Home Blog Page 14

Persiapan Pameran, PPI Gelar Roadshow GPPE dan Label & Carton Box Expo 2026 Di Kota Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – PT Pelita Promo Internusa (PPI) menggelar Roadshow Regional Global Printing & Packaging Expo (GPPE) dan Label & Carton Box Expo 2026 di Room Inc, Kota Semarang pada Selasa (4/2/2026).

Roadshow ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan pameran utama yang akan berlangsung pada 6–9 Mei 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK2, Jakarta.

Roadshow di Kota Semarang ini untuk mempertemukan supplier, buyer, serta pelaku industri lokal melalui format networking terstruktur.

Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan demo dan presentasi produk bagi pelaku industri percetakan, kemasan, label, dan corrugated.

Roadshow GPPE dan Label & Carton Box Expo 2026 menyasar pelaku industri percetakan, kemasan, label, dan corrugated dengan menghadirkan platform B2B tatap muka.

Platform ini memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara pemasok teknologi, penyedia material, dan calon pembeli guna mempercepat proses sourcing serta mendorong keputusan pembelian yang lebih tepat.

Pemilihan Semarang sebagai salah satu kota tujuan roadshow didasarkan pada posisinya yang strategis sebagai pusat logistik dan manufaktur di Jawa Tengah.

Kota Semarang didukung infrastruktur yang kuat, kedekatan dengan pelabuhan dan jalur distribusi utama, serta keberadaan kawasan industri dan pelaku usaha kemasan yang terus berkembang.

Direktur PT Pelita Promo Internusa, Sofianto Widjaja, mengatakan roadshow tidak hanya memperkenalkan teknologi dan material terbaru, tetapi juga mempertemukan pemangku kepentingan yang dapat langsung membuat keputusan bisnis.

“Roadshow ini membuka peluang bagi exhibitor untuk menunjukkan kapabilitasnya secara langsung, sekaligus membantu buyer menemukan solusi produksi yang tepat dan relevan,” ujarnya.

Selain menjadi ajang pertemuan regional, roadshow ini juga berfungsi sebagai jembatan menuju pameran utama GPPE dan Label & Carton Box Expo 2026 di Jakarta.

Peserta roadshow akan memperoleh informasi mengenai pameran utama, peluang berpartisipasi sebagai exhibitor, serta manfaat berkunjung sebagai trade visitor.

Global Printing & Packaging Expo (GPPE) dan Label & Carton Box Expo 2026 merupakan pameran B2B terintegrasi.

Terutama bagi industri percetakan, kemasan, label, dan corrugated yang menghadirkan teknologi, material, dan solusi terbaru dari pelaku industri nasional maupun internasional.

Rangkaian roadshow selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Kota Surabaya pada 6 April 2026 di Nine Resto Surabaya.

Pendaftaran pengunjung pameran utama juga telah dibuka.

Pada sesi pemaparan, Perhimpunan Industri Tinta Cetak Seluruh Indonesia (Pittsindo) menghadirkan Wakil Ketua Umum Syaripudin.

Adapun dari Asosiasi Teknik Grafika dan Media Indonesia (ATGMI) disampaikan oleh Herman Pratomo dan Clay Wala dengan tajuk sosialisasi expert course.

Selanjutnya, PT Samafitro melalui Pinto Hasnanto memaparkan perannya sebagai solution partner in imaging and printing pada sesi ketiga.

Selain itu, PT Jet Technologies Indonesia dengan narasumber Yutyadi mengusung tema transformasi ide menjadi realitas melalui solusi percetakan terpadu.

Roadshow kemudian ditutup dengan sesi presentasi pameran GPPE dan Label & Carton Box Expo (LCBE) 2026 yang disampaikan Senior Project Manager PT Pelita Promo Internusa, Rismin Yapto.

Kota Semarang Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXI Tahun 2026

SEMARANG (lensasemarang.com) – Kota Semarang dinilai memiliki posisi strategis sekaligus kesiapan teknis untuk menjadi pusat penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional XXXI Tahun 2026. 

Penilaian tersebut mengemuka dalam pembahasan tim Kementerian Agama Republik Indonesia saat melakukan survei kelayakan venue hari ke dua di Kota Semarang belum lama ini.

Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an Kemenag RI, Rizal Ahmad Rangkuty, menyampaikan bahwa peninjauan difokuskan pada sejumlah aspek penting, seperti kesiapan tata ruang, alur registrasi, ketersediaan ruang tunggu peserta, hingga skema penempatan majelis lomba sebagai penopang utama kelancaran MTQ berskala nasional.

“Tim membahas penataan 24 majelis lomba, dengan perkiraan 13 majelis digunakan untuk registrasi awal. Selain itu, pengaturan ruang tunggu peserta disesuaikan dengan jadwal kedatangan kafilah dari berbagai provinsi,” kata Rizal.

Ia menjelaskan bahwa kedatangan peserta berlangsung secara bertahap. Sebagai contoh, kafilah dari Aceh, Sumatera Utara, dan Riau dijadwalkan tiba pukul 10.00 WIB, disusul Sumatera Barat pada pukul 11.00 WIB, dan seterusnya. Karena itu, ruang tunggu perlu disiapkan secara memadai agar alur kedatangan tetap tertib, nyaman, dan tidak terjadi penumpukan.

Terkait lokasi, Rizal menyebutkan bahwa pemanfaatan area terbuka maupun tenda besar dimungkinkan, sepanjang aspek keamanan, kenyamanan, serta mitigasi cuaca dapat terpenuhi.

“Jika tendanya aman dan luas, lapangan juga bisa dimanfaatkan. Prinsipnya fleksibel, yang penting representatif dan peserta merasa nyaman,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Keagamaan Setda Provinsi Jawa Tengah, Agung Priyono, menilai PRPP Semarang sebagai salah satu lokasi yang memiliki keunggulan dari sisi strategis. Kedekatan lokasi dengan bandara menjadi nilai tambah karena memudahkan kafilah menuju tempat registrasi sebelum melanjutkan perjalanan ke hotel.

“Begitu tiba di bandara, kafilah dapat langsung menuju PRPP untuk registrasi. Jaraknya sangat dekat, sehingga PRPP berpotensi menjadi titik awal kedatangan seluruh kafilah,” kata Agung.

Ia menambahkan, fasilitas pendukung seperti ruang berpendingin udara, pencahayaan yang baik, area antrean, layanan konsumsi, hingga ruang istirahat sementara menjadi perhatian utama yang akan terus disempurnakan. Selain itu, unsur arsitektur gedung yang menampilkan ciri khas Jawa dinilai memberi nilai tambah secara visual.

“Ketika tirai dan gebyok dibuka, nuansa Jawanya terasa kuat dan fotogenik. Ini sangat mendukung kebutuhan dokumentasi, photo booth, maupun foto bersama,” ujar salah satu anggota tim.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng optimistis bahwa Kota Semarang siap menjadi tuan rumah MTQ Nasional Tahun 2026.

Menurutnya, kepercayaan sebagai tuan rumah kembali merupakan kehormatan sekaligus momentum penting bagi Kota Semarang untuk menunjukkan kapasitasnya dalam menyukseskan agenda keagamaan berskala nasional.

“Kota Semarang siap menyambut dan menyukseskan MTQ Nasional 2026. Sejak terakhir kali menjadi tuan rumah pada tahun 1979, pelaksanaan MTQ Nasional di Semarang kembali menjadi momentum bersejarah bagi kami untuk menghadirkan penyelenggaraan yang lebih baik, lebih tertib, dan semakin berkualitas,” ujar Wali Kota.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Semarang akan mengerahkan seluruh potensi daerah, berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan provinsi, serta melibatkan berbagai elemen masyarakat demi memastikan MTQ Nasional pada September 2026 mendatang bisa terselenggara dengan sukses dan berkesan.

Dalam pembahasan tersebut, turut disinggung pula aspek efisiensi biaya dan instalasi, mengingat sebagian fasilitas gedung telah digunakan untuk berbagai kegiatan nasional maupun korporasi. Tim menilai, ruang-ruang di dalam gedung dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan pelaksanaan MTQ.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Kota Semarang dinilai memiliki potensi kuat untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI Tahun 2026, sekaligus diharapkan mampu menyelenggarakan MTQ secara tertib, nyaman, representatif, dan berkesan bagi seluruh peserta serta masyarakat.

