Home Blog Page 18

Dorong Gaya Hidup Sustainable, Generali Indonesia Konsisten Dukung Semarang 10K Ke-4 Kali

SEMARANG (lensasemarang.com) – PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (“Generali Indonesia”) terus menggaungkan gaya hidup sehat dan keberlanjutan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi, inisiatif, dan dukungan terhadap beragam aktivitas sepanjang tahun.

Setelah sebelumnya memproteksi pelari di LPS Monas Half Marathon, Friendship Run, dan Borobudur Marathon, Generali Indonesia kembali hadir sebagai official insurance partner di ajang lari nasional Semarang 10K yang digelar di Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (14/12/2025).

Pada ajang Semarang 10K ini, Generali Indonesia memberikan perlindungan kepada 3.000 pelari yang berkompetisi di empat kategori: 10K Overall, 10K Nasional, 10K Master+, dan 10K Pelajar. Perlindungan mencakup manfaat jiwa dan kesehatan akibat kecelakaan, termasuk risiko yang terkait langsung dengan aktivitas olahraga lari selama acara berlangsung.

Penyerahan simbolis perlindungan dilakukan oleh Jong Wie Siu, Chief Product Management and Marketing Officer Generali Indonesia, yang didampingi oleh Windra Krismansyah, Head of Marketing and Communications, kepada perwakilan pelari Semarang 10K.

“Kami bangga dan bersyukur dapat terus aktif mendukung masyarakat, khususnya para running enthusiast. Di Generali Indonesia, kami hadir untuk memberikan proteksi agar setiap orang dapat menjalani hidup dengan lebih aman, sehat, serta memiliki kebebasan mewujudkan cita-cita mereka, sejalan dengan tujuan kami yakni empowering lives and dreams. Semangat ini juga tercermin secara global melalui komitmen Generali Group dalam mendukung olahraga, seni budaya, dan pengembangan komunitas untuk menciptakan dampak berkelanjutan,” ujar Jong Wie Siu.

Mengusung tema “Own the Game”, Semarang 10K menghadirkan rute datar yang memacu semangat kompetitif, di mana pelari berlomba mengejar personal best sambil menikmati pesona arsitektur dan nilai budaya otentik Kota Semarang.

Generali Indonesia turut menghadirkan berbagai aktivitas menarik, seperti cheering zone, free merchandise, race certificate, refreshment booth, serta program kontribusi sosial melalui penjualan atribut lari untuk mendukung gerakan The Human Safety Net (THSN). 

Generali Indonesia juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh solusi proteksi dan keuangan.

Generali Indonesia terus memperkuat dukungan bagi masyarakat dan komunitas, seiring tingginya risiko kesehatan yang masih terjadi.

Hal ini tercermin dari peningkatan pembayaran klaim kesehatan sepanjang Januari–November 2025 sebesar 8,49% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, untuk terus mendukung masyarakat memiliki keamanan finansial, Generali Indonesia menghadirkan produk asuransi kesehatan tambahan GEN HealthCare Protection (GHP), yang memberikan manfaat rawat inap, rawat jalan, hingga perlindungan sesuai tagihan dengan limit hingga Rp60 miliar. 

Produk ini dilengkapi fitur No Claim Discount (diskon premi hingga 15%) dan No Claim Bonus (tambahan perlindungan hingga 50% jika tidak terjadi klaim), sesuai ketentuan Polis yang berlaku. GHP dapat dimiliki bersama perlindungan jiwa GEN Proteksi Utama (GEN Pro) melalui ribuan tenaga pemasar di seluruh Indonesia.

Sebagai nilai tambah, nasabah juga dapat menikmati layanan gratis telemedicine melalui fitur Dokter Leo di aplikasi Gen iClick. “Upaya ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan sustainable community melalui ajang olahraga, inovasi produk, dan program kesehatan di lebih dari 20 (dua puluh) kota sepanjang tahun 2025. Prinsip keberlanjutan menjadi fondasi strategi kami, memastikan setiap inisiatif memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” tutup Wie Siu.

Politisasi Birokrasi Kendala Menciptakan Birokrasi Yang Kompeten dan Berintegritas

Penulis : Anjar Asmara Magister Ilmu Politik, Universitas Diponegoro Email: anjarasmara@students.undip.ac.id

SEMARANG (lensasemarang.com) – Reformasi birokrasi sudah menjadi agenda strategis sejak era Reformasi tahun 1998 di Indonesia untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik. 

Dalam kenyataannya perjalanan reformasi birokrasi ini masih menghadapi tantangan dalam tercapainya birokrasi yang kompeten dan berintegritas. Praktik politisasi birokrasi dalam penempatan pejabat menjadi penghalang utama dalam mewujudkan birokrasi yang kompeten dan berintegritas.

Sebagai warga negara Indonesia tentu saja menginginkan birokrasi yang kompeten dan berintegritas. Bukan tanpa sebab, birokrasi yang kompeten dan berintegritas akan memberkan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat.

Politisasi birokrasi yang terjadi dalam penempatan pejabat bukanlah barang baru, di mana pejabat politik dan pejabat publik ditumpangi oleh kepentingan untuk mencapai tujuan mereka masing-masing.

