermula dari Balai Kota melewati Jalan Pemuda menuju Alun-Alun Kauman, selanjutnya arak-arakan menuju MAJT.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Samsul Bahri mengatakan Dugder 2025 tempatnya berbeda dari tahun lalu.

Untuk sekarang, dugder dipusatkan di Balaikota Semarang dan Alun-alun Masjid Agung Semarang. Bukan lagi di Simpang Lima dan serambi masjid sebagaimana pelaksanaan tahun lalu.

“Iya, sekarang di Alun-alun. Itu bukan perbedaan, tapi untuk memberikan kenyamanan kepada semua undangan atau peserta yang mengikuti. Di alun-alun kan lebih luas, sehingga masyarakat bisa leluasa dan nyaman menyaksikan Dugder 2025,” kata Samsul.

Sedangkan untuk serambi Masjid Agung Semarang, lanjut Samsul digunakan sebagai transit Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin beserta undangan khusus.

Dalam prosesi Dugder tersebut, Agustin sapaan akrab wali kota Semarang akan memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum dan akan memimpin jalannya prosesi acara Dugder dan membacakan Suhuf Halaqoh.

Pada sesi tersebut, sekaligus dilakukan pemukulan bedug, pelepasan bom udara, dan andum ganjel rel serta air khataman Al Qur’an.

Setelah prosesi selesai, wali kota dan rombongan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk melaporkan kegiatan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah.

Polisi Jerat Tersangka Pembunuh Ibu Kandung Dengan Pasal Berlapis

SEMARANG (lensasemarang.com) – Satreskrim Polrestabes Semarang menjerat Imam Ghozali (36), tersangka pembunuh ibu kandungnya dengan pasal berlapis.

“Tersangka kami kenakan pasal berlapis yakni penghapusan KDRT dan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman pidana penjara 20 tahun dan atau pidana mati,” kata Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M. Syahduddi saat gelar perkara di Semarang, Rabu (26/2/2025).

Kapolrestabes mengungkapkan, berdasarkan hasil penyidikan, tersangka tega menghabisi nyawa korban bernama Salamah (61) yang merupakan ibu kandungnya karena sakit hati dengan ucapan korban.

Menurut dia, tersangka mengaku dibanding-bandingkan dengan adik-adiknya sehingga naik pitam, apalagi tersangka juga diketahui sering meminta uang kepada korban karena yang bersangkutan tidak bekerja serta sering mabuk minuman beralkohol.

“Pada saat kejadian, pelaku sedang nonton televisi lalu sempat cekcok dengan ibu kandungnya. Merasa jengkel pelaku kemudian mengambil parang yang disimpan dikamarnya dan menyerang korban yang hendak beristirahat,” ujarnya.

Tersangka berhasil ditangkap di rumah kosong yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah korban Jalan Gunungsari Jomblang dengan kondisi lemas karena tidak makan dan minum setelah melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia pada Selasa (18/2/2025) malam.

Berdasarkan hasil autopsi, korban meninggal dunia akibat luka tusuk pada bagian dada kiri menembus paru kiri dan jantung, luka iris pada dada, punggung dan kedua anggota gerak atas.

Korban juga mengalami luka akibat kekerasan tumpul berupa memar pada kepala dan resapan darah pada kulit kepala bagian dalam korban mati lemas dan perdarahan hebat.

Wagub Jateng Ingin Masyarakat Manfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis

MAGELANG (lensasemarang.com) – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Magelang Selatan, Kota Magelang, Rabu (26/2/2025).

Dalam kunjungannya, Wapres Gibran tampak menyapa puluhan warga Magelang Selatan yang memadati puskesmas. Ia juga membagikan bingkisan kepada sejumlah pengunjung Puskesmas.

Gibran juga berbincang dengan masyarakat sekaligus memastikan pelayanan program tersebut berjalan baik serta lancar.

Salah seorang warga Mageleng, Rahma mengaku, senang mendapat bingkisan yang berisi perlengkapan bayi seperti sabun, perlak, handuk, dan lain-lain. 

Rahma mengatakan, di hari itu ia sengaja memanfaatkan program ini karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

“Saya sangat senang bisa cek kesehatan, karena layanan laboratorium, cek kanker, dan macam-macamnya gratis. Pelayanannya bagus, ramah, cepat,” ucapnya.

Sebagai informasi, program Program CKG ini tidak hanya bagi warga yang berulang tahun, 

tapi juga terbuka bagi seluruh warga Indonesia. Program ini bertujuan mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam memantau kondisi kesehatannya, dan mengurangi risiko komplikasi dan beban kesehatan secara nasional.