Pemkot Rampungkan Pembangunan Perpustakaan Baru Kota Semarang

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) membangun gedung perpustakaan baru yang berlokasi di Srondol, Kecamatan Banyumanik. Di atas lahan seluas 1.019 meter persegi, gedung perpustakaan ini memiliki empat lantai.

Kepala Dinas Arpus Kota Semarang, Bambang Suranggono, menjelaskan bangunan perpustakaan empat lantai tersebut terdiri dari basement untuk tempat parkir, lantai 1 untuk area peminjaman buku, lantai 2 merupakan ruang baca, ruang budaya, mini cafe dan co-working space. Lantai 3 merupakan ruang audio visual, dan ada rooftop yang bisa menjadi tempat diskusi.

“Ada 4 lantai, bahkan kita sediakan mini cafe jadi lebih nyaman, baca buku, berdiskusi bisa sambil pesan kopi. Ada rooftop-nya juga,” kata Bambang di Perpustakaan Kota Semarang, Senin (2/2/2026).

Bambang menyebut kunjungan perpustakaan ditargetkan dalam sehari 350-400 pemustaka, istilah untuk orang yang datang ke perpustakaan. Bahkan ruang audio visual yang disediakan bisa menampung hingga 80 orang.

“Ruang audio visual ini bisa untuk menyaksikan film pendek atau film yang bersumber dari buku,” ujarnya.

Perpustakaan ini nantinya akan dibuka untuk masyarakat mulai jam 08.00 hingga 21.00 WIB. Nantinya petugas yang ada di perpustakaan akan diberlakukan sistem kerja shift.

Bahkan rencananya, lanjut Bambang, akan disiapkan petugas yang bisa berbahasa asing sehingga bisa mendampingi pemustaka yang berasal dari manca negara.

“Termasuk mereka (petugas) sudah kami seleksi ada yang mampu mendampingi dengan berbahasa asing karena koleksinya ini juga ada koleksi dengan bahasa Arab, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, lebih banyak lagi bahasa Inggris. Harapannya masyarakat bisa lebih nyaman,” tuturnya.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan pembangunan gedung perpustakaan tahap pertama yakni struktur bangunan telah selesai pada Desember 2025 dengan anggaran dari APBD Kota Semarang senilai Rp200 juta dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari APBN sebesar Rp7,8 miliar.

Sementara untuk pembangunan tahap ke dua yang meliputi interior, mebeler dan buku-buku telah disiapkan anggaran dari APBD Kota Semarang sebesar Rp5,3 Miliar.

“Kegiatan interior ini desainnya disesuaikan dengan kondisi Kota Semarang yaitu yang njawani dan menjadi identitas Kota Semarang. Harapan kami di Februari sampai dengan Maret ini selesai lelang interiornya dan pembangunannya kurang lebih 3 bulan. Mungkin mulai akhir Maret dan Juni sudah benar-benar sempurna,” katanya.

Lintas OPD Pemkot Semarang Kolaborasi Atasi Persoalan Sampah

SEMARANG (lensasemarang.com) – Penanganan dan pengendalian sampah di Kota Semarang tak hanya menjadi tugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) saja. Kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) terus dilakukan guna mewujudkan Program Semarang Bersih.

Kecamatan Semarang Tengah salah satunya. Melalui inovasi pembentukan “Tim Oren” di masing-masing Kelurahan dan Kecamatan, dinilai mampu menangani penumpukan sampah liar yang bertebaran di tepi jalan protokol.

Camat Semarang Tengah Aniceto Magno Da Silva menyebut Tim Oren sudah ia bentuk sejak 4 tahun silam. Pembentukan Tim Oren ini bermula atas keprihatinannya karena masih banyak masyarakat yang membuang sampah di tepi jalan protokol sehingga merusak estetika kota.

“Itu sejak saya masuk (menjadi camat) Semarang Tengah lalu bentuk Tim Oren. Saya lihat banyak sampah dibuang hampir di jalan protokol, kita membantu tugas dari DLH jadi tidak hanya menunggu DLH angkutin jadi kita inisiatif,” kata camat yang biasa disapa Pak Moy,  Senin (2/2/2026).