Politisasi birokrasi pada umumnya sering mewarnai proses penempatan pejabat terutama di tingkat pemerintahan daerah. Jika mengacu pada Peters dan Pierre fenomena politisasi muncul dalam diskusi tentang pelayanan publik, pada tingkat yang paling mendasar yang dimaksud dengan politisasi birokrasi adalah menggantikan kriteria berbasis merit dengan kriteria politik dalam seleksi, promosi, penghargaan, dan pendisiplinan anggota pelayanan publik (Peters dan Pierre, 2004).

Umumnya praktik semacam ini terjadi melalui patronase yaitu memberi penghargaan kepada pendukung setia dan keluarga.

Politisasi birokrasi dalam penempatan pejabat bisa dilakukan oleh siapa saja, baik oleh pejabat politik maupun pejabat publik. Kembali sedikit mengenai kemelut politisasi birokrasi pernah terjadi dalam penempatan pejabat tahun 2021-2024di Kabupaten Buton Utara . 

Politisasi birokrasi dalam penempatan pejabat tahun 2021-2024 di Kabupaten Buton Utara menjadi salah satu contoh kegagalan reformasi birokrasi. Politisasi birokrasi ini terjadi karena keinginan Bupati untuk mempertahankan kontrol penuh terhadap birokrasi pemerintahannya, PNS/ASN memanfaatkan koneksi politik, politik balas jasa, serta dominasi hubungan familial yang berakibat pada kompetensi adjusment diabaikan, profesionalisme penempatan subyektif, dan dinamika sumber daya manusia sering terjadi pencopotan dan mutasi jabatan (Asmara, 2025).

Tentu saja, untuk mengurangi sebagai langkah untuk mengantisipasi peristiwa tersebut terjadi dalam setiap penempatan pejabat sangat diperlukan adanya kesadaran Kementrian PANRB dan BKN untuk mendeteksi permaslahan tersebut sejak dini secara preventif terlebih KASN telah dibubarkan pada tahun 2024 yang lalu.

Bagi Pemerintah harus segera membentuk lembaga independen yang baru untuk mengawasi sistem merit ASN. Lembaga ini harus dibekali dengan pendidikan secara praktis maupun pendidikan politik dan hukum untuk menghadirkan lembaga pengawas sistem merit ASN yang jauh lebih baik dan sadar akan pentingnya pelayanan publik.

Selain itu Pemerintah juga harus memberikan fasilitas yang sepadan kepada SDM lembaga pengawas sistem merit ASN agar hasil pengawasannya melahirkan birokrasi yang kompeten dan berintegritas.

Selain lembaga pengawas sistem merit ASN, juga dibutuhkan sebuah partisipasi yang aktif dan bijak dari masyarakat umum untuk memantau jalannya penyelenggaraan penempatan pejabat yang harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Partisipasi aktif ini dapat dilakukan dengan cara seperti:

  1. Memperkuat pendidikan politik terutama tentang politisasi birokrasi. Pendidikan politik ini dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakt dengan memanfaatkan internet.
  2. Memantau dan melaporkan kepada Kementrian PANRB dan BKN atau Ombudsman Republik Indonesia yang bertugas menangani manajemen ASN dan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik jika ada dugaan terjadinya politisasi birokrasi dalam penempatan pejabat.
  3. Berpartisipasi dalam proses lelang jabatan dengan meberikan masukan tentang rekam jejak calon pejabat.
  4. Menggunakan media massa atau media online untuk menyuarakan dugaan terjadinya politisasi birokrasi dalam penempatan pejabat.
  5. Bekerjasama dengan LSM untuk memantau jalannya penempatan pejabat. Masyarakat sangat berhak mengawal jalannya penempatan pejabat karena ini bertujuan pada pelayanan publik, jika birokrasi yang tercipta dari hasil penempatan pejabat yang sesuai dengan perturan perundang-undangan tentu saja pelayanan publik akan berjalan dengan baik. Keinginan baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat dari segi reformasi birokrasi adalah hal yang sangat penting. Hal ini dilakukan dengan cara penguatan fungsi lembaga yang bertugas mengawasi sistem merit ASN, pengembangan infrastruktur kepegawaian berbasis teknologi serta peningkatan kompetensi ASN. Selain itu kesadaran juga partisipasi aktif masyarakat mengenai pentingnya memberikan sebuah sumbangsih yang besar melalui perannya tersendiri untuk mengawal penempatan pejabat dengan baik maka reformasi birokrasi akan tercapai dengan lahirnya birokrasi yang kompeten dan berintegritas. Pada akhirnya hal ini tidak hanya menentukan kualitas birokrasi tetapi juga kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.

Referensi Buku – Peters B. Guy, Pierre Jon. (2004). Politicization of the Civil Service in Comparative Prespective The quest for control, London and New York: Routledge Taylor and Francis Group. Thesis

– Asmara Anjar. (2025). Politisasi Birokrasi di Kabupaten Buton Utara (Studi Tentang Penempatan Pejabat Tahun 2021-2024).