Sementara itu, Wagub Jateng Taj Yasin mendukung program CKG dan berharap ke depan lebih banyak masyarakat yang mengetahui adanya program ini.

“Ini harus disebarluaskan agar masyarakat aware terhadap kesehatannya. Ini kita dorong,” ujarnya.

Selain mendampingi Cek Kesehatan Gratis, Wagub Jateng juga menemani Wapres Gibran meninjau program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Ma’arif Magelang.

Dugderan, Tradisi Penanda Ramadan Yang Unik dan Bernilai Sejarah

SEMARANG (lensasemarang.com) – Tradisi Dugderan di Kota Semarang bukan sekadar perayaan tahunan menjelang Ramadan, tapi juga merupakan warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad. 

Mukhamad Shokheh, Ph.D., dosen senior Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang menuturkan bahwa Dugderan merupakan tradisi khas Kota Semarang yang mencerminkan perpaduan budaya dan agama dalam masyarakat.

Setiap daerah memiliki cara unik dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Di beberapa daerah seperti Magelang dan Temanggung, masyarakat menjalankan tradisi Adusan atau Padusan, yaitu mandi di sumber air atau tempat pemandian sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.

Sementara, di Kota Semarang sendiri, masyarakat memiliki tradisi yang namanya Dugderan, sebuah tradisi yang khas dan tidak ditemukan di daerah lain. 

“Tradisi ini menjadi bagian dari identitas budaya Semarang dalam menyambut Ramadan,” ungkap Mukhamad Shokheh.

Sejarah Dugderan dapat ditelusuri hingga tahun 1881 pada masa kepemimpinan Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Saat itu, masyarakat belum memiliki sistem komunikasi yang efektif untuk mengetahui awal Ramadan. Sebagai solusi, sang Bupati menciptakan inovasi berupa pengumuman resmi yang ditandai dengan bunyi bedug (“Dug”) sebanyak 17 kali dan dentuman meriam (“Der”) sebanyak 7 kali. Dari sinilah istilah “Dugderan” berasal.

Seiring perkembangan zaman, Dugderan mengalami transformasi. Jika pada masa lalu, meriam digunakan sebagai bagian dari prosesi, kini perayaan berkembang dengan aktivitas yang lebih beragam yang mengandung unsur budaya dan ekonomi.

Masyarakat Semarang tetap melestarikan tradisi ini dengan berbagai kegiatan, termasuk pawai budaya, serta pasar rakyat yang menjajakan berbagai kerajinan, permainan tradisional, dan kebutuhan Ramadan.

Salah satu ikon Dugderan yang terkenal adalah Warak Ngendog, simbol akulturasi budaya yang merepresentasikan harmoni masyarakat Semarang.

“Dugderan bukan sekadar penanda datangnya Ramadan, tetapi juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk merayakan dan menggerakkan perekonomian,” terang Shokheh.

Lebih dari sekadar perayaan, Dugderan kini menjadi bagian dari identitas Kota Semarang. Selain melestarikan sejarah, tradisi ini juga berdampak pada ekonomi rakyat dengan menghadirkan peluang usaha bagi pedagang kecil. 

“Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya dan agama saling mempengaruhi dan membentuk dinamika masyarakat,” ujarnya.

Yang terpenting, Dugderan mencerminkan suka cita masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Pemkot Semarang Kembali Gelar Tradisi Dugderan, Agustina Ajak Masyarakat Hadir dan Merayakan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pemerintah Kota Semarang terus merampungkan persiapan prosesi tradisi Dugderan 2025 yang menurut rencana akan diselenggarakan pada 28 Februari 2025.

Acara tahunan guna menyambut datangnya bulan suci Ramadhan memiliki rangkaian kegiatan yang dimulai dari Balai Kota, melintasi Masjid Agung Semarang, dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa tradisi Dugderan bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi simbol keberagaman dan kebersamaan masyarakat Semarang.

“Dugderan adalah perwujudan harmoni budaya yang sudah melekat di Semarang. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kekuatan, dan Semarang adalah rumah bagi semua,” ujar Agustina.

Rencananya, pelaksanaan Dugderan dimulai di halaman Balai Kota Semarang usai salat Jumat, sekitar pukul 13.00 WIB. Kemeriahan dimulai dengan defile peserta dari 16 kecamatan dan berbagai organisasi keagamaan serta komunitas budaya yang berkumpul di halaman Balai Kota Semarang.

