Home Blog Page 13

Beri Layanan Pemeriksaan Kesehatan Terintegrasi 1.200 Pekerja Dalam 5 Hari, Pemkot Semarang Raih Rekor MURI

SEMARANG (lensasemarang.com) -Pemerintah Kota Semarang kembali mencatat capaian penting dalam layanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi para pekerja.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menerima penghargaan Rekor MURI atas pencapaian pemeriksaan kesehatan terintegrasi melalui platform Satu Sehat pada pekerja di perusahaan terbanyak, yakni 53 perusahaan dalam kurun waktu lima hari.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) kepada Agustina Wilujeng serta disaksikan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam rangkaian peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), bertempat di Aula Gedung Penunjang RSUP Dr. Kariadi, Selasa (10/2/2026).

Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis bagi pekerja tersebut dilaksanakan oleh RSUP Dr. Kariadi bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang. Program ini menjangkau 1.200 orang pekerja dari 53 perusahaan di Kota Semarang dan dilaksanakan pada 26–30 Januari 2026.

Seluruh hasil pemeriksaan tercatat dalam platform Satu Sehat sebagai bagian dari sistem informasi kesehatan nasional.

Agustina menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja cepat lintas sektor di Kota Semarang.

“Ini adalah kerja cepat dari dinas yang hari ini ada di Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Rumah Sakit Kariadi. Dalam waktu lima hari, pemeriksaan kesehatan gratis dapat menjangkau 53 perusahaan dan akhirnya tembus rekor MURI,” ujar Agustina.

Dirinya juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kesehatan dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan gratis secara masif hingga menjangkau fasilitas layanan kesehatan di daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin sebagai langkah pencegahan dini. Menurutnya, upaya menjaga kesehatan jauh lebih efektif dilakukan sejak awal.

“Kalau ditunggu sampai sakit, nanti lebih mahal dan kualitas hidup juga lebih jelek. Tahun ini setelah dicek, kalau tidak sehat harus diobati, dan obatnya juga gratis,” kata Menkes.

Agustina menambahkan bahwa pesan tersebut menjadi perhatian Pemkot Semarang, terutama terkait tindak lanjut setelah pemeriksaan dilakukan. “Pesan beliau, pemeriksaan gratis lebih rutin dan setelah itu follow up-nya, kalau yang bersangkutan sakit harus segera diobati,” katanya.

Momentum Bulan K3 ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan kerja harus berjalan seiring dengan kesehatan pekerja secara menyeluruh. Pemeriksaan kesehatan terintegrasi menjadi salah satu langkah nyata dalam pencegahan dini penyakit, peningkatan produktivitas, serta perlindungan jangka panjang.

Pemkot Semarang berharap pencapaian ini bisa menjadi pemicu semangat bagi dunia usaha untuk semakin aktif memastikan kesehatan pekerja melalui sistem yang terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan.

AXA Mandiri Serahkan Surplus Underwriting 2024 Ke Baznas Untuk Bangun Perpustakaan dan Renovasi Pesantren

JAKARTA – PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) menyerahkan secara simbolis lebih dari Rp250 juta nilai surplus underwriting 2024 ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Nilai surplus underwriting tahun 2024 tumbuh positif dibandingkan tahun 2023.

Nilai surplus underwriting AXA Mandiri tahun 2024 disalurkan Baznas ke Pondok Pesantren Nurul Huda, Bekasi untuk pembangunan dan pengembangan perpustakaan. Sementara selebihnya akan digunakan Baznas untuk menjalankan beberapa program sosial diantaranya penyediaan air bersih dan renovasi sekolah.

Surplus underwriting tersebut dibukukan AXA Mandiri dari kontribusi pemegang polis asuransi syariah ke dalam dana tabarru’. Nilai surplus tersebut didapatkan dari selisih antara pendapatan dan pengeluaran dana tabarru’ dalam satu periode.

“AXA Mandiri serahkan surplus sebagai wujud tanggung jawab sosial. Namun nilai ini bukan sekadar angka, melainkan simbol keberkahan bersama. Kami berharap kontribusi ini mendukung pendidikan santri agar lebih berdaya dan menjadi amal jariyah nasabah yang terus mengalir,” tutur Head of Sharia AXA Mandiri, Vini Yulianti.