Pertamina dan Undip Ajak Petani di Semarang Nanam 48 Ribu Pohon Produktif di KHDTK Undip Untuk Pulihkan DAS Babon, dan Kesejahteraan Masyarakat

SEMARANG – Sebanyak 48 ribu batang pohon produktif dan tanaman keras siap ditanam di Kawasan Hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Wanadipa Undip, Kabupaten Semarang, Kamis (11/12).

Program konservasi ini merupakan kolaborasi Pertamina Foundation dengan Universitas Diponegoro (UNDIP) untuk memulihkan area hulu daerah aliran sungai (DAS) sungai Babon dan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.

Komisaris Independen PT Pertamina Condro Kirono, mengatakan program Hutan Lestari menjadi bagian dari komitmen Pertamina terhadap pelestarian lingkungan. Kick off Penanaman Hutan Lestari Pertamina di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Universitas Diponegoro (KHDTK Undip) lahan seluas 100 hektar.

“Kita bekerja sama dengan UNDIP, yang punya lahan kurang lebih 100 hektar. Oleh karena itu hutan yang ada di sini harus semakin kita perbanyak dan lestarikan supaya menyelamatkan kawasan hulu di Demak, Semarang, Grobogan supaya kawasan-kawasan tersebut tidak terdegradasi,” kata Condro Kirono usai menanam pohon di Kawasan Hutan Pendidikan Wana Dipa, Kabupaten Semarang, Kamis (11/12).

Pertamina menyumbangkan 48 ribu batang pohon yang terdiri dari tanaman keras dan tanaman produktif seperti alpukat, nangka, kelengkeng, dan mangga. Para petani diharapkan bisa menanam dengan kesungguhan hati, agar hasilnya bisa maksimal.

“Maka kalau bagus cukup 2,5 tahun hasil alpukat, mangga, dan nangka bisa tingkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Program ini merupakan implementasi prinsip Environmental Social Governance (ESG) dalam bisnis Pertamina. “Tantangan perubahan iklim saat ini sudah tidak bisa diprediksi, perusahaan energi harus menerapkan environmental social governance,” jelasnya.

Rektor UNDIP, Prof Suharnomo, menyatakan KHDTK Wana Dipa seluas hampir 100 hektar tersebut kini menjadi pusat riset, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Dari Pertamina, membantu 48.000 tanaman produktif dan nantinya untuk ditanam oleh 2.001 jiwa warga di dua desa, yaitu Desa Susukan dan Mluweh. Mereka nantinya mendapat manfaat langsung melalui pemanfaatan dan perawatan kawasan tanam.

“Kampus kolaborasi dengan Pertamina bisa melestarikan hutan di hulu ini sehingga kita tidak terlalu membebani yang ada di hilir,” kata Suharnomo.

Bibit yang diberikan sudah berukuran besar sehingga diperkirakan mulai berbuah dalam 3–5 tahun. Selain untuk vegetasi dan konservasi, kawasan ini dimanfaatkan mahasiswa sebagai laboratorium alam untuk beragam riset.

Seorang petani hutan, Muhammad Kamsani mengaku ia bersama timnya mendapat tugas menanam pohon sekitar 20 hektar lahan. Penghijauan sangat vital karena tanah di Kaligawe cenderung labil.

“Satu tim 10 orang, dan biasanya yang bisa dipanen pisang itu hasilnya,” kata Kamsani.

Sejak menjadi petani tahun 2023 di hutan Wana Dipa bisa menjadi sumber penghasilan utama. “Saya petani KHDTK Undip, penghasilan sehari-hari bisa untuk biayai sekolah anak dan sebagainya dari hutan,” jelasnya.

Ia menyebut penghijauan sangat vital karena tanah di Kaligawe cenderung labil.

“Saya prioritaskan untuk penghijauan, kegiatan UNDIP sangat mendukung apapun yang ada di kegiatan ini,” katanya.

Melalui program ini, Pertamina dan UNDIP menargetkan terbentuknya ekosistem berkelanjutan yang memulihkan hulu DAS Babon sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui UMKM berbasis hasil tanaman produktif.

Kick-off penanaman ini menjadi awal dari kerja sama jangka panjang pelestarian KHDTK Wana Dipa sebagai kawasan riset, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat di Jawa Tengah.

Pesona Indonesia Pada Bazar Amal di Bucharest

SEMARANG (lensasemarang.com) – Indonesia turut menyemarakan bazar amal yang diselenggarakan oleh International Women’s Association (IWA) Rumania di Bucharest (7/12/2025).

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Rumania merangkap Republik Moldova, Meidyatama Suryodiningrat mengatakan bahwa kehadiran Indonesia melalui KBRI Bucharest dan DWP Persatuan KBRI Bucharest tidak hanya mendukung tujuan sosial, tapi juga memperkuat citra Indonesia di fora internasional.

“Partisipasi Indonesia ini juga untuk lebih memperkenalkan budaya, seni, dan produk khas Indonesia ke masyarakat internasional di Rumania,” kata Dubes Meidyatama.