Kemeriahan semakin bertambah dengan hadirnya pertunjukan Barongsai Tay Kak Sie yang menampilkan keunikan budaya Tionghoa dalam perayaan Dugderan.

Wali Kota Semarang dijadwalkan memasuki tempat upacara dan duduk di tenda VIP. Selanjutnya, Tari Trilogi Budaya Dugder akan dipentaskan sebelum acara utama dimulai. 

Selanjutnya, Upacara Dugder akan resmi dimulai yang diawali dengan laporan dari komandan upacara. Kemudian, Wali Kota Semarang akan menyampaikan sambutan, yang dilanjutkan dengan pembacaan doa dalam bahasa Jawa. Momen puncak di Balai Kota terjadi saat Wali Kota memukul bedug sekira pukul 14.00 WIB, sebagai tanda datangnya bulan Ramadhan.

Setelahnya, suasana semakin meriah dengan flashmob dari peserta Koordinator Satuan Pendidikan atau Korsatpen yang berlangsung di halaman Balai Kota. Wali Kota kemudian akan melakukan seremoni pecah kendi dan pelepasan merpati sebagai simbol keberkahan dan harapan baik.

Setelah prosesi di Balai Kota selesai, sekira pukul 14.30 WIB, Pawai Budaya Dugder akan diberangkatkan menuju Masjid Agung Semarang (MAS) atau Masjid Kauman.

Di sepanjang perjalanan, masyarakat dapat menyaksikan kemegahan iring-iringan pasukan merah putih, warak raksasa, rampak warak, serta berbagai komunitas budaya yang turut serta.

Setibanya di Masjid Agung Semarang (MAS), Wali Kota dan rombongan akan disambut oleh Ketua Takmir MAS. Setelah ramah tamah singkat, rombongan bersiap untuk salat Ashar berjamaah yang akan dilaksanakan pukul 15.16 WIB.

Usai salat, rangkaian prosesi berlanjut dengan pembacaan Suhuf Halaqah oleh Wali Kota, yang menjadi penanda spiritual datangnya bulan Ramadan. Prosesi ini kemudian diakhiri dengan pemukulan bedug sebagai puncak acara Dugderan di Masjid Agung Semarang.

Setelah prosesi di MAS selesai, rombongan bergerak menuju tujuan terakhir, yakni Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Wali Kota dijadwalkan tiba di lokasi pada pukul 16.10 WIB, diikuti dengan sambutan selamat datang dari Pengageng MAJT dan sambutan dari Wali Kota.

Momen puncak kembali terjadi saat pemukulan bedug di MAJT, yang akan diiringi dengan pelepasan balon udara sebagai simbol semangat menyambut Ramadan. Akhirnya, seluruh rangkaian Dugderan 2025 akan ditutup secara resmi menurut rencana pada pukul 17.00 WIB.

Untuk memastikan kelancaran acara, Pemkot Semarang telah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Dinas Perhubungan bertugas mengatur lalu lintas dan kantong parkir, Dinas Kesehatan telah menyiapkan tim medis, sedangkan aparat keamanan dari Polrestabes dan Satpol PP akan menjaga ketertiban selama acara berlangsung.

Wali Kota Semarang juga mengajak masyarakat untuk turut serta hadir menyaksikan perayaan ini dengan tetap menjaga ketertiban dan kebersihan.

“Dugderan bukan hanya milik Pemerintah Kota, tetapi milik seluruh warga Semarang. Mari kita rayakan dengan penuh kebersamaan dan rasa hormat terhadap budaya kita,” pungkasnya.

Acara Dugderan tahun ini mengusung tema “Bhinneka Tunggal Budaya dalam Harmoni Dugder 2025,” yang mencerminkan keberagaman dan persatuan di Kota Semarang.

Hari Kelima Ikuti Retret, Ahmad Luthfi Tekankan Pentingnya Kebersamaan Membangun Daerah

MAGELANG (lensasemarang.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama kepala daerah lainnya telah menjalani kegiatan retret di Akademi Militer Magelang pada hari kelima. 

Luthfi menyatakan, banyak meteri yang disampaikan oleh para menteri dan narasumber lainnya diantaranya, mengidentifikasi potensi wilayah, guna bersama-sama membangun daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia juga menerima materi tentang wawasan kebangsaan yang dipaparkan oleh Lemhanas. Pada kesempatan itu, peserta diberikan materi tentang bagaimana mempunyai rasa kebangsaan dan potensi wilayah untuk menunjang Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Itu paling pokok, sehingga kita semua diberikan suatu materi terkait rasa memiliki dan wawasan nusantara secara bersama-sama,” kata Luthfi di Magelang pada Selasa (25/2/2025).

