SEMARANG – Banjir yang terjadi sejak Rabu (13/3) di Kota Semarang, belum juga surut hingga Sabtu (15/3) berdampak pada aktivitas ibadah warga dan para santri di lingkungan Pondok Pesantren Putri As Sa’adah Tambakrejo Semarang, Sabtu (15/3). Kegiatan keagamaan tersendat karena masjid sekitar pondok mereka hampir satu meter.
“Jadi aktifitas ngaji ibu-ibu kampung terganggu karena banjir masuk masjid se dada sehingga tidak bisa ngaji. Terawih juga sedikit, kalau didalam pondoknya tetap penuh,” kata Pengasuh Ponpes Putri As Sa’adah Tambakrejo Semarang, Qoiriyah Thomafi Syahroni saat disambangi Baznas Pusat di pondoknya, Sabtu (16/3).
Di pondoknya ada 175 santriwati yang seluruhnya masih mahasiswi Universitas di Semarang. Dengan banjir berhari-hari, para santrinya juga tak bisa mandi selama tiga hari karena air banjir merendam sebagian ruangan.
“Kemarin sempat masuk ke sanyo tiga mati. Santri santri tiga hari tidak mandi cuma untuk wudhu dan thohibul hajat gitu. Tapi ini banjir memang sudah terbiasa jadi tidak kaget,” ungkapnya.
Saat pondoknya disambangi pihak Baznas Pusat memperoleh bantuan berupa 50 paket sembako. Satu paket yang isinya susu, minyak goreng, roti, beras dan daging kaleng. Sedangkan bantuan lain juga datang dari Baznas Jateng sebanyak 25 paket sembako.
Pemkot Semarang juga menjanjikan bantuan 50 paket sembako secara merata ke tetangga-tetangga dan bisa bantu korban banjir.
“Dari Baznas RI dapat 50 paket. Dari Baznas Jateng ada 25 paket. Dari Pemkot Semarang untuk santri. Besok Bu Ita akan tambah 50 paket,” kata Qoiriyah.
Ketua Baznas RI, Prof Noor Ahmad, mengaku mengajak masyarakat terdampak banjir melalui program penyaluran bantuan kepada para korban. Sedangkan pemulihan pasca bencana bakal dikaji.
“Kami akan melihat separah apa Semarang itu, kalau ada daerah membutuhkan bantuan lagi kami akan hadir. Pemulihan pasca bencana kami akan mengkaji dampaknya seberapa luas,” kata Noor.
Bencana banjir berdasarkan pengamatannya tak cuma terjadi di Semarang. Banjir juga menyeluruh dari Sumatera Barat, lalu di Pantura mencakup Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pekalongan.
“Untuk itu kita coba hari ini ke Semarang dan Kudus. Ada tim juga sudah ke Pekalongan dan mudah-mudahan kami bisa juga ke tempat lain,” katanya.
Anggaran yang dialokasikan untuk setiap penanganan bencana, Baznas menggelorkan dana mencapai Rp 5 miliar. Khusus di Kota Semarang, pihaknya baru mendistribusikan 100 paket logistik keluarga.
Termasuk program bantuan renovasi musala dan masjid. Jumlah itu akan terus bertambah dengan menyesuaikan jumlah warga yang terdampak bencana.
“Kami menetapkan anggaran untuk penanganan bencana, biasanya untuk bencana-bencana ini kami anggarkan Rp 5 miliar. Di Kota Semarang kami juga berikan barang, ada sembako dan bantuan untuk renovasi musala, masjid. Kami baru membawa 100 paket sembako, dari Jawa Tengah sendiri cukup banyak,” ujarnya.