Gerai Indonesia menampilkan aneka kerajinan seperti ukiran kayu, topeng, angklung, aksesoris, dan busana batik, serta aneka kuliner autentik yang menggugah selera pengunjung, seperti cireng, gemblong, tahu isi, dan bakwan. Selain itu terdapat juga menu bakso dan siomay sebagai opsi menu makan siang.

Para pengunjung tidak hanya melihat-lihat stan Indonesia, bertanya dan berbincang-bincang tentang Indonesia, tetapi juga membeli barang-barang yang dipamerkan dan makanan.

“Tiada hentinya stan Indonesia dipenuhi pengunjung hingga aneka makanan Indonesia yang disiapkan habis terjual,” ujar Ruth Raynata, Sekretaris DWP KBRI Bucharest, menambahkan.

Tari Bajidor Kahot di panggung utama yang dipersembahkan oleh Jihan Hasna Jauza Apandi, mahasiswi Indonesia yang sedang studi aerospace engineering di National University of Science and Technology Politehnica Bucharest menambah kemeriahan suasana bazar.

Dengan gerakan dinamis dan ekspresif, serta iringan musik yang enerjik dan ritmis, tarian tradisional asal Jawa Barat ini menarik perhatian pengunjung yang terlihat terpesona dan merespon dengan bertepuk tangan meriah dan mengabadikan momen melalui kamera telepon genggamnya.

Kemeriahan semakin terasa saat parade negara peserta berlangsung. Bendera merah putih berukuran besar berkibar megah di tangan dua mahasiswa University of Bucharest, Aisya Salwa Suprapta dari jurusan Administrasi Bisnis dan Laksmana Adib Suryodiningrat dari jurusan Hubungan Internasional. 

Mengenakan pakaian adat Dayak, keduanya mengibarkan bendera nasional di antara deretan bendera negara lain, menciptakan pemandangan yang spektakuler dan membangkitkan rasa bangga akan identitas Indonesia.

IWA Charity Bazaar diikuti oleh lebih dari 60 misi diplomatik dan komunitas internasional di Rumania. Bazar tidak hanya sekedar pameran, tetapi juga simbol persatuan melalui keberagaman, toleransi, dan semangat berbagi melalui kegiatan sosial. 

Dalam bazar ini pengunjung dapat menjelajahi tradisi autentik, kreasi artistik, musik dan koreografi, sajian kuliner khas, dan kerajinan tangan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Pemda Tingkatkan Pembinaan Calon Pekerja Migran

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Mohammad Saleh mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan perhatian terhadap pembinaan calon pekerja migran, terutama pada tahap pra-keberangkatan.

Menurut dia, upaya ini sangat penting untuk melindungi hak-hak tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Tengah dan mencegah kasus-kasus pelanggaran atau eksploitasi di negara tujuan.

“Jawa Tengah termasuk daerah pengirim pekerja migran cukup tinggi. Maka sudah semestinya kita memperkuat sistem pembinaan dan pelatihan bagi calon pekerja, mulai dari keterampilan teknis, pemahaman hukum, hingga kesiapan mental,” katanya.

Saleh mengungkapkan, banyak masalah yang menimpa pekerja migran berakar dari minimnya pemahaman akan kontrak kerja, bahasa, serta kondisi sosial dan hukum di negara tujuan.

Oleh sebab itu, dirinya menilai penting adanya sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dan agen penyalur resmi untuk memastikan bahwa para calon pekerja migran mendapatkan pembekalan komprehensif.

“Selama ini, kita terlalu fokus pada sisi administratif. Padahal yang dibutuhkan pekerja migran kita adalah pendampingan yang bersifat manusiawi dan edukatif. Jangan hanya dilepas ke luar negeri, tapi tidak tahu hak dan kewajibannya di sana,” ujar politikus Partai Golkar itu.

Saleh juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap lembaga pelatihan kerja (LPK) dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) agar proses rekrutmen berlangsung secara transparan dan bebas dari praktik percaloan.

Pihaknya menekankan bahwa upaya perlindungan tidak cukup dilakukan saat pekerja sudah berada di luar negeri, melainkan harus dimulai sejak mereka mendaftar sebagai calon pekerja.

“Pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, harus punya data yang akurat dan terus diperbarui. Jangan sampai ada pekerja ilegal yang lolos tanpa pelatihan resmi. Ini bukan hanya soal keselamatan mereka, tapi juga citra tenaga kerja kita di mata dunia,” kata Saleh.

Wakil Ketua DPRD Jateng Dukung Konsep Aglomerasi Wisata

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh mendukung konsep aglomerasi wisata yang digagas oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi karena dinilai sebagai langkah strategis dalam mengembangkan sektor pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam konsep aglomerasi wisata tersebut, Pemprov Jateng berupaya mengintegrasikan sejumlah destinasi wisata yang berdekatan secara geografis agar saling mendukung dan memperkuat daya tarik kawasan.

Salah satu contoh yang tengah disiapkan adalah pengembangan kawasan wisata terpadu Rawapening-Kopeng-Borobudur. Menurut Saleh, gagasan ini sangat bagus dan perlu didukung bersama.