Pada tahun sebelumnya, AXA Mandiri menyerahkan secara simbolis nilai surplus underwriting tahun 2023 kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Nilai surplus underwriting tersebut digunakan MUI dan Baznas untuk untuk program pembangunan sumur bor dan bantuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.***

Pasar Imlek Semawis Kembali Hadir, Tampilkan Harmoni Budaya dan Toleransi Warga Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pasar Imlek Semawis 2026 telah memulai rangkaian kegiatan pada Sabtu (7/2/2026). Rangkaian perayaan menjelang Tahun Baru Imlek ini diawali dengan Tradisi Ketuk Pintu di Klenteng Tay Kak Sie Kota Semarang sebagai simbol permohonan doa, keselamatan, dan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan, sekaligus penanda harmoni lintas budaya yang telah mengakar di Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyampaikan bahwa Pasar Imlek Semawis bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga ruang bersama yang merefleksikan nilai toleransi dan kebersamaan warga Kota Semarang.

“Pasar Imlek Semawis menjadi ruang perjumpaan warga dari berbagai latar belakang. Di sinilah kita melihat bahwa keberagaman di Kota Semarang hidup, dirawat, dan dirayakan bersama secara alami,” kata Agustina.

Menurut dia, Pemerintah Kota Semarang terus mendukung kegiatan budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kohesi sosial.

Ia menegaskan, kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi pondasi penting dalam menjaga Semarang sebagai kota yang inklusif dan harmonis.

Pada tahun ini, Pasar Imlek Semawis mengusung tema “Kuda Datang, Sukses Menjelang”, seiring perayaan Imlek yang memasuki shio Kuda Api. Kegiatan akan berlangsung pada 13–15 Februari 2026 di ruas Jalan Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur, Kawasan Pecinan Semarang.

Ketua Komunitas Pecinan untuk Pariwisata (KOPI) Semawis, Harjanto Halim, menegaskan bahwa sejak awal Pasar Imlek Semawis dirancang sebagai ruang perjumpaan budaya yang terbuka bagi seluruh masyarakat. Ia menekankan bahwa keberagaman di Semarang telah menjadi bagian dari keseharian warga.

“Bunga mawar itu tidak perlu dipuji, keluarnya merah dan wangi. Keberagaman itu, ya kayak bunga, dia mau dipuji, mau nggak, ya tetap mekar. Saya berharap Kota Semarang juga begitu. Tanpa harus dipuji, tanpa harus ditonton, keberagaman itu sudah menjadi perilaku sehari-hari,” kata Harjanto.

Ia menjelaskan bahwa Pasar Imlek Semawis 2026 menghadirkan berbagai atraksi budaya seperti Wayang Potehi, barongsai, Catur Gajah, Tarot Reading, kaligrafi Mandarin, dan Sketsa Postcard.

Pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan opera Sun Go Kong, hingga cosplay budaya yang mendorong pengunjung mengenakan kebaya, busana adat Nusantara, dan kostum lintas budaya.

Selain itu, terdapat jamuan makan bersama Tuk Panjang sebagai simbol kebersamaan antara warga Pecinan, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah.

Melalui Pasar Imlek Semawis 2026, masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi untuk meramaikan. Tidak hanya menikmati kuliner dan hiburan, tetapi juga merasakan langsung nilai toleransi, keberagaman, dan harmoni yang telah menjadi identitas Kota Semarang.

Koperasi Merah Putih Sinergi Bersama Pasar Rakyat Hadirkan Sembako Murah

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menghadiri pembukaan Bazar Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Pasar Rakyat Bangetayu Kulon yang menggabungkan aktivitas ekonomi ratusan pelaku UMKM dengan program pangan murah dari Koperasi Merah Putih, Minggu (8/2/2026).

