Home Blog Page 5

Sentuhan Wali kota Agustina Bersama DPR RI Sulap Jalan Pramuka Jadi Nadi Baru Mobilitas Kota

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mempercepat penanganan infrastruktur di berbagai wilayah, mulai dari peningkatan jalan strategis, perbaikan ruas lingkungan hingga pengerukan saluran air.

Langkah ini dilakukan guna memastikan mobilitas warga tetap lancar, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, sekaligus mengurangi risiko genangan dan banjir.

Salah satu capaian utama terlihat pada Jalan Pramuka, Kelurahan Pudakpayung yang telah selesai diperbaiki dan diresmikan bersama dengan Anggota Komisi V DPR RI, Mochamad Herviano Widyatama pada Selasa (28/4/2026).

Jalan tersebut kini dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu akses penting di kawasan atas Kota Semarang.

Proyek perbaikan Jalan Pramuka merupakan bagian dari program Inpres Jalan Daerah (IJD) dengan nilai kontrak mencapai Rp18,9 miliar, mencakup pelebaran jalan dari 4,5 meter menjadi 5,5 meter serta pembangunan drainase sepanjang 2,3 kilometer.

Agustina menyampaikan bahwa Jalan Pramuka memiliki peran strategis sebagai penghubung kawasan pendidikan dan permukiman di wilayah atas Kota Semarang.

“Jalan Pramuka ini adalah ikon Kota Semarang bagian atas yang menghubungkan dua pusat pendidikan besar, UNDIP dan UNNES. Jalan ini menjadi jalur utama yang banyak dilalui mahasiswa dan masyarakat setiap hari,” ujar Agustina.

Menurutnya, perbaikan ini membawa dampak langsung bagi masyarakat, mulai dari perjalanan yang lebih cepat, berkurangnya risiko kecelakaan akibat jalan rusak, hingga meningkatnya kenyamanan aktivitas harian warga.

“Peresmian ini bukan sekadar perbaikan jalan, tetapi jalur penghubung harapan yang membuka akses, memperkuat konektivitas, dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat,” lanjutnya.

Pembangunan Jalan Pramuka tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DIY, serta dukungan DPR RI Komisi V.

Anggota DPR RI Komisi V, Mochamad Herviano Widyatama, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebutuhan infrastruktur di Kota Semarang agar dapat terealisasi secara optimal.

“Program pembangunan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah yang terus kami dorong. Harapannya, infrastruktur yang dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung konektivitas wilayah,” ujar Herviano.

Menegaskan kembali pentingnya sinergi tersebut, Agustina menyampaikan bahwa percepatan pembangunan di Kota Semarang sangat bergantung pada kolaborasi lintas pihak.

“Wali Kota Semarang tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian PU, peran DPR RI, serta sinergi berbagai pihak menjadi kunci agar pembangunan bisa berjalan lebih cepat dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Agustina.

Kota Semarang Jadi Pusat Kolaborasi ASEAN, Percepat Implementasi Program Makan Bergizi Gratis

SEMARANG (lensasemarang.com) – Kota Semarang menjadi tuan rumah pertemuan besar yang mempertemukan negara-negara ASEAN, organisasi dunia, hingga pemerintah pusat untuk membahas percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pertemuan ini langsung diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan program di daerah, termasuk dampaknya bagi anak-anak dan masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pada 28–30 April 2026 ini diawali dengan forum internasional ASEAN ID-Nourish, sebelum dilanjutkan dengan Dialog Nasional Praktik Baik MBG yang menjadi ruang utama di dalam merumuskan langkah implementasinya di Indonesia.

Pada ASEAN ID-Nourish yang digelar di Hotel Gumaya, Selasa (28/4), sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Deputi Bidang Pengadaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional Brigjen (Purn) Suardi Samiran, Staf Ahli Kementerian Kesehatan Bonanza Perwira Taihitu, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Yuliana Bahar, serta perwakilan negara sahabat seperti Duta Besar Thailand untuk ASEAN Prinat Apirat. 

Forum ini juga diikuti perwakilan FAO, World Food Programme, hingga Milan Urban Food Policy Pact (MUFPP).

Bagi Kota Semarang, forum ini bukan sekadar pertemuan, tetapi momentum untuk mempercepat kesiapan daerah dalam menjalankan program MBG secara lebih terarah.