“Dengan menghubungkan destinasi-destinasi wisata yang memiliki karakteristik berbeda namun saling melengkapi, potensi ekonomi lokal bisa lebih maksimal. Ini bukan hanya soal pariwisata, tapi juga pemerataan pembangunan,” ujar Saleh.

Ia menjelaskan bahwa Rawa Pening di Kabupaten Semarang dikenal dengan wisata air dan keindahan alamnya, sementara Kopeng yang juga berada di Kabupaten Semarang menawarkan panorama pegunungan serta hasil pertanian berkualitas.

Di sisi lain, Candi Borobudur di Kabupaten Magelang adalah ikon wisata dunia yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Dengan konsep ini, maka wisatawan di Borobudur bisa juga diarahkan untuk berkunjung di Kopeng maupun Rawa Pening.

“Bayangkan jika wisatawan dari luar negeri yang datang ke Borobudur bisa diarahkan untuk juga menikmati kesejukan Kopeng dan keindahan danau Rawapening. Mereka tidak hanya berhenti di satu titik, tapi menjelajahi seluruh potensi Jateng. Ini akan menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar,” kata pria yang juga menjabat Ketua DPD Golkar Jateng itu.

Saleh menegaskan, pihaknya siap memberikan dukungan anggaran maupun regulasi untuk mendukung terwujudnya aglomerasi wisata ini. Ia juga mendorong sinergi lintas kabupaten/kota agar tidak ada ego sektoral yang menghambat integrasi kawasan.

“Semangat kolaborasi antar daerah menjadi kunci keberhasilan program ini. Kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Semua harus terhubung dan saling menguatkan,” tegasnya.

Selain kawasan Rawa Pening-Kopeng-Borobudur, destinasi wisata lain yang bisa dikembangkan dengan konsep aglomerasi yaitu Solo-Sangiran-Sragen, serta kawasan Karimunjawa-Jepara-Kudus.

“Kami yakin dengan mengintegrasikan wisata satu dengan lainnya, Jawa Tengah bisa menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga pengalaman wisata yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Saleh.

Mandiri Investasi, BSI, Mandiri Sekuritas, Pegadaian dan Deutsche Bank Hadirkan Reksa Dana Bursa Emas Syariah Pertama di Indonesia

JAKARTA-PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) terus mematangkan rencana peluncuran Reksa Dana Bursa Syariah berbasis emas atau biasa dikenal ETF Emas, yang ditargetkan mengawali tahun depan. 

Kali ini PT Mandiri Manajemen Investasi melanjutkan langkah strategis ini bersama dengan PT Pegadaian dan Deutsche Bank melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Senin (08/12/2025). 

Sebelumnya MMI menjalin kerja sama strategis dengan Mandiri Sekuritas sebagai Dealer Partisipan pertama untuk Reksa Dana Bursa (RDB) Emas Syariah, serta Bank Syariah Indonesia sebagai mitra Bullion Bank akan mengawali kolaborasi melalui eksplorasi potensi pengembangan, pembentukan, peluncuran, sampai dengan pengelolaan produk investasi berbasis emas yang inovatif.

Dalam beberapa bulan terakhir, Mandiri Investasi, Mandiri Sekuritas, BSI, Pegadaian, dan Deutsche Bank telah melakukan persiapan teknis secara intensif, mulai dari finalisasi mekanisme penyediaan dan penyimpanan emas fisik, tata kelola kustodian, infrastruktur perdagangan RDB, hingga memastikan kesesuaian struktur produk dengan prinsip syariah. Seluruh proses tersebut diarahkan untuk memastikan produk siap diluncurkan segera setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan OJK (POJK) tentang Reksa Dana Berbentuk KIK yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek dengan aset yang mendasari berupa emas, yang saat ini memasuki tahap finalisasi. Mandiri Investasi menargetkan peluncuran RDB Emas Syariah dilakukan sesaat setelah regulasi tersebut resmi dirilis.

Langkah peluncuran RDB Emas Syariah juga diperkuat oleh rekam jejak Mandiri Investasi dalam mengelola 14 Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan underlying berupa Reksa Dana Bursa / ETF emas global. Pengalaman tersebut memberikan fondasi teknis yang kuat bagi Mandiri Investasi untuk menghadirkan produk RDB Emas domestik yang memenuhi standar internasional sekaligus selaras dengan prinsip syariah.

Sesuai MoU terbaru, Pegadaian akan berperan sebagai Bullion Bank, sedangkan Deutsche Bank akan berperan sebagai Bank Kustodian. Direktur Pemasaran, Penjualan dan Pengembangan Produk PT Pegadaian Selfie Dewiyanti menjelaskan bahwa Pegadaian akan menyediakan dan menyimpan emas fisik yang menjadi underlying RDB Emas Syariah Mandiri Investasi. Dengan posisi sebagai Bullion Bank pertama di Indonesia dan rekam jejak panjang dalam ekosistem emas nasional, Pegadaian siap mendukung kehadiran produk RDB Emas Syariah yang lebih aman, terjangkau dan mudah diakses.

“Langkah ini menjadi bagian dari upaya kami mendukung pemerintah memperkuat ekosistem industri emas nasional serta memperluas layanan emas bagi masyarakat,” ujar Selfie.