Kegiatan ini menandai sinergi strategis antara Pasar Rakyat yang telah eksis selama empat tahun dengan koperasi yang baru terbentuk untuk menyediakan sembako terjangkau bagi masyarakat.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Kelurahan Bangetayu Kulon dan Koperasi Merah Putih atas kolaborasi strategis ini. Semoga menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam mengintegrasikan koperasi dengan basis ekonomi kerakyatan,” kata Wali Kota.

Kawasan Bangetayu Kulon yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak kini menjadi pusat pemberdayaan ekonomi lokal yang sangat dinamis. Ratusan pelaku UMKM dari wilayah Genuk dan sekitarnya berpartisipasi menjajakan berbagai produk, mulai dari kuliner hingga kebutuhan rumah tangga.

“Tujuan kami dulu pertama kali membangun adalah mengumpulkan UMKM yang kita berdayakan di satu tempat. Alhamdulillah dari 20 lapak sampai hari ini sudah 250, dan masih ada sekitar 75 pelapak lagi yang mengantre karena keterbatasan tempat. Kami berharap adanya dukungan pengerasan jalan agar pasar ini bisa lebih berkembang lagi ke depannya,” ujar Ketua Paguyuban Pasar Rakyat, Walid.

Menanggapi aspirasi pedagang, Agustina mendorong percepatan pembangunan fisik di wilayah Genuk, termasuk infrastruktur jalan untuk mendukung aktivitas UMKM. Beliau menekankan bahwa perputaran ekonomi sirkular yang terjadi setiap minggu di pasar rakyat ini sangat efektif untuk menekan angka inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat. 

Pemkot Semarang juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp40 miliar untuk penanganan banjir di wilayah Genuk guna menjamin kenyamanan kegiatan ekonomi warga.

“Pasar rakyat ini rutin berjalan setiap, berarti ada ekonomi sirkular yang berputar. Masyarakat bisa jalan sehat lalu jajan, ini memastikan inflasi bisa ditekan dan pertumbuhan ekonomi tetap baik. Saya minta Pak Camat segera ajukan usulan pengerasan jalan agar nantinya bisa digunakan maksimal untuk lapak UMKM kita,” tutur Agustina.

Bazar ini juga menawarkan paket sembako serba Rp30.000 dan Rp75.000, serta Minyak Kita seharga Rp15.000-an untuk membantu warga menghadapi fluktuasi harga menjelang Ramadan. 

Agustina mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan jalur air agar aktivitas pasar tidak memicu banjir di kemudian hari.

“Ketika selesai bubaran pasarnya, saya minta para warga itu ikut menyelesaikan sampahnya masing-masing. Juga ikut memungut sampah yang dalam pandangan matanya. Tidak peduli siapa yang buang, kalau berada di dalam pandangannya, tolong dipungut diambil terutama yang berada di jalur air. Karena ini juga untuk kebaikan kita semua,” pungkasnya.

Pemkot Semarang Perjuangkan Festival Pasar Dugderan Jadi Warisan Budaya Indonesia

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pemerintah Kota Semarang resmi membuka Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman), Sabtu (7/2/2026).

Mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi,” festival tahunan ini akan berlangsung selama sepuluh hari hingga 16 Februari 2026.

Kemeriahan pembukaan semakin terasa dengan hadirnya panggung hiburan yang menampilkan kesenian lokal dan musik “Dangdut Jadoel” dari Orkes Melayu (OM) Lorenza.

Tidak hanya hiburan modern, nuansa nostalgia juga dihadirkan melalui penggunaan busana tempo dulu oleh jajaran pejabat Pemkot Semarang serta kehadiran mainan ikonik seperti kapal otok-otok, celengan gerabah, hingga kerajinan gerabah yang menjadi memori kolektif warga lintas generasi.

“Ini adalah tradisi yang dilakukan sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia. Tahun ini kita buat lebih ramai. Dengan tema, teknik, kita pakai baju-baju jadul. Mungkin tahun depan temanya apa lagi, yang menarik,” kata Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng.

Kawasan sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo hingga Alun-alun Barat kini disulap menjadi pusat ekonomi kerakyatan dengan zonasi yang tertata rapi. Ratusan pelaku UMKM dan Pedagang Kaki Lima (PKL) binaan turut berpartisipasi menjajakan produk lokal, kuliner, hingga mainan tradisional.