Dalam sambutannya di hadapan delegasi internasional, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memperkuat sistem pangan.

“We are here as one big family with a shared goal: creating a more resilient food system,” ujarnya.

Agustina juga menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi.

“MBG bukan sekadar program makan, ini investasi untuk masa depan. Dari sini kualitas sumber daya manusia kita dibentuk,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah pusat melalui BGN, menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan daerah dan masyarakat.

Deputi Bidang Pengadaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional, Brigjen (Purn) Suardi Samiran, menyampaikan bahwa rantai pasok program MBG justru menjadi peluang bagi masyarakat lokal.

“Bahan pangan seperti sayur, telur, dan lainnya berasal dari masyarakat. Artinya, program ini juga menggerakkan ekonomi lokal karena melibatkan banyak pihak di daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut Agustina juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini memberikan dampak positif bagi Kota Semarang, termasuk dari sisi ekonomi. “Ini sangat positif untuk perkembangan ekonomi di Kota Semarang,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti peserta dari dalam dan luar negeri yang turut mendorong aktivitas di berbagai sektor selama pelaksanaan berlangsung.

Saat ini, di Kota Semarang telah beroperasi 174 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjangkau lebih dari 281 ribu penerima manfaat, sebagai bentuk kesiapan daerah dalam mendukung program nasional MBG.

Forum ini juga mempertemukan pemerintah pusat, daerah, akademisi, hingga organisasi internasional untuk menyelaraskan kebijakan dan mempercepat implementasi program di berbagai wilayah.

Sebagai tindak lanjut, peserta dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah titik di Kota Semarang untuk melihat langsung kesiapan sistem distribusi dan produksi pangan di daerah.

Melalui forum ini, Kota Semarang tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempercepat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

RUPST bank bjb Sepakat Tebar Dividen Rp900 Miliar

BANDUNG (lensasemarang.com) – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang berlangsung secara hybrid, dengan kehadiran fisik terbatas di Bale Pakuan (Gedung Negara Pakuan), Bandung serta partisipasi daring melalui platform eASY.KSEI pada Selasa (28/4/2026).

Sebagai institusi keuangan yang mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, bank bjb mengundang seluruh pemegang saham untuk turut serta dalam forum strategis ini.

RUPST menjadi wadah penting dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada arah dan pertumbuhan perusahaan ke depan.

Tujuh agenda utama telah disusun untuk dibahas dan diputuskan dalam RUPST kali ini. Agenda-agenda tersebut disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan, usulan pemegang saham utama, serta kepentingan strategis korporasi dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Agenda pertama mencakup persetujuan atas Laporan Tahunan termasuk pengesahan Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Pengawasan Dewan Komisaris Tahun Buku 2025. 

Dengan persetujuan ini, pemegang saham memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada Direksi dan Komisaris atas kinerja yang dijalankan selama tahun 2025.

Agenda kedua adalah penetapan penggunaan laba bersih Perseroan tahun buku 2025 termasuk pembagian dividen untuk Tahun Buku 2025, yakni sebesar 900 miliar rupiah atau setara Rp85,54 per lembar saham. Kebijakan dividen tersebut menjadi bukti komitmen bank bjb memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

Agenda ketiga mengenai persetujuan atas penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik untuk tahun buku 2025. Dewan Komisaris akan diberi kewenangan menunjuk auditor independen yang memenuhi kualifikasi, memiliki izin resmi, dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Agenda keempat menyangkut pengkinian Rencana Aksi Pemulihan (Recovery Plan) bank bjb. Rencana ini merupakan bagian dari sistem mitigasi risiko untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi makro dan menjaga kesinambungan operasional perusahaan dalam jangka panjang.

Selanjutnya, agenda kelima berisi perubahan anggaran dasar perseroan sehubungan dengan telah ditunjuknya bank bjb sebagai perusahaan induk konglomerasi keuangan atau PIKK.

Agenda keenam yaitu perubahan struktur direksi Perseroan, yang dilakukan sehubungan dengan meningkatnya peran strategis teknologi informasi dalam mendukung transformasi, termasuk penguatan aspek digital, penguatan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, serta peningkatan kualitas layanan guna mendukung keberlanjutan usaha.