Kerja sama yang akan dilakukan dengan Deutsche Bank sebagai Bank Kustodian diharapkan meningkatkan kepercayaan investor melalui tata kelola yang kuat. Bank investasi global tersebut memiliki pengalaman panjang dalam mengadministrasikan transaksi ETF berbasis efek dan berbasis emas di berbagai pasar internasional.

“Dengan pengalaman global dan infrastruktur yang kuat, kami memastikan pengadministrasian Reksa Dana dilakukan sesuai standar tertinggi demi menjaga kepercayaan investor serta mendukung perkembangan industri pasar modal,” jelas Samir Shivaji Dhamankar, Head of Corporate Bank Indonesia and Head of Trust & Securities Services ASEAN Deutsche Bank.

Direktur Mandiri Investasi Ernawan Rahmat Salimsyah, CFA menegaskan bahwa kolaborasi strategis ini ditujukan untuk menghadirkan ekosistem RDB Emas Syariah yang likuid, terjangkau, dan mudah diperdagangkan layaknya saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Produk ini dirancang memiliki underlying emas fisik murni yang tersimpan di Bullion Bank dan memenuhi prinsip syariah sesuai Fatwa DSN MUI No. 163/DSN-MUI/VII/2025.

Selain efisiensi dan transparansi yang menjadi keunggulan RDB, Ernawan menekankan bahwa produk ini juga dirancang mengikuti dinamika harga emas domestik maupun global dengan biaya per unit penyertaan yang kompetitif.

“RDB Emas Syariah yang akan kami luncurkan dapat menjadi solusi investasi modern dibandingkan menyimpan emas fisik. Produk ini mudah ditransaksikan, transparan, dan sangat relevan bagi investor yang mencari instrumen safe haven atau diversifikasi portofolio,” ujarnya.

Mandiri Investasi optimistis produk ini akan mendapat sambutan kuat dari investor institusi maupun ritel, serta menjadi katalis pertumbuhan AUM perusahaan pada 2026. Hingga 4 Desember 2025, dana kelolaan konsolidasi Mandiri Investasi telah melampaui Rp 80 triliun dan diproyeksikan terus meningkat hingga akhir tahun.

Sebagai manajer investasi nasional yang menyediakan 54 produk investasi—mulai dari reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, alternatif, hingga produk dengan strategi pasif, yaitu ETF Mandiri ETF LQ45, dan Mandiri ETF SRI-KEHATI serta Reksa Dana Indeks yaitu Mandiri Indeks FTSE Indonesia ESG dan Mandiri Investa Indeks Obligasi Negara, kehadiran RDB Emas Syariah akan melengkapi portofolio RDB Mandiri Investasi. Seluruh produk tersebut telah dipasarkan melalui 43 APERD, termasuk mitra distribusi di Singapura.***

Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Pemprov Perbanyak Job Fair Untuk Fresh Graduate

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mendorong Pemprov Jawa Tengah untuk memperbanyak penyelenggaraan bursa kerja atau job fair guna membuka peluang yang lebih luas bagi lulusan baru atau fresh graduate.

Menurut dia, keberadaan job fair merupakan salah satu langkah konkret yang dapat menjembatani para pencari kerja dengan dunia industri dan perusahaan, apalagi lulusan perguruan tinggi di Jawa Tengah terus meningkat tiap tahun.

“Pemerintah perlu hadir dengan program nyata, salah satunya memperbanyak job fair, sehingga mereka punya akses langsung terhadap informasi lowongan kerja,” kata dia.

Ia menilai, masih banyak lulusan baru yang kesulitan mendapatkan pekerjaan bukan karena tidak memiliki kompetensi, tetapi karena minimnya akses informasi terkait kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.

Dengan adanya job fair, lanjut dia, para pencari kerja bisa berinteraksi langsung dengan perusahaan, sekaligus mendapatkan gambaran mengenai kualifikasi dan keterampilan yang dibutuhkan.

“Job fair tidak hanya mempertemukan pencari kerja dan pemberi kerja, tetapi juga menjadi sarana edukasi. Para fresh graduate bisa mengetahui perkembangan pasar tenaga kerja sekaligus menyesuaikan keterampilannya dengan kebutuhan industri,” ujar Saleh.

Pria yang juga menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jateng itu juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan.

Menurut Saleh, penyelenggaraan job fair bisa dilakukan secara rutin, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dengan melibatkan perusahaan skala besar maupun UMKM.

“Jika dilakukan secara masif, saya yakin angka pengangguran bisa ditekan. Lebih dari itu, job fair juga akan mendorong terciptanya ekosistem ketenagakerjaan yang lebih sehat dan produktif. Kita harus memastikan para lulusan tidak hanya menunggu, tetapi punya kesempatan yang nyata untuk segera bekerja dan berkontribusi bagi pembangunan daerah,” ujarnya.

Modalitas Politik Sebagai Faktor Elektabilitas Dalam Politik Lokal

Penulis: Inosensius L. Makus

SEMARANG (lensasemarang.com) – Konsep teori modalitas Bourdieu dalam praktek dinamika politik lokal menjadi sumber daya dalam memperoleh dukungan (Support), mendapatkan legitimacy dari rakyat, kepercayaan (trust), mobilisasi masa pendukung. Masyarakat yang terbentuk dan terintegrasi menjadi bagian pada salah satu kandidat politik dalam pilkada.