“Biarlah alun-alun ini kita pakai secara maksimal untuk ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat, semua orang yang pengin jualan biarin aja jualan. Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil itu yang menjadi paling utama prioritas,” lanjut Agustina.

Antusiasme pedagang kuliner tampak dari ramainya lapak yang berjajar di sepanjang koridor Jalan Ki Narto Sabdo hingga area Alun-alun. Salah satu pedagang, Lis, mengaku senang karena dagangannya sempat dicicipi langsung oleh Agustina saat peninjauan lokasi.

“Senang, suka, katanya enak gitu. Ke depannya harapan saya bisa berjalan lancar, bisa langgeng. Ini kuliner bisa berjalan terus, tambah ramai pedagangnya gitu, tambah ramai pengunjungnya,” ujar Lis.

Selain sebagai ajang hiburan, Pemerintah Kota Semarang kini tengah memperjuangkan Festival Dugderan agar mendapatkan pengakuan yang lebih kuat sebagai Warisan Budaya Indonesia. Langkah ini diambil agar nilai sejarah dan identitas kota tetap terjaga.

“Sekarang kita sedang berjuang pasar Dugderan ini menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Doakan ya, kalau ini menjadi warisan budaya siapapun wali kotanya itu wajib mengadakan pasar Dugderan,” lanjut wali kota.

Agustina juga menegaskan koordinasi lintas sektor antara Disdag, Dishub, Satpol PP, hingga aparat keamanan juga telah disiapkan untuk memastikan rekayasa lalu lintas dan kebersihan kawasan tetap terjaga selama sepuluh hari ke depan.

“Mudah-mudahan ini tetap ramai sampai dengan tanggal 16 ya. Nanti kita akan akhiri dengan arak-arakan Dugderan dari Balaikota ke Masjid Kauman,” katanya.

Wujudkan Birokrasi Bersih, Wali kota Agustina Wilujeng Terapkan Meritokrasi Pertama di Jawa Tengah

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng melakukan terobosan besar dalam manajemen birokrasi dengan melantik 12 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama hasil seleksi Tim Komite Talenta.

Pelantikan yang berlangsung di Ruang Lokakrida, Gedung Balai Kota Semarang, Jumat (6/2) ini, menempatkan Kota Semarang sebagai pionir di Jawa Tengah dalam penerapan sistem meritokrasi yang telah mendapat izin resmi dari pemerintah pusat.

Wali Kota yang akrab disapa Agustina tersebut menegaskan bahwa pengisian jabatan kali ini murni berbasis pada kompetensi, rekam jejak, dan data objektif, bukan faktor subjektivitas. 

“Seluruhnya melalui tahapan seleksi oleh Tim Komite Talenta. Ini adalah hal baru di Jawa Tengah, dan baru Kota Semarang yang mendapatkan izin untuk itu. Kita mendorong birokrasi bekerja dengan prinsip meritokrasi yang berbasis data,” ujarnya.

Langkah progresif ini selaras dengan prestasi yang diraih Pemerintah Kota Semarang pada awal tahun ini. Pada 8 Januari 2026 lalu, Pemerintah Kota Semarang sukses memboyong Anugerah Meritokrasi dengan predikat “Sangat Baik” dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).

Penghargaan tersebut menjadi landasan kuat bagi Agustina untuk memastikan bahwa standar penempatan pejabat di lingkungannya telah melampaui cara-cara konvensional.

“Sistem manajemen ini sangat canggih dan ketat sehingga tidak bisa ditembus. Tidak bisa kemudian seenak-enaknya saya menaikkan orang karena kedekatan atau tim sukses. Ada aturan yang sangat luar biasa ketat untuk menjaga stabilitas, kinerja, dan kemajuan di pemerintahan kita,” katanya.

Selain penguatan sistem, Wali Kota memberikan penekanan khusus pada aspek integritas. Di tengah isu miring yang berkembang, dia secara terbuka menyatakan perang terhadap praktik suap-menyuap dan gratifikasi dalam pengisian jabatan.