Agenda terakhir menyangkut pengangkatan pengurus Perseroan. Perubahan ini mencakup pengangkatan anggota Direksi dan Dewan Komisaris. Beberapa jabatan baru akan berlaku efektif setelah mendapat persetujuan dari OJK atas hasil Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test), maka susunan anggota Dewan Komisaris dan Direksi bank bjb adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris Komisaris Utama Independen: Susi Pudjiastuti* Komisaris Independen: Novian Herodwijanto Komisaris Independen: Eydu Oktain Panjaitan* Komisaris: Rudie Kusmayadi Komisaris: Herman Suryatman Komisaris: Tomsi Tohir

Direksi Direktur Utama: Ayi Subarna Direktur Kepatuhan: Asep Dani Fadillah Direktur Keuangan: Hana Dartiwan Direktur Korporasi dan UMKM: Mulyana Direktur Konsumer dan Ritel: Nunung Suhartini Direktur Teknologi Informasi: Muhammad As’adi Budiman Direktur Operasional: Herfinia

*Berlaku efektif sejak persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan atas Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (PKK) dan memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Gubernur Jawa Barat KDM, sapaan Dedi Mulyadi selaku pemegang saham pengendali mengatakan, dirinya telah merekomendasikan orang-orang berintegritas untuk masuk jajaran direksi dan komisaris, termasuk nama Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

“Saya merekomendasikan orang-orang dalam bank bjb yang menurut saya memiliki integritas,” katanya.

Menurut KDM, Susi Pudjiastuti memiliki kapasitas dalam memberikan nasihat kepada Gubernur dalam pengambilan keputusan.

bank bjb juga mencatatkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025. Total aset meningkat menjadi Rp 221,3 triliun, menjadikan bank bjb sebagai BPD dengan aset terbesar di Indonesia. 

Capaian ini tidak terlepas dari penguasaan pasar yang kuat, dukungan teknologi yang terus ditingkatkan, serta kolaborasi erat dengan pemegang saham utama.

RUPST ini juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bank bjb dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya di Jawa Barat dan Banten. bank bjb, yang selama ini dikenal sebagai salah satu bank pembangunan daerah terkemuka, terus berupaya memperluas jangkauan layanannya dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Dengan semangat transformasi dan profesionalisme tinggi, bank bjb memantapkan langkah menuju masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

RUPST Tahun Buku 2025 menjadi refleksi dari komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Sengketa Lahan Di Bulusan, Ratusan Warga Terancam Kehilangan SHM

SEMARANG (lensasemarang.com) – Ratusan warga yang sebagian besar petani dan lansia kini menghadapi ketidakpastian setelah sertifikat hak milik (SHM) yang mereka pegang selama puluhan tahun terancam dibatalkan melalui putusan pengadilan dalam perkara No. 63/G/2025/PTUN.SMG.

Sebanyak 188 bidang tanah menjadi objek sengketa, dari jumlah tersebut, 35 bidang merupakan SHM milik warga, sementara sisanya merupakan Hak Guna Bangunan (HGB) milik korporasi, yakni PT Guna Adhi Saka.

Sengketa ini bermula dari gugatan yang diajukan oleh pengembang besar, PT Bukit Semarang Jaya Metro, terhadap Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan para pemilik sertifikat.

Bagi warga Bulusan, tanah bukan sekadar aset, tapi merupakan sumber kehidupan, warisan leluhur, sekaligus satu-satunya jaminan masa depan karena banyak dari mereka telah menguasai dan merawat tanah sejak tahun 1990-an, bahkan ada yang mewarisinya turun-temurun dari orang tua dan kakek nenek.

Selama puluhan tahun, warga mengaku telah memenuhi seluruh kewajiban hukum, mulai dari pembayaran pajak hingga penguasaan fisik, berdasarkan sertifikat resmi yang diterbitkan negara melalui BPN.

Salah satu poin yang dipersoalkan warga adalah klaim penggugat yang menyatakan baru mengetahui adanya tumpang tindih lahan pada Juni 2025. 

Fakta yang terungkap menunjukkan bahwa konflik lahan sudah muncul sejak lama. Pada tahun 2010, telah terjadi korespondensi resmi antara pihak pengembang dan salah satu pemilik SHM, Istika Sari Santoso.