Sejak hari pertama, Luthfi mengaku senang mengikuti rangkaian kegiatan retret di Lembah Tidar Akmil tersebut. Perasaan yang sama masih ia tunjukkan sampai hari kelima ini.

Kegiatan itu juga ia jadikan momentum untuk mengenal lebih dekat kepala daerah lainnya, termasuk seluruh bupati/wali kota asal Jawa Tengah yang ikut sebagai peserta.

“Kita cukup santai dan tenang dalam mengikuti kegiatan,” ujarnya.

Khusus di Jawa Tengah, kata Luthfi, dalam waktu dekat yang harus digenjot adalah perbaikan infrastruktur. Baik infrastruktur jalan, pendukung swasembada pangan atau infrastruktur pertanian, dan infrastruktur sekolah. 

Menurut dia, pembangunan itu membutuhkan koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah pusat.

Mantan Kapolda Jateng ini mengatakan, perbaikan infrastruktur jalan ini butuh dikerjakan secara cepat, seiring dengan menjelang musim mudik lebaran. Apalagi, banyak masyarakat yang akan mudik atau melintasi Jawa Tengah untuk sampai ke kampung halamannya. 

“Saya sudah perintahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum lain sebagainya untuk rapat secara cepat. Koordinasi sudah dimulai. Jangan sampai ada public complain,” tegasnya.

Sementara untuk infrastruktur pertanian, koordinasi dengan Kementerian Pertanian sudah dilakukan. Mulai dari embung sampai saluran primer dan sekunder, serta pemetaan daerah-daerah kering.

“Menteri Pertanian akan membantu kita untuk kegiatan ini,” katanya.

Pun dengan infrastruktur sekolah yang rusak juga perlu dilakukan perbaikan. Sebab, masih ada sejumlah gedung sekolah yang masih rusak di sejumlah daerah.

Ratusan Santri Dilatih Usaha Boga dan Barista Untuk Tanggulangi Kemiskinan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Sebanyak 103 santri dan 10 mahasiswa dari berbagai pondok pesantren dan perguruan tinggi dilatih keterampilan usaha boga dan barista sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kemiskinan.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia dan Provinsi Jateng ini dilaksanakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MATJ) pada Selasa (25/2/2025).

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan, sejauh ini mendorong para santri ambil bagian dalam upaya pengentasan kemiskinan di wilayahnya.

“Pelatihan ini sebagai upaya menanggulangi kemiskinan dan membuka peluang usaha bagi masyarakat Jawa Tengah,” kata Wagub saat acara membuka pelatihan. 

Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini mengapresiasi penyelanggara yang telah mengadakan acara tersebut sebab manfaatnya akan dirasakan masyarakat.

“Ini juga berdampak terhadap pengentasan kemiskinan dan kebermanfaatan ke depan, tidak hanya membuka toko kue atau makanan, tapi bisa menjadi guru di SMK, lembaga kursus, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Menurut dia, hasil dari pelatihan ini dapat dipraktikkan di lingkungan pondok pesantren, misalnya pada saat acara haflah, konsumsinya bisa dikelola secara mandiri. 

“Ini juga bisa menjadi sumber ladang usaha milik pondok atau para santri,” ujarnya.

Dengan semakin banyak pelatihan, lanjut dia, maka ketrampilan yang dimiliki bisa cocok dengan dunia usaha. 

Salah seorang santri asal Kudus, Rahmat mengaku, senang dengan pelatihan ini, karena bisa menambah wawasan dan meningkatkan kompetensi memasak.

“Harapannya nanti kita bisa share ke temen-temen di pondok, supaya mereka nanti lebih mandiri dan bisa berwirausaha setelah keluar dari pondok,” katanya.

Rahmat berharap, pelatihan seperti ini lebih rutin digelar, sehingga kualitas masakan di pondok meningkat, baik dari sisi gizi, rasa, maupun penyajian. 

Dalam acara tersebut, juga diserahkan bantuan modal usaha dari Baznas Jateng, berupa Oven Elektrik 80×60 cm, Stand Mixer 3,5 liter, dan timbangan digital, dengan total nilai Rp20 juta per penerima. Bantuan modal usaha diberikan kepada 10 orang penerima.

Di samping itu, Baznas RI juga memberikan bantuan pada kegiatan Pelatihan Z-Coffee dengan total sebesar Rp200 juta.