Dalam membentuk Tim Oren, dirinya menggandeng Kelurahan dan LPMK untuk menjadi relawan atau bagian dari Tim Oren ini.

“Mereka bertugas mengambil sampah di jalan protokol, jalan kampung yang tidak terjangkau DLH. Mereka cukup ambil lalu buang ke TPS yang ada di Semarang Tengah lalu dari TPS diangkut DLH sampai ke TPA,” ujarnya.

Tim Oren Kecamatan Semarang Tengah ini beranggotakan 32 orang dari 15 kelurahan dan 1 kecamatan.

Menurutnya, Tim Oren mulai bergerak untuk mengambil sampah liar sejak pukul 04.00 pagi. Tak hanya mengambil sampah liar, Tim Oren juga membantu memotong rumput liar hingga membantu membersihkan saluran air dari sampah.

“Mereka dari jam 4 pagi sudah bergerak pungut sampah, mereka juga potong rumput liar seperti di Jalan Pemuda, Gajahmada, Simpang Lima,” kata dia.

Tak hanya berinisiatif untuk membersihkan sampah, ia mengatakan jika ada warga Semarang Tengah yang membutuhkan bantuan dalam pembuangan sampah juga bisa langsung meminta bantuan pada Tim Oren.

“Kalau warga mau minta tolong ada sampah di saluran, atau rumput liar tinggi bisa kontak kami,” pungkasnya.

Kolaborasi Pemkot Semarang dan BBWS Pemali-Juana, Kawasan Pantura Genuk Minim Banjir

SEMARANG (lensasemarang.com) – Meski berada pada periode puncak musim hujan Januari, kawasan Pantura Genuk, khususnya di sekitar Jalan Raya Kaligawe, terpantau relatif minim genangan banjir.

Kondisi ini merupakan hasil dari upaya antisipatif dan kolaboratif yang dilakukan oleh Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana dalam pengendalian banjir di wilayah tersebut.

Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto, mengatakan salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pemaksimalan pengoperasian rumah pompa di wilayah hilir.

“Dari BBWS itu dilakukan pemaksimalan pompa Tenggang dan Sringin. Di Tenggang debitnya 12.000 liter per detik dan di Sringin 10.000 liter per detik,” ujar Suwarto pada Senin (2/2/2026).

Di rumah pompa Tenggang, saat ini enam unit pompa dioperasikan secara penuh dengan total debit 12.000 liter per detik. Masing-masing pompa memiliki kapasitas 2.000 liter per detik dan dijalankan secara non-stop untuk mengendalikan potensi genangan air dari wilayah hulu.

Sementara itu, Rumah Pompa Sringin mengoperasikan lima unit pompa dengan total debit 10.000 liter per detik, dengan kapasitas yang sama per unit. Pengoperasian pompa Sringin difokuskan untuk mencegah limpasan air yang berpotensi mengganggu Jalan Raya Kaligawe sebagai jalur nasional Pantura dengan arus lalu lintas tinggi.

Selain pengoperasian pompa, DPU Kota Semarang bersama BBWS Pamali Juana juga melakukan pengerukan sedimen di sejumlah titik strategis.

“Ada upaya kolaborasi antara Pemerintah Kota Semarang dengan BBWS Pamali Juana dalam hal kita melakukan pengerukan bersama saluran di sepanjang Jalan Kaligawe, saluran di sisi selatan Jalan Kaligawe,” jelas Suwarto.

Pihaknya menyampaikan jika kegiatan pengerukan tersebut telah berjalan sekitar satu bulan dengan mengerahkan alat berat dari DPU dan BBWS, didukung armada dump truk.

Pengerukan juga dilakukan di Kelurahan Bangetayu Wetan dan Kelurahan Karangroto untuk menjaga kapasitas saluran tetap optimal dan bersih dari endapan sedimen.

DPU Kota Semarang juga akan melanjutkan pengerukan di Jalan Padi Raya yang selama ini menjadi salah satu titik pusat genangan di wilayah Genuk, serta di saluran samping rel dan tepi Jalan Muktiharjo Raya.