Screenshot

Bahkan, pada tahun 2012 telah dilakukan mediasi resmi di BPN Semarang. Tidak hanya itu, validasi sertifikat pada tahun 2023 juga telah mencatat adanya indikasi tumpang tindih.

Benturan Kepentingan Korporasi, Rakyat Jadi Korban

Warga menilai sengketa ini tidak hanya melibatkan mereka, tetapi juga menjadi arena pertarungan antar pengembang besar. Di tengah konflik tersebut, masyarakat kecil justru menjadi pihak yang paling terdampak.

Putusan pengadilan tingkat pertama disebut hanya mengakui 4 bidang tanah, sementara sekitar 180 bidang lainnya dinyatakan batal. Ironisnya, banyak warga mengaku tidak memahami proses hukum yang berjalan.

Kondisi ini diperparah dengan tekanan psikologis yang dirasakan warga. Isu pengukuran lahan, desas-desus sengketa, hingga ketakutan kalah di pengadilan membuat sebagian warga memilih menjual tanah mereka dengan harga murah.

Beberapa kasus individu memperlihatkan kompleksitas persoalan:

  • SHM atas nama Rasyid dinyatakan tidak tumpang tindih dalam SKPT tahun 2026 dan dimenangkan di tingkat pertama, namun tetap digugat banding oleh pengembang.
  • SHM atas nama Sakimin, yang merupakan tanah turun-temurun dan tidak pernah diperjualbelikan, justru diklaim masuk dalam HGB milik pengembang.

Warga juga menyoroti adanya ketidaksesuaian data pada sertifikat HGB milik pengembang. Dalam dokumen pelepasan hak (SPH), luas lahan tercatat 228.008 meter persegi, namun saat diterbitkan menjadi HGB No. 2, luasnya berubah menjadi 233.904 meter persegi.

Selisih sekitar 5.824 meter persegi ini dinilai sebagai indikasi cacat administrasi yang seharusnya dapat menjadi dasar pembatalan.

Warga berpegang pada ketentuan hukum yang berlaku, termasuk Pasal 55 UU PTUN terkait batas waktu pengajuan gugatan serta Pasal 32 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997, yang menyatakan bahwa sertifikat yang telah terbit lebih dari lima tahun dan dimiliki dengan itikad baik tidak dapat diganggu gugat, namun realitas di lapangan justru berbanding terbalik.

Di atas tanah yang disengketakan, berdiri rumah, ladang, dan fasilitas sosial. Di sanalah kehidupan berlangsung, anak-anak tumbuh, orang tua menua, dan harapan masa depan dipertaruhkan.

Bagi warga Bulusan, ini bukan sekadar sengketa hukum. Ini adalah pertaruhan hidup.

“Kami tidak meminta tanah orang lain. Kami hanya mempertahankan hak kami sendiri yang sudah disahkan negara,” tegas perwakilan warga.

Akses Sanitasi Belum Merata, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Percepatan Pembangunan Jamban

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh meminta pemerintah daerah mempercepat pembangunan fasilitas sanitasi, khususnya jamban sehat, guna mengatasi ketimpangan akses sanitasi di masyarakat.

Menurut Saleh, penyediaan sanitasi dan akses air bersih harus menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Ia menilai, masih adanya warga yang belum memiliki akses sanitasi layak menunjukkan perlunya langkah yang lebih cepat dan terarah.

“Akses sanitasi yang layak adalah kebutuhan dasar. Pemerintah daerah harus mempercepat pembangunan jamban agar seluruh masyarakat bisa hidup lebih sehat,” ujarnya di Semarang.

Berdasarkan data, sebanyak 21.542 rumah tangga di wilayah Jateng hingga kini belum memiliki jamban atau akses sanitasi dasar yang layak. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan berbagai penyakit berbasis lingkungan.

Saleh menegaskan, percepatan pembangunan sanitasi tidak hanya sebatas penyediaan infrastruktur, tetapi juga harus disertai edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.

“Selain membangun fasilitas, perlu juga edukasi agar masyarakat terbiasa menjaga kebersihan dan memanfaatkan fasilitas yang ada dengan baik,” tegas Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.

Ia juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga desa dalam memperluas jangkauan layanan sanitasi, terutama di wilayah yang masih tertinggal.

Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat, juga perlu diperkuat agar program sanitasi dapat berjalan lebih efektif. Dengan melibatkan berbagai pihak, hasilnya diharapkan lebih maksimal dan merata.

Saleh berharap, dengan percepatan pembangunan dan pendekatan yang komprehensif, persoalan akses sanitasi di Jawa Tengah dapat segera teratasi dan berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat.

“Sanitasi yang baik adalah fondasi penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkas Saleh.

Sebelumnya Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengungkapkan, sebanyak 21.542 rumah tangga hingga kini belum memiliki jamban atau akses sanitasi dasar yang layak. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada kualitas sanitasi dan kesehatan masyarakat.

Sepanjang tahun 2025, Pemprov Jateng telah membangun 5.328 unit jamban melalui program jambanisasi. Namun, angka kebutuhan yang masih tersisa menunjukkan bahwa intervensi harus terus diperkuat agar seluruh masyarakat dapat menikmati sanitasi yang layak.

Menurut Taj Yasin, persoalan sanitasi tidak bisa dipandang sebelah mata karena berkaitan langsung dengan berbagai indikator kesehatan, termasuk stunting. Saat ini, prevalensi stunting di Jawa Tengah tercatat sebesar 9,77 persen atau sekitar 188.533 balita.

Pembangunan jamban dan penyediaan akses air bersih menjadi konsentrasi kami untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (22/4/2026)

Musim Pancaroba, Mohammad Saleh Ajak Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan dan Jaga Kesehatan

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kesehatan di tengah kondisi cuaca pancaroba yang berpotensi memicu berbagai penyakit.

Menurut dia, perubahan cuaca yang tidak menentu seperti hujan yang datang tiba-tiba disertai panas terik, dapat berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh. Kondisi ini membuat masyarakat lebih rentan terserang penyakit, seperti flu, demam, hingga infeksi saluran 

“Masa pancaroba seringkali membuat kondisi tubuh mudah menurun. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada dan menjaga kesehatan,” ujar Saleh dalam keterangannya di Semarang.

Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan bergizi, cukup istirahat, serta rutin berolahraga. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya penyakit.

Saleh juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi penyakit yang berpotensi meningkat saat pancaroba, seperti demam berdarah akibat berkembangnya nyamuk di lingkungan yang kurang bersih.

“Pastikan lingkungan tetap bersih, tidak ada genangan air, dan lakukan upaya pencegahan seperti 3M untuk menghindari penyakit,” tegas Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.

Selain aspek kesehatan, ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang kerap terjadi saat pancaroba, seperti angin kencang, hujan lebat, hingga pohon tumbang.

Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat sangat penting untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan akibat kondisi cuaca ekstrem. Dia berharap, masyarakat dapat lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan, sehingga dampak negatif dari masa pancaroba dapat diminimalkan.

“Dengan menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan, kita bisa melewati masa pancaroba dengan aman,” pungkas Mohammad Saleh.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masa pancaroba di Jawa Tengah masih menyimpan potensi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai masyarakat. Meskipun intensitas hujan mulai menurun, ancaman hujan lebat belum sepenuhnya hilang dalam beberapa hari ke depan.

BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak terkecoh dengan cuaca panas terik yang terjadi sejak pagi hingga siang hari. Pada periode transisi ini, pemanasan yang kuat di siang hari justru seringkali menjadi pemicu terbentuknya awan konvektif yang membawa hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sore hari.

Mohammad Saleh Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Contoh Tata Kelola Yang Baik

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh mendorong Koperasi Merah Putih tidak hanya berkembang secara kuantitas, tapi juga menjadi contoh dalam penerapan tata kelola yang baik dan profesional.

Ia menilai, pengelolaan yang transparan dan akuntabel menjadi kunci agar koperasi mampu berperan optimal dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.

Menurut Saleh, koperasi memiliki potensi besar dalam memperkuat kemandirian ekonomi warga, khususnya di tingkat desa dan kelurahan. Namun, potensi tersebut harus diiringi dengan sistem manajemen yang tertib dan berintegritas.

“Koperasi Merah Putih harus mampu menjadi contoh tata kelola yang baik. Dengan pengelolaan yang profesional, koperasi bisa memberikan manfaat nyata bagi anggotanya,” katanya.