“Jika ada orang yang datang dan minta sejumlah uang setelah pelantikan ini, saya tidak segan-segan mengirim kalian ke proses hukum. Saya ingin menjaga wajah pemerintahan ini agar tetap bersih sampai ke akar-akarnya,” tegas Agustina.

Dia meminta para pejabat baru untuk segera menerjemahkan visi “Semarang Bersih, Sehat, Cerdas, Makmur dan Tangguh” ke dalam aksi nyata. Dirinya menekankan pula bahwa jabatan adalah amanah yang harus bermuara pada kesejahteraan warga, bukan menggugurkan kewajiban secara administratif.

“Ukuran keberhasilan panjenengan bukan pada jabatan, tetapi pada perubahan nyata yang dirasakan oleh warga masyarakat. Mari kita gaspol untuk Kota Semarang; bekerja dengan ilmu, melayani dengan hati, dan menjaga amanah dengan integritas setinggi-tingginya,” pungkasnya.

Kepesertaan PBI Dinonaktifkan, Agustina Wilujeng Pastikan Warga Tetap Terkover UHC Kota Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng meminta masyarakat tidak panik menyikapi kebijakan Pemerintah Pusat yang menonaktifkan 98.545 jiwa kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang bersumber dari APBN per 1 Februari 2026.

Dia menegaskan, Pemerintah Kota Semarang tidak akan membiarkan warganya kehilangan akses layanan kesehatan akibat perubahan status tersebut.

“Saya sampaikan kepada seluruh warga Semarang, jangan khawatir. Prinsip kami jelas, masyarakat Kota Semarang harus tetap bisa berobat dan mendapatkan layanan kesehatan. Jangan sampai ada warga yang tidak tertangani hanya karena persoalan administrasi kepesertaan,” ujarnya.

Agustina menjelaskan bahwa bagi warga yang kepesertaannya saat ini nonaktif dan membutuhkan layanan kesehatan, Pemkot Semarang telah menyiapkan skema pengalihan ke Universal Health Coverage (UHC).

Dalam teknis pelaksanaannya, pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran di Puskesmas untuk proaktif membantu warga yang terdampak. Petugas kesehatan di lapangan diminta memfasilitasi proses pelayanan sekaligus membantu langkah-langkah administratif yang diperlukan oleh warga.

“Petugas puskesmas kami sudah siap membantu proses pelayanan di lapangan. Mereka juga akan memfasilitasi langkah-langkah yang diperlukan, termasuk mendampingi proses pengajuan reaktivasi kepesertaan bagi warga yang statusnya nonaktif,” katanya.

Saat ini, selain memastikan pelayanan berjalan, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan BPJS Kesehatan tengah melakukan koordinasi intensif untuk mengusulkan reaktivasi kembali peserta PBI JK yang dinonaktifkan tersebut sesuai mekanisme yang berlaku.

Wali Kota berharap langkah ini menjadi jaring pengaman agar tidak ada warga Semarang yang kesulitan berobat.

“Koordinasi terus berjalan agar hak layanan kesehatan masyarakat tetap terjaga. Intinya, layanan kesehatan di Kota Semarang harus tetap terjaga dan inklusif serta memberikan perlindungan jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” katanya.

Agustina Wilujeng : Dugderan 2026 Hadirkan Wajah Baru, Lebih Kolosal dan Inklusif

SEMARANG (lensasemarang.com) -Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan, Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 akan kembali hadir. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Festival Pasar Rakyat Dugderan tampil dengan wajah baru.

Berlangsung mulai 7-16 Februari 2026, tradisi penyambutan Ramadan tahun ini bakal menjadi pesta rakyat yang menyatukan berbagai keberagaman melalui tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi Dalam Tradisi”.

“Kita mengenal Dugderan sebagai tradisi, warisan budaya, tetapi tahun ini, kami ingin Dugderan menjadi panggung inklusivitas yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, bagaimana berbagai suku dan lintas usia menyatu dalam satu kesatuan pawai. Inilah identitas Kota Semarang yang terus kita banggakan sebagai rumah bagi harmoni,” kata Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng.

Kehadiran atraksi Rampak Bedug serta dentuman Drumband dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang menjadi daya tarik utama. Wali Kota menjelaskan bahwa inovasi ini dihadirkan untuk memberikan energi baru pada karnaval rakyat yang kini lebih banyak melibatkan komunitas seni lokal.

“Tahun ini, kami juga memberikan sentuhan seni budaya yang lebih kaya dan melibatkan penampil dari berbagai komunitas seni di Kota Semarang. Kehadiran Rampak Bedug dan Drumband PIP juga memberikan nuansa megah yang menyatukan semangat muda dan tua dalam menyambut bulan suci,” lanjutnya.

Guna menghidupkan ekonomi kerakyatan, kawasan Alun-alun hingga koridor Semarang Utara ditata dengan zonasi yang lebih rapi. Sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo juga bertransformasi menjadi area bazar UMKM, sementara sisi Alun-alun Masjid Agung Semarang hingga Jalan Agus Salim dipadati dengan wahana permainan serta panggung hiburan rakyat yang menyuguhkan kesenian lokal hingga dangdut jadoel “Om Lorenza”.

Agustina berharap Dugderan dapat menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku usaha kecil.

“Saya mengajak seluruh warga untuk datang dan merayakannya dengan penuh kegembiraan, kebersamaan, dan saling menghormati. Pesan saya, tetap jaga ketertiban, kebersihan, dan keamanan selama perayaan. Semoga semangat Dugderan memperkuat persaudaraan, menumbuhkan toleransi, serta membawa berkah bagi masyarakat dan Kota Semarang,” pungkasnya.

Sebagai informasi, demi mendukung kelancaran acara, Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang menerapkan pengalihan arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan.

Masyarakat diimbau mematuhi rambu petugas dan memanfaatkan sejumlah titik parkir resmi yang telah disiapkan di Gedung Parkir Masjid Agung Kauman, Parkir Basement SCJ Matahari, Basement Alun-alun Pasar Johar, serta sepanjang Jalan Alun-alun Timur.

Buka Peluang Ekonomi Pilah Sampah Warga Tlogosari Wetan, Wali Kota Resmikan TPS Bugen

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng meresmikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bugen yang berlokasi di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan pada Kamis (5/2/2026).

TPS ini berbeda dari TPS-TPS lainnya di mana TPS Bugen dirancang tidak hanya sebagai lokasi penampungan sampah sementara, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan gerakan sadar lingkungan bagi masyarakat setempat.

“TPS Tlogosari Wetan bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol kebersamaan kita. Dengan TPS ini, warga dapat memilah sampah dari sumbernya sehingga volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat dikurangi,” kata Agustina.

Acara peresmian yang berlangsung di tengah antusiasme warga ini menandai komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Agustina juga menyoroti persoalan klasik penempatan TPS yang kerap ditolak masyarakat.

“Kalau TPS di pinggir jalan dibilang jelek. Di tengah permukiman juga diprotes. Tapi setiap orang menghasilkan sampah. Mau dibuang ke mana kalau tidak ada TPS?” ujarnya.

Karena itu, TPS Bugen disebut sebagai satu dari sedikit TPS yang dibangun tanpa penolakan warga, dan akan dijadikan pilot project TPS percontohan Kota Semarang.

Agustina juga menegaskan bahwa TPS Bugen disiapkan lebih dari sekadar titik buang sampah. Lokasi ini akan dikembangkan menjadi pusat budidaya maggot (larva Black Soldier Fly) untuk mengolah sampah organik, bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan jejaring lingkungan hidup serta akademisi.

Sebagai bagian dari ekosistem pengolahan organik, Agustina juga mendorong koordinasi dengan dapur-dapur produksi makanan seperti SPPG/MBG agar sampah organik dipilah dan disalurkan sebagai pakan maggot.

“Kalau kita ingin perubahan dalam budaya bersih kota, prosesnya memang harus dimulai dari TPS. TPS ini harus hidup secara ekonomi, memberi manfaat bagi yang mengelola, dan berdampak bagi lingkungan,” katanya.

