Site icon Lensa Semarang

Pelaku Seni & Budaya di Semarang Gelar Kirab Budaya Makam mbah Genuk

SEMARANG – Puluhan pelaku seni dan Budaya Tegalsari menggelar kirab makam keramat Nyai Genuk yang berada di kawasan ex Wonderia Semarang, Minggu (27/1). Mereka bersama sama jalan dari makam hingga ke sendang Mintoloyo untuk mengambil air.

Aroma kemenyan menyengat pada kegiatan kirab budaya tersebut, ketika air yang diambil dari sendang tadi di taruh di kendi dengan prosesi adat jawa.

“Jadi itu artinya air kehidupan bagi masyarakat Genuk,” kata Pengurus paguyuban Margodadi, Ramli.

Tujuan diadakannya kirab budaya untuk melestarikan budaya dan merawat makam Mbah Genuk. Sebab di area itu sebelumnya disewakan Pemerintah Kota Semarang kepada pihak ketiga sudah ada keberadaan makam tersebut.

“Area itu terbengkalai. Kalau tidak kami warga Tegalsari melestarikan siapa lagi,” katanya.

Sosok Nyai Genuk merupakan orang Jawa keturunan Raja Mataram. Sosok Nyai Genuk sangat dikenal masyarakat di wilayahnya.

“Karena Nyai Genuk seorang perempuan tidak bisa jadi raja. Kami ingin melestarikan makam itu dan kami berikan tenger di makam itu,” tuturnya.

Di area itu juga terdapat makam Wirokusumo yang merupakan suami dari Nyai Genuk. Selain itu juga terdapat makam-makam yang dipercaya kerabat Nyai Genuk. Oleh sebab pihaknya kirab untuk melestarikan budaya di wilayah itu.

“Nah kami kirab ambil air di sendang Mintoloyo karena mbah Nyai Genuk kalau mandi di Sendang itu, kami ingin napak tilas kebiasaan yang dilakukan Nyai Genuk,” tandasnya.

Ketua panitia kirab, Naning menambahkan kirab budaya diikuti para seniman, budayawan, aliran penghayat dan warga setempat. Kirab dimulai dari makam Nyai Genuk dilanjutkan pengambilan air di sendang Mintoloyo.

“Selain kirab kegiatan itu diisi berbagai kesenian mulai dari tarian kuda lumping, tarian satrio, tarian senopati dan atraksi bambu,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan itu dapat melestarikan budaya setempat. Selain itu juga menjadi ruang edukasi masyarakat kota Semarang.

Lurah Tegalsari, Mugi Marjoko mengaku mengapresiasi warga yang telah melestarikan budaya di kawasan ex Wonderia. Dengan adanya kegiatan kirab itu menjadi awal berkembangnya budaya di makam Nyai Genuk.

“Jadi tidak hanya menjadi pusat seni tetapi menjadi wisata religi,” tuturnya.

Kawasan itu merupakan aset Pemerintah Kota Semarang yang disewa oleh pihak ketiga. Jika sewa itu telah selesai, masyarakat Tegalsari mengharapkan kawasan itu selain untuk kesenian juga dijadikan kawasan religi,

“Sebelum saya jadi Lurah di sini sudah ada wacana itu. Memang tempat ini disiapkan untuk wisata religi,” tutupnya.

Exit mobile version