Ia menegaskan, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah simpan pinjam, tetapi juga dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, dari 8.523 koperasi berbadan hukum, sebanyak 5.887 koperasi telah memetakan lokasi pembangunan gedung. Dari jumlah tersebut, 5.503 unit dalam tahap pembangunan dan 1.456 unit telah selesai 100 persen.

Meski mengapresiasi capaian tersebut, Saleh mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus diimbangi dengan penguatan kelembagaan dan kualitas pengelolaan.

“Jangan hanya fokus pada pembangunan gedung, tetapi pastikan koperasi berjalan aktif dengan manajemen yang baik dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keterlibatan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dalam berbagai program strategis pemerintah, seperti penyediaan kebutuhan dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, ratusan koperasi telah bekerja sama dengan Perum Bulog dalam program Gerakan Pangan Murah dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp9,5 miliar, serta berperan dalam menjaga stabilitas pasokan pangan menjelang Lebaran.

Menurutnya, keterlibatan tersebut menjadi indikator bahwa koperasi yang dikelola dengan baik mampu berperan strategis, tidak hanya dalam menguatkan ekonomi masyarakat tetapi juga sebagai mitra pemerintah.

“Ini bukti bahwa koperasi dengan tata kelola yang baik bisa menjadi penguat ekonomi warga sekaligus mitra strategis pemerintah,” ujarnya.

Saleh berharap pemerintah daerah terus memberikan pendampingan dan fasilitasi, baik dari sisi manajemen, permodalan, maupun akses pasar. Dengan dukungan tersebut, Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi model tata kelola koperasi yang sehat dan berkelanjutan di Jawa Tengah.

“Jika dikelola dengan baik dan didukung secara maksimal, koperasi Merah Putih akan menjadi contoh sekaligus kekuatan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Mohammad Saleh Ajak NU Konsisten Kawal Pembangunan Jateng

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh meminta organisasi Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus konsisten dalam mengawal berbagai program pembangunan yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Jateng. 

Menurut dia, keterlibatan organisasi kemasyarakatan sangat penting dalam memperkuat sinergi guna mewujudkan pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan.

Saleh menegaskan, peran NU, khususnya melalui PWNU Jawa Tengah, diharapkan tidak hanya sebatas dukungan moral, tapi juga terlibat aktif dalam berbagai sektor strategis. 

Ia menyebut bahwa kontribusi NU dapat mencakup bidang pendidikan, keagamaan, sosial, ekonomi, hingga sektor-sektor lainnya yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Organisasi seperti NU memiliki basis yang kuat hingga ke tingkat akar rumput. Ini menjadi potensi besar untuk memastikan program pemerintah daerah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya usai acara Halalbihalal Ngumpulke Balung Pisah Warga NU se-Jateng di Hotel Pandanaran Semarang, Minggu (19/4/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah, dan Ketua PWNU Jateng Abdul Ghaffar Rozin.

Dirinya menilai, salah satu program yang menjadi sorotan adalah Pesantren Obah, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memperkuat pendidikan berbasis keagamaan. Program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan kualitas pendidikan pesantren, tetapi juga menyediakan fasilitas beasiswa kuliah ke luar negeri bagi para santri. 

Selain itu, terdapat pula insentif bagi guru agama serta para penghafal Al-Qur’an sebagai bentuk apresiasi terhadap peran mereka dalam membangun karakter bangsa.

Di sektor ekonomi, Saleh juga menyoroti pentingnya pemberdayaan pondok pesantren. Ia berharap PWNU Jateng dapat ikut mengawal program-program pemberdayaan ekonomi tersebut, mengingat banyaknya pesantren yang berada di bawah naungan organisasi tersebut.

“Peran NU sangat strategis karena memiliki jaringan pesantren yang luas. Ini bisa menjadi motor penggerak dalam meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis komunitas,” imbuh dia,

Saleh menilai, sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, NU bersama para kiai, ulama, dan santri dinilai memiliki peran sentral dalam membentuk karakter bangsa. 

“Sinergi antara pemerintah dan NU diharapkan dapat terus diperkuat demi mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” kata Ketua DPD Golkar Jateng itu.

Mohammad Saleh Apresiasi Tingginya Kunjungan Di Perpusda Jateng 2025

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh mengapresiasi tingginya angka kunjungan Perpustakaan Daerah Jateng sepanjang tahun 2025 yang mencapai 4,3 orang.

Ia menilai capaian tersebut menjadi indikator positif meningkatnya minat baca dan literasi masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus), jumlah kunjungan Perpustakaan Daerah Jateng sepanjang 2025 tercatat mencapai 4.377.263 orang. Dari total itu, sebanyak 4.255.124 pengunjung datang langsung ke perpustakaan, sementara 122.139 lainnya memanfaatkan layanan digital melalui platform dan aplikasi iJateng.

Angka kunjungan itu bahkan telah melampaui target yang ditetapkan, yakni 3.120.000 kunjungan. Rata-rata kunjungan bulanan berkisar antara 200.000 hingga 400.000 orang, dengan puncak kunjungan terjadi pada Juli sebanyak 695.428 orang dan Agustus 568.886 orang.

“Ini capaian yang sangat baik dan patut diapresiasi. Tingginya kunjungan menunjukkan bahwa minat literasi masyarakat Jawa Tengah terus meningkat,” ujar Mohammad Saleh.

Meski demikian, dia menekankan bahwa capaian tersebut harus diikuti dengan upaya berkelanjutan untuk semakin menggeliatkan aktivitas literasi di masyarakat. Menurutnya, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang edukasi dan pengembangan kreativitas.

“Perpustakaan harus terus dihidupkan dengan berbagai kegiatan, seperti diskusi, pelatihan, hingga kegiatan kreatif lainnya agar semakin menarik minat masyarakat,” tegas Saleh.

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk memperluas akses literasi hingga ke daerah-daerah, termasuk melalui penguatan perpustakaan desa dan layanan digital. Dengan demikian, masyarakat di berbagai wilayah dapat merasakan manfaat yang sama.

Selain itu, Saleh menilai pemanfaatan platform digital seperti iJateng perlu terus dikembangkan untuk menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi.

Ia berharap, dengan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, budaya literasi di Jawa Tengah dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Literasi adalah fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Jika literasi kuat, maka kualitas masyarakat juga akan meningkat,” ucap Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.

Produksi Ikan Jateng Berlimpah, Mohammad Saleh Usulkan Olahan Ikan Jadi Menu MBG

SEMARANG (lensasemarang.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh, mendorong pemanfaatan hasil perikanan daerah untuk diolah menjadi bagian dari menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan konsumsi protein masyarakat sekaligus menyerap hasil produksi nelayan dan pembudidaya ikan.

Menurut dia, Jateng memiliki potensi besar di sektor perikanan yang perlu dioptimalkan, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga pengolahan dan distribusinya agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Produksi ikan kita melimpah. Ini harus dimanfaatkan, salah satunya dengan memasukkan olahan ikan ke dalam menu MBG agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” ujar Saleh.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perikanan, Jateng mencatat capaian signifikan di sektor perikanan dengan total produksi ikan mencapai 965.555 ton pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, perikanan budidaya menyumbang 554.810 ton, sementara perikanan tangkap mencapai 410.745 ton.

Selain itu, nilai ekonomi dari hasil perikanan tangkap tercatat mencapai Rp6,19 triliun, yang berasal dari pelabuhan perikanan di berbagai daerah, baik milik Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemprov, maupun pemerintah kabupaten/kota.

Saleh menilai, tingginya produksi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan sektor hilir, termasuk pengolahan hasil perikanan menjadi produk yang siap konsumsi dan bernilai tambah. Menurutnya, keterlibatan pelaku UMKM dalam pengolahan ikan juga perlu didorong.

“Tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi harus diolah menjadi produk yang lebih variatif dan bernilai ekonomi tinggi,” tegas Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.

Ia menambahkan, pemanfaatan olahan ikan dalam program MBG juga dapat menjadi solusi untuk meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, karena kandungan protein ikan yang tinggi dan baik untuk pertumbuhan.

Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi membantu menjaga stabilitas harga ikan di tingkat nelayan, karena adanya kepastian pasar dari program pemerintah. Menurutnya, ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperbaiki kualitas gizi masyarakat.

Saleh berharap pemerintah daerah dapat mendorong sinergi antara sektor perikanan, pelaku usaha, dan penyelenggara program MBG agar pemanfaatan hasil perikanan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Jika dikelola dengan baik, sektor perikanan tidak hanya kuat secara produksi, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi dan sosial yang besar,” pungkasnya.