Berdasarkan data profil pengelolaan limbah perkotaan, total timbulan sampah di Semarang mencapai lebih dari 1.200 ton per hari, dan hanya sebagian yang dikelola dengan prinsip 3R atau melalui pengumpulan formal.

Selain itu, sampah yang menyumbat saluran air dan sungai sering menjadi penyebab genangan saat musim hujan di kawasan timur kota, termasuk di wilayah sekitar Tlogosari. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang sistematis dari tingkat RT/RW hingga kota.

Kelurahan Tlogosari Wetan, dengan luas wilayah sekitar 1,25 km² dan struktur permukiman padat, menghadapi tantangan kolektif dalam mengelola sampah rumah tangga secara efisien. 

Musim hujan dan dataran rendah di beberapa bagian wilayah menyebabkan bahan organik dan plastik yang dibuang sembarangan mudah terbawa oleh aliran air permukaan, memperparah permasalahan lingkungan.

Dengan diresmikannya TPS ini, diharapkan partisipasi aktif warga dalam pemilahan, pengurangan dan pemanfaatan ulang sampah akan meningkat.

Wilayah setempat bahkan telah dikenal turut menjalankan program bank sampah yang memberi nilai ekonomi terhadap sampah yang dikumpulkan, sehingga mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan lingkungan.

Agustina menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mengawal pengoperasian TPS ini dengan program pendampingan dan sosialisasi. “Program ini harus menjadi inspirasi lintas kelurahan, karena kota bersih dimulai dari rumah kita sendiri,” ujarnya.

Peresmian TPS Tlogosari Wetan disambut baik oleh tokoh masyarakat dan kader lingkungan. Sejumlah warga menyampaikan optimisme bahwa fasilitas ini akan meningkatkan kebersihan lingkungan serta membuka peluang ekonomi dari pemanfaatan sampah terpilah.

Pemkot Semarang Komitmen Dorong UMKM Ekspor Produk Ke Luar Negeri

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan komitmen pihaknya untuk membawa produk kerajinan (craft) lokal Kota Semarang naik kelas ke kancah internasional.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Coffee Morning Dekranasda Kota Semarang bertajuk “Strategi Penguasaan Etsy dan Amazon Store untuk Produk Craft Lokal” yang digelar di Hotel Santika Premiere belum lama ini.

“Hari ini kita sudah mengumumkan kepada publik bahwa kita akan bekerja keras lagi untuk dapat membawa pengrajin, UMKM, pengusaha Kota Semarang ini ekspor,” kata Agustina.

Acara ini menghadirkan narasumber berkompeten, di antaranya Ari Satria (Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag RI) dan Anna Melissa Nava (CEO 1Export Manila). Agustina menjelaskan bahwa pelaku UMKM harus memahami karakteristik platform digital global.

Etsy dinilai cocok untuk produk yang mengedepankan keunikan dan sentuhan personal (handmade), sementara Amazon Store memerlukan kesiapan manajemen logistik dan volume produksi yang lebih besar.

“Setidaknya, meski belum bisa ekspor tapi kita bisa menghasilkan produk berkualitas ekspor. (Meningkatkan) kualitas dulu, belajar dulu,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa Kota Semarang saat ini fokus pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berbasis kekuatan lokal.

Menurutnya, produk craft bukan sekadar barang dagangan, melainkan pertemuan antara budaya, identitas kota, dan keterampilan masyarakat.

“Terima kasih atas perhatian Dekranasda. Dekranasda itu isinya para pengusaha yang memiliki komitmen untuk meningkatkan derajat ekonomi dan kehidupan pengrajin UMKM,” kata Agustina.

Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta, termasuk jajaran Kepala OPD, pengurus Dekranasda, perwakilan UMKM, asosiasi usaha, serta pihak Bank Indonesia dan BUMD.

Melalui langkah strategis ini, Pemerintah Kota Semarang optimis produk kreatif warga lokal dapat merambah pasar dunia dengan identitas dan tanggung jawab lingkungan yang kuat.

“Semoga Coffee Morning ini melahirkan sinergi konkret antara pemerintah, perbankan, dan pelaku UMKM untuk memperkuat daya saing produk kita,” pungkas Agustina.