Latar belakang sosial-politik politik memberikan konteks yang sangat penting dalam memahami mekanisme kerja modalitas pasangan calon. Dalam konteks pemilihan Kepala Daerah, Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur sebagai wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik demografis yang khas, di mana heterogenitas masyarakat terutama keberadaan warga baru Timor-Timur membentuk identitas politik yang berbeda dibandingkan wilayah lain, keberadaan suatu komunitas warga baru dengan populasi banyak dapat menjadi entitas sosial yang memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat, sekaligus memiliki orientasi politik yang relatif solid dan mudah dimobilisasi oleh figur yang kerap merepresentasikan identitas kolektif (Yuliani & Ardianto, 2020).

Dalam konteks ini, keberadaan figur yang memiliki kedekatan historis, kultural, dan emosional dengan komunitas tersebut menjadikan kandidat pilkada memiliki modal budaya yang signifikan.

Modalitas politik dari filsuf Pierre Bourdieu dengan konsep modal budaya, modal ekonomi, modal sosial dan modal simbiotik, memiliki ruang dalam meningkatkan dan menciptakan elektabilitas dalam politik lokal khususnya pemilihan kepala daerah. 

Uraian mengenai: Modalitas ini tidak berdiri sendiri, melainkan kemudian dikonversi menjadi daya elektabilitas melalui pembentukan jaringan komunitas, hubungan informal, serta solidaritas kelompok yang terinstitusionalisasi dalam struktur sosial masyarakat.

Pada pilkada Kabupaten Belu tahun 2024, koalisi Partai Demokrat, Gerindra, Nasional Demokrat dan Perindo menjadi salah satu koalisi partai yang mengusung pasangan calon Willybrodus Lay dan Vicente H. Goncalves untuk bertarung dalam kontestasi pilkada Kabupaten Belu.

Keputusan politik dalam membentuk koalisi ini dapat ditarik sebuah jawaban bahwa keterlibatan unsur kultur dalam memilih pasangan sangat penting dalam membentuk kekuatan politik pendukung. Dalam konteks pilkada Belu tahun 2024, secara garis besar dikatakan bahwa Partai Gerindra identik dengan warga baru Timor-timur.

Fenomena ini terbentuk secara lahiriah yang tidak terlepas dari persoalan antara warga Timor-Timur dengan kedekatan bersama Prabowo Subianto ketika bertugas di Timor-Timur. Hubungan emosional yang dibangun, membentuk identitas yang tertanam dalam diri warga Timor-timur dan mengerucut pada orientasi politik warga Timor-timur. Sehingga Partai Gerindra dalam pandangan warga baru Timor-timur di Kabupaten Belu adalah bagian dari identitas mereka.  

Koalisi partai pengusung Willybrodus Lay-Vicente H. Goncalves menjadi sebuah tawaran politik yang berbeda dari kandidat paslon pilkada yang lainnya. Pada umumnya pilkada di Kabupaten Belu cenderung memilih pasangan wakil dari latar belakang warga lokal sendiri, hal ini nampak dalam masing-masing kandidat yang telah diuraikan sebelumnya bahwa memilih warga Belu menjadi sebuah pola modal yang dapat mengarahkan masa pendukung pada kandidat tersebut. 

Kendati demikian, pada pilkada Belu tahun 2024, melalui koalisi partai politik terdapat rekrutmen tokoh warga baru Timor-timur yang menjadi representasi dari komunitas besar warga yaitu warga baru Timor-timur.

Vicente H. Goncalves adalah jawaban dari modalitas sebuah tawaran politik yang berbeda akan tetapi memiliki sumber daya dalam mobilisasi masa.

Menjadi penting karena mampu mengintegrasikan seluruh bentuk modalitas tersebut ke dalam sebuah analisis yang utuh dan sistematis. Urgensi topik ini tidak hanya bersandar pada fenomena kemenangan pasangan Lay–Goncalves itu sendiri, tetapi juga pada perlunya pemahaman teoritis mengenai bagaimana modal-modal politik bekerja secara kontekstual dalam ruang sosial tertentu.

Dengan menggunakan teori modal Bourdieu, dapat ini mengisi celah dalam kajian politik lokal Indonesia, terutama dalam menghubungkan teori modalitas dengan dinamika Pilkada yang sejauh ini lebih banyak dianalisis dari perspektif perilaku pemilih, strategi kampanye, atau konflik elite (Ramadhan & Ridwan, 2020).

Dalam dinamika politik lokal, eletabilitas dari modalitas dapat dideskripsikan melalui modal budaya. Kasus pilkada Kabupaten Belu, modal budaya tercermin dalam kesamaan latar belakang sebagai bagian dari warga baru Timor-timur dan persamaan senasib perjuangan yang kemudian mengarah pada legitimasi, mewakili kelompok masyarakat yang besar dalam kontestasi pilkada Belu tahun 2024. 

