SEMARANG (lensasemarang.com) – Mahasiswa Program Studi Informasi dan Humas, Universitas Diponegoro berhasil menyelenggarakan kegiatan pembuatan ecobricks yang bekerja sama dengan PT Marimas Putera Kencana sebagai bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.
Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 25 Maret 2026 di PT Marimas Putera Kencana, Kawasan Industri Candi, Jl. Gatot Subroto Jl. Candi I No.Blok D21, Purwoyoso, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang dan diikuti oleh 40 peserta dari sasaran utama program, yaitu salah satu komunitas anak muda bernama Indonesian Youth Advisory Semarang serta diikuti oleh kalangan siswa, mahasiswa, ibu PKK, dan komunitas lainnya.
Setiap hari, jutaan lembar plastik meninggalkan rumah tangga Indonesia, kemudian masuk ke tempat sampah, lalu berakhir di TPA, sungai, atau dibakar di sudut-sudut permukiman.
Plastik yang tidak dikelola dengan benar melepaskan molekul beracun ke udara, tanah, dan air, mencemari biosfer yang menjadi tumpuan kehidupan kita bersama.
Di sinilah ecobrick hadir sebagai jawaban. Ecobrick merupakan botol plastik bekas yang dipadatkan dengan berbagai jenis sampah plastik bersih dan kering hingga mencapai kepadatan tertentu, sehingga dapat berfungsi sebagai material bangunan yang dapat dipakai berulang kali.
Metode ini dinilai sebagai solusi nyata dalam mengurangi pencemaran plastik terhadap lingkungan karena plastik yang tidak dibuang, dibakar, maupun ditimbun tidak akan menghasilkan racun bagi tanah, air, dan udara.
Acara dimulai dengan pre-test sebagai tolok ukur awal pemahaman peserta sebelum materi disampaikan. Tim Marimas kemudian menghadirkan sesi pemaparan yang membahas dampak nyata plastik terhadap biosfer, bagaimana plastik yang dibakar menghasilkan dioksin, bagaimana sinar UV mengurai plastik menjadi mikroplastik berbahaya, dan mengapa daur ulang industri bukan solusi jangka panjang yang sempurna.
Memasuki sesi praktik, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Kegiatan dimulai dengan pengumpulan dan pemilahan sampah plastik, dilanjutkan dengan pembersihan dan pengeringan plastik sebelum dipadatkan ke dalam botol menggunakan batang bambu.
Setiap ecobrick kemudian ditimbang untuk memastikan kepadatan memenuhi standar minimum GEA sebesar 0,33 g/ml, lalu diberi label berisi berat dan nomor seri sebuah proses yang sederhana, namun mengajarkan ketelitian dan komitmen.
Tak berhenti di situ, peserta juga diajak merancang susunan ecobrick dengan mempelajari bagaimana botol-botol yang sudah menjadi ecobricks bisa dirakit menjadi kursi yang fungsional.
Momen inilah yang membuat banyak peserta menyadari karena ini bukan sekadar mengolah sampah, ini adalah membangun ulang sesuatu yang bermakna.Rangkaian kegiatan ditutup dengan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta, dilanjutkan pembagian sertifikat, sesi dokumentasi bersama, makan siang, dan waktu bebas sebelum peserta kembali ke ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitas.
Kolaborasi dengan Marimas dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata penerapan konsep Corporate Social Responsibility (CSR) di lingkungan akademik.
Dalam kegiatan ini, Marimas berperan penuh sebagai penyelenggara program, menyediakan tempat, menghadirkan materi, serta memandu langsung proses pembuatan dan perancangan ecobrick dari awal hingga akhir.
Melalui sinergi antara dunia usaha dan civitas akademika, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya plastik dan pentingnya pengelolaan sampah terus meningkat.
Dari kegiatan ini, kelompok berhasil menghasilkan sebanyak 13 ecobrick dengan total plastik yang diamankan dari lingkungan sebesar 2.600 gram atau 2,6 kg gram. Tiga belas ecobrick yang terbuat mungkin terlihat kecil, tetapi di balik setiap botol yang padat dan terukur, ada kesadaran baru yang tumbuh bahwa plastik yang selama ini dianggap masalah, bisa diubah menjadi solusi.
Bahwa tanggung jawab sosial bukan milik perusahaan semata, melainkan dimulai dari tangan siapa pun yang mau bergerak.
“Pesan kesan saya sebagai anggota IYA Semarang terkait acara MARIMAS kemarin sangat insightfull karena ekspektasi saya cuma membuat ecobricks ternyata tidak. Materi yang disampaikan sangat amat bagus sekali mulai dari peraturan yg mengatur penggunaan plastik, jenis jenis plastik, cara mendaur ulang sampah plastik,dan yang paling berkesan adalah materi awal mula plastik dibentuk hingga industri yang menggunakan plastik sekarang dan menurut saya materi ini harus di sebar luaskan harus dipahami oleh seluruh masyarakat terutama orang muda agar kita semua bisa menyikapi isu sampah plastik ini secara objektif dan juga ecobricks menjadi salah satu opsi yang cukup mudah untuk dilakukan terkait menanggulangi permasalahan sampah plastik di sekitar,” kata Hanif Wahyu Saputra, Anggota Komunitas Muda Semarang IYA (Indonesian Youth Advisory), Peserta Program Marimas Ecobricks.