Pada beberapa titik di bawah jembatan, jalan dan rel kereta api, pengerukan dilakukan secara manual karena tingginya risiko terhadap utilitas sinyal kereta api.

Melalui langkah terpadu ini, Pemerintah Kota Semarang memastikan pengendalian banjir di kawasan Genuk terus diperkuat agar aktivitas masyarakat dan kelancaran mobilitas di jalur Pantura tetap terjaga selama musim hujan.

Belajar Dari Kota Semarang, Wagub DKI Jakarta Rano Karno Kunjungi Kota Lama

SEMARANG (lensasemarang.com) – Kawasan Kota Lama Semarang kembali membuktikan statusnya sebagai magnet bagi tata kelola cagar budaya nasional. 

Pada Sabtu (31/1/2026), Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menerima kunjungan strategis Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, guna meninjau langsung keberhasilan revitalisasi kawasan bersejarah yang kini menjadi destinasi unggulan Ibu Kota Jawa Tengah.

“Kunjungan ini adalah kesempatan untuk saling belajar. Kota Lama Semarang telah melalui rangkaian panjang proses revitalisasi yang tidak hanya mempertahankan struktur bangunan bersejarah, tetapi juga menjadikannya sebagai kawasan wisata urban yang hidup dan lestari,” kata Agustina.

Dirinya menekankan bahwa kunci keberhasilan membangun ruang bersejarah yang berkelanjutan terletak pada sinergi pengelolaan yang konsisten dan dukungan semua pihak.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Pak Wagub yang hadir di sini untuk belajar bersama. Revitalisasi ini membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah hingga pelaku ekonomi kreatif,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rano Karno mengatakan pemilihan Kota Semarang didasari atas kesamaan struktur antara Kota Tua Jakarta dan Kota Lama Semarang. Dirinya mengakui bahwa Kota Semarang telah berhasil menghidupkan bangunan bersejarahnya menjadi ikon wisata.

“Kami ingin menjalin kerja sama sekaligus belajar dari Semarang. Jakarta ingin membenahi Kota Tua, dan kami melihat adanya kemiripan struktur dengan kawasan ini,” kata Rano.

Langkah ini memperkuat posisi Semarang sebagai kota percontohan pengelolaan kawasan bersejarah dan pariwisata berbasis budaya di tingkat nasional.

Agustina menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem revitalisasi heritage dengan membangun jejaring kerja sama antar wilayah, memperkuat partisipasi masyarakat, sekaligus memposisikan Semarang sebagai pusat konservasi budaya yang adaptif terhadap ekonomi modern.

“Harapan saya, kolaborasi antara Semarang dan Jakarta ini menjadi pemantik bagi wilayah lain di Indonesia untuk lebih peduli pada akar sejarahnya. Kota Semarang siap menjadi mitra strategis bagi siapa pun yang ingin mewujudkan kawasan bersejarah yang hidup, lestari, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tutup Agustina.

Dampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Apresiasi KKMP Sampangan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyebut Jawa Tengah sebagai provinsi terbaik dalam pelaksanaan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KKMP).

Hal itu ia sampaikan saat meninjau KKMP Sampangan, di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Ia menyebut ditugaskan untuk berkeliling di seluruh penjuru Indonesia dan melaporkannya kepada Presiden.

“Saya datang ke Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, saya lapor di Hambalang. Beliau senang sekali. Saya bilang, ‘Pak, Jateng yang terbaik’,” kata Zulhas di KKMP Sampangan, Jumat (30/1/2026).

Dalam kesempatan itu Zulhas menegaskan, KKMP merupakan program strategis Presiden Prabowo Subianto yang saling terhubung dengan agenda swasembada pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penguatan koperasi desa dan kelurahan.

Zulhas juga menjelaskan, nantinya KKMP ditargetkan akan menyuplai bahan pokok yang dibutuhkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi KKMP Sampangan yang dinilai memiliki konsep matang. Menurutnya, koperasi tersebut berpotensi menjadi contoh nasional.

“Senang banget dan sesuai dari yang disampaikan Pangdam tadi dari Jawa Tengah yang sudah ada packaging-nya bagus di Semarang,” ujarnya.

