DEMAK (lensasemarang.com) – Dalam upaya mengoptimalkan potensi lokal sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 78 Universitas Diponegoro melalui Program Eduherbale yang mengembangkan kawasan Agrowisata Linggan Education (ALE) di Desa Mranggen, Kabupaten Demak.
Salah satu rangkaian utama program tersebut diwujudkan melalui penanaman Tanaman Obat Keluarga (Toga) yang disertai dengan edukasi mengenai pemanfaatan dan budidaya tanaman obat kepada masyarakat, khususnya anggota PKK Desa Mranggen.
Program Eduherbale dirancang sebagai upaya mengembangkan ALE menjadi destinasi eduwisata yang tidak hanya memiliki nilai rekreatif, tetapi juga mampu menjadi sarana pembelajaran berbasis potensi lokal.
Pemanfaatan tanaman obat sebagai bagian dari kawasan edukasi diharapkan dapat memperkenalkan keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan penanaman Toga tersebut menjadi bagian dari rangkaian program multidisiplin yang telah dilaksanakan mahasiswa KKN-T 78 Undip pada minggu-minggu sebelumnya.
Pengembangan ALE dilakukan secara bertahap dengan mengintegrasikan berbagai aspek, mulai dari penguatan legalitas, pengembangan dan produksi, promosi, hingga pengelolaan keuangan.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi fondasi dalam membangun kawasan ALE agar dapat dikelola secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Sebagai puncak rangkaian program, kegiatan peresmian eduwisata TOGA dihadiri oleh Kepala Desa Mranggen beserta jajaran, Ketua PKK Desa Mranggen beserta jajaran, BUMDes, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T 78 UNDIP.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para peserta juga disambut dengan berbagai minuman tradisional, seperti jamu kunyit asam dan jamu beras kencur, yang turut memperkuat nuansa pemanfaatan potensi tanaman lokal dalam kegiatan tersebut.
Peresmian kawasan eduwisata TOGA ditandai dengan prosesi pemotongan pita yang dilakukan oleh Kepala Desa, Ketua BUMDes, Dosen Pembimbing Lapangan, dan Koordinator Desa.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit TOGA secara simbolis oleh Kepala Desa, Ketua BUMDes, Dosen Pembimbing Lapangan, serta Ketua dan Sekretaris PKK Desa Mranggen.
Beragam tanaman kemudian mulai dibudidayakan di kawasan ALE, di antaranya kencur, jahe, kunyit, mint, bunga telang, daun salam, serai, sirih, dan pandan.
Tidak hanya menghadirkan tanaman secara fisik, Program Eduherbale juga menekankan aspek edukasi agar keberadaan toga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
Pada agenda utama, peserta memperoleh penyuluhan mengenai tanaman obat keluarga yang disampaikan oleh akademisi Universitas Diponegoro dari Program Studi Biologi, Arifa Rizqi Nafisa, S.Si., M.Sc. Materi yang diberikan meliputi pengenalan jenis-jenis Toga, manfaat dan khasiatnya, serta teknik dasar budidaya tanaman obat yang dapat diterapkan oleh masyarakat secara mandiri.
Koordinator Desa Tim KKN-T 78 Undip, Rayndra Cakrayaksa Putra, menyampaikan bahwa kehadiran Toga di kawasan ALE diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Mranggen, terutama anggota PKK.
“Peresmian Tanaman Obat Keluarga ini saya harap dapat memberikan manfaat nyata bagi warga Desa Mranggen, terutama ibu-ibu PKK. Bukan hanya manfaat dalam aspek kesehatan, tetapi juga manfaat edukasi bagi masyarakat Desa Mranggen terkait penggunaan Toga ini,” ujarnya.
Manfaat program tersebut juga dirasakan oleh masyarakat Desa Mranggen. Ketua PKK Desa Mranggen, Siti, menilai Eduherbale menjadi wadah edukasi yang memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat, khususnya dalam mengenali dan memanfaatkan tanaman obat.
“Program ini benar-benar inspiratif dan bermanfaat. Ibu-ibu PKK jadi makin tahu cara mengolah dan merawat tanaman obat keluarga secara mandiri. Dari program ini juga kami menjadi semakin paham mengenai khasiat dan manfaat tanaman obat seperti kunyit dan jahe yang bisa dimanfaatkan sebagai obat alami dan baik untuk kesehatan,” tuturnya.
Keberadaan kawasan Toga di ALE diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman dan peresmian, tetapi dapat terus dirawat dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Mranggen.
Dengan adanya keterlibatan PKK, pemerintah desa, BUMDes, serta pengelola ALE, kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang edukasi yang berkelanjutan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengunjung.
Melalui Eduherbale, Agrowisata Linggan Education diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu destinasi eduwisata unggulan Desa Mranggen yang mengintegrasikan aspek lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.
Pengembangan kawasan ini tidak hanya memperkuat nilai estetika dan daya tarik desa, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal, merawat, serta memanfaatkan keanekaragaman hayati lokal secara bijak.
Pada akhirnya, keberadaan ALE diharapkan dapat menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal yang memberikan manfaat edukatif sekaligus mendukung kemandirian masyarakat Desa Mranggen.