Vicente adalah representasi modal budaya warga baru Timor-timur di Kabupaten Belu, potensi inilah yang menjadi sebuah tawaran politik berbeda yang dimiliki antara pasangan

​Modal simbolik juga menjadi dimensi yang sangat relevan dalam kemenangan pasangan kandidat di kontestasi pilkada. Melalui rekam jejak kandidat yang dikenal masyarakat, kandidat memiliki legitimasi simbolik yang kuat, terutama terkait citra kepemimpinan, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuan menyelesaikan persoalan daerah selama masa jabatan sebelumnya.

Pasangan ini memperoleh keuntungan dari “recognition” dan reputasi aspek yang dalam teori Bourdieu termasuk dalam “symbolic capital” yang mampu meningkatkan dominasi sosial dalam sebuah “field” politik lokal (Bourdieu, 1986; Sari et al., 2018).

Pendekatan seperti ini telah digunakan untuk menjelaskan bagaimana kandidat dari kelompok minoritas dapat memenangkan Pilkada, melalui konversi modal sosial, budaya, dan simbolik ke dalam dukungan elektoral (Yuliani & Ardianto, 2020).

​Pilkada Kabupaten Belu tahun 2024 menjadi awal bagi keterlibatan warga baru Timor-timur dalam pilkada, kondisi inilah menjadi modalitas pembeda yang menempatkan pasangan Willy-Vicente mampu mengarahkan dan memobilisasi masa dengan sumber daya modal sosial dan modal budaya yang tercermin dalam Figur Vicente H. Goncalves.

Deskripsi dari modalitas meningkatkan elektabilitas dapat didilihat pada pilkada Kabupaten Belu tahun 2024, dengan perolehan suara sebagai berikut: 1.Willy-Vicente:46.173 suara, 2. Agus-Yulianus: 34.132 suara, 3. Servas-Pius 4.388 suara, 4. Roni- Theodorus 16.062 suara. 

Perbandingan dari perolehan suara dalam pilkada di Kabupaten Belu, menjadi gambaran bahwa modalitas sebagai salah satu strategi dalam peningkatan elektabilitas politik lokal.

Bertolak dari teori modalitas Bourdieu, mengacu pada berbagai jenis modal yang dimiliki individu untuk memperoleh kekuasaan dalam suatu arena sosial politik (Bourdieu,1983:20) maka menjadi rujukan bagi setiap partai politik dan aktor politik dalam menentukan pasangan calon.

Dinamika politik dalam pilkada adalah membaca situasi politik, potensi-potensi yang mampu menciptakan modalitas dalam kontestasi pemilihan umum. Figur kandidat mengkolaborasikan modalitas dari keunggulan masing-masing figur dalam koalisi partai yang ideal dengan memperhatikan potensi.

Koalisi partai dan penetapan calon kandidat dengan melihat representasi dari modal sosial, modal budaya mengarahkan keterlibatan legitimasi masyarakat dalam kontestasi dan keunggulan modalitas dari pasangan kandidat lainnya dalam dinamika politik lokal.

Dorong Inovasi Literasi, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Perpustakaan Bertransformasi Digital

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh menyerukan agar seluruh perpustakaan daerah di Jateng segera melakukan transformasi digital.

Menurutnya, perpustakaan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi masyarakat di era modern.

“Perpustakaan tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku. Saat ini masyarakat, terutama generasi muda, lebih dekat dengan dunia digital. Karena itu, layanan perpustakaan harus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman,” kata Saleh.

Ia menilai, penerapan sistem e-library atau perpustakaan digital menjadi langkah penting dalam memperluas akses informasi. Dengan sistem daring, masyarakat bisa membaca buku dan mencari referensi kapan saja tanpa harus datang langsung ke gedung perpustakaan.

“Digitalisasi perpustakaan akan memperluas jangkauan literasi dan memudahkan masyarakat untuk belajar dari mana saja. Ini sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Selain itu, Saleh juga menekankan pentingnya fasilitas ramah anak agar perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang inklusif.

Dirinya mendorong pengelola perpustakaan untuk menyediakan area khusus anak dengan desain yang menarik, serta kegiatan edukatif seperti mendongeng, membaca bersama, atau lomba literasi.

“Kebiasaan membaca perlu dibangun sejak dini. Kalau perpustakaan dibuat menarik dan nyaman, anak-anak akan tumbuh dengan kecintaan terhadap buku,” katanya.

Saleh juga mengingatkan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam memperkuat fungsi perpustakaan. Menurutnya, peningkatan sarana, koleksi buku, serta kompetensi pustakawan perlu menjadi perhatian serius.

“Perpustakaan adalah pusat literasi dan pengetahuan masyarakat. Pemerintah harus memastikan fasilitas dan SDM-nya memadai agar bisa menjadi ruang belajar publik yang modern,” ujar pria yang juga menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah itu.

Ia menegaskan, penguatan literasi merupakan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi.

“Kalau budaya membaca tumbuh, kualitas intelektual masyarakat juga meningkat. Itu akan mendorong kemajuan Jawa Tengah, tidak hanya secara ekonomi, tapi juga secara pengetahuan,” katanya.