“Koperasi Merah Putih di Kota Semarang ini sangat terkenal, banyak didatangi beberapa kabupaten/kota untuk studi banding. Dan ini kita mau menuju supaya proses penyelenggaraan di sini bisa menjadi teladan bagi koperasi lain,” ujarnya.

Agustina mengakui tantangan pengelolaan koperasi skala besar di wilayah perkotaan tidak ringan. Namun, dengan dukungan pemerintah pusat dan gotong royong, ia optimistis KKMP Sampangan bisa berjalan berkelanjutan.

“Cukup berat karena dengan etalase segede ini, dengan bangunan segede ini, tantangan bisnis ke depan harus dihadapi oleh teman-teman koperasi, ini harus disambut dengan berbagai macam persiapan yang matang,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah pusat akan mendukumg dengan memasok barang siap jual dari Bulog hingga kebijakan yang mengarahkan agar SPPG membeli bahan dari koperasi. Selain itu, Pemkot Semarang akan mendorong penguatan keanggotaan koperasi secara masif.

“Kami juga sudah membuat edaran, seluruh ASN ber-KTP Kota Semarang wajib mendaftar sebagai anggota koperasi,” ujarnya.

Saat ini, Agustina menyebut terdapat 177 koperasi kelurahan di Kota Semarang. Sebanyak sembilan koperasi sudah aktif dengan omzet di atas Rp 10 juta per hari, bahkan satu koperasi mencatatkan perputaran hingga Rp 70 juta.

Terpisah, Ketua KKMP Sampangan Kuncar Asrianto menyatakan koperasinya itu sebenarnya sudah berjalan sebelum gedung yang baru dibangun. Ia menegaskan, pihaknya siap beroperasi secepatnya.

“Sebelum gedung ini dibangun tiga bulan lalu, koperasi kami sudah bergerak. Kami sudah kerja sama dengan Bulog, Dinas Ketahanan Pangan, BRI, Pos Indonesia, sampai Pertamina,” kata Kuncar.

Ia menyebut, dengan selesainya pembangunan KKMP, koperasi tinggal menambah volume usaha. Bahkan, operasional dimungkinkan dimulai lebih cepat dari target.

“Kalau Maret kami sudah siap. Bahkan awal Februari ini pun sebenarnya sudah bisa, tinggal memindahkan barang ke sini,” katanya.

Kuncar menjelaskan, produk yang disiapkan antara lain beras SPHP, beras premium, Minyakita, serta berbagai komoditas dari UMKM lokal seperti bawang merah, bawang putih, dan telur. Produk-produk tersebut juga akan disalurkan ke kios-kios kecil dan anggota koperasi.

Mohammad Saleh Minta Upaya Pengentasan Kemiskinan Harus Efektif

SEMARANG (lensasemarang.com) – Salah satu persoalan yang harus diselesaikan Jawa Tengah adalah masalah kemiskinan, meski sudah ada penurunan, tetapi kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh mendukung program-program pembangunan terkait prioritas penanganan kemiskinan.

Karena itu, ia berharap, seluruh pemerintah daerah di Jawa Tengah dalam mencarikan solusi melalui berbagai program agar efektif.

“Paling penting setiap tahun dijalankan optimal agar keberhasilan kemiskinan turun lebih besar. Sehingga, masalah tidak berkepanjangan dan dapat kita atasi,” kata Saleh.

Menurut Saleh, tugas setiap stakeholder di daerah ialah menciptakan langkah tepat tetapi juga diikuti sejumlah kebijakan yang saling terhubung.

Ia menilai, pencapaian daerah terus menekan dan mengerjakan penurunan akan jauh mudah jika tercipta kombinasi, maka lebih efektif.

“Kinerja pembangunan daerah akan sinkron bila ada banyak program berjalan satu kesatuan. Saya harap, hasilnya juga lebih maksimal dan pencapaian prosesnya bisa lebih efektif,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggandeng berbagai stakeholder, untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.

Sebagai contoh, saat melakukan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Pati, Pemprov Jateng menggandeng Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan perangkat daerah secara terpadu.

Pemprov Jateng tidak dapat bekerja sendiri dalam mempercepat pengentasan kemiskinan maupun ketahanan pangan. Karenanya, butuh sinergi lintas sektor, termasuk dengan TNI.

Kurangi Risiko Banjir, Pemkot Semarang Gelar Kerja Bakti Bersih Sungai

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat upaya pencegahan banjir melalui pembersihan sungai secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Salah satunya dilakukan melalui kegiatan Karya Bakti Pembersihan Sungai yang digelar di Kembangsari (depan Hotel MG Setos) Kecamatan Semarang Tengah, Jumat (30/1/2026).

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan, sungai menjadi simpul penting dalam menjaga keselamatan kota, terutama di wilayah padat aktivitas sehingga pembersihan dilakukan tidak parsial, melainkan menyeluruh dengan melibatkan warga dan berbagai elemen masyarakat.

“Sungainya akan dibersihkan dari ujung ke ujung yang ada di Semarang Tengah. Ini kerja bersama dengan seluruh warga. Kalau seperti ini terus, sungai bersih dan tentu akan mengurangi kemungkinan banjir,” ujarnya.

Menurut dia, keterlibatan aktif warga masyarakat menjadi kunci keberhasilan menjaga keselamatan lingkungan. Dirinya ingin pola sinergi di Semarang Tengah ini menjadi standar baru bagi wilayah lain.

“Kalau warga di kecamatan lain juga bisa bekerja sama seperti ini, Kota Semarang akan jauh lebih bersih. Dengan turun langsung, persoalan lapangan seperti tanggul rusak, pinggiran sungai yang sudah brogos (keropos), pohon-pohon yang sudah rimbun, atau hambatan teknis lainnya bisa segera kelihatan dan kita bereskan tanpa menunggu lama,” katanya.

Tidak hanya fokus pada mitigasi bencana, Agustina memproyeksikan jalan inspeksi sungai tersebut sebagai ruang publik produktif. Dia berencana menyulap jalur tersebut menjadi trek sepeda yang estetik guna mendukung sektor pariwisata kota.

“Jika jalan inspeksinya rapi dan rata, ini bisa jadi trayek sepeda. Orang sekarang senang bersepeda dan berjalan-jalan. Ini bisa kita upayakan,” ujarnya.

Menariknya, kegiatan Karya Bakti ini turut melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai bagian dari semangat Semarang Damai, menegaskan bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab bersama lintas komunitas.

“Kami akan terus memastikan kegiatan pembersihan sungai terus bergulir di Kota Semarang sebagai langkah nyata menjaga lingkungan, mengurangi risiko banjir, sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga kota,” pungkas Agustina.

Ekonomi Jateng Meningkat, Mohammad Saleh Minta Pemprov Pertahankan Kerja Kolaboratif

SEMARANG (lensasemarang.com) – Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan, mencapai 5,28 persen secara year on year (y-on-y). Angka ini meningkat dibandingkan capaian pada triwulan II tahun 2024 yang sebesar 4,93 persen.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh di Semarang, Jumat (30/1/2026), mengapresiasi capaian tersebut dan menilai bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja kolaboratif yang solid antara pemerintah provinsi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Pertumbuhan ekonomi yang terus membaik ini tentu harus kita syukuri, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan kerja sama lintas sektor yang selama ini sudah terjalin dengan baik,” katanya.

Menurut Saleh, kerja kolaboratif yang melibatkan Pemprov Jateng bersama berbagai pihak, seperti pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, serta masyarakat, merupakan kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pihaknya berharap sinergi ini terus dipertahankan dan diperkuat agar Jawa Tengah semakin berkembang dan mampu menghadapi tantangan ekonomi global.

“Pemerintah provinsi harus terus menginisiasi program-program yang melibatkan berbagai elemen, termasuk UMKM, pelaku industri kreatif, dan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Dengan ini, pertumbuhan ekonomi yang inklusif bisa kita capai bersama,” ujarnya.

Mohammad Saleh juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam menjaga iklim investasi dan memperkuat kerja sama antar lembaga agar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dapat terus berlanjut dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kami optimis bahwa ekonomi Jawa Tengah akan semakin tumbuh dan bergeliat. Dengan catatan ini didukung oleh berbagai kebijakan pro-investasi dan peningkatan kualitas infrastruktur yang dilakukan oleh Pemprov Jateng